<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305</id><updated>2012-01-25T10:35:19.188-08:00</updated><title type='text'>kapur tulis</title><subtitle type='html'>...berfikir tiada akhir...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>82</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-1940768066674850168</id><published>2009-04-23T14:23:00.000-07:00</published><updated>2009-04-24T01:23:24.217-07:00</updated><title type='text'>SenCity, Bikin Tunarungu Mendengar Musik</title><content type='html'>Apa yang terlintas dalam benak ketika membaca “SenCity?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sensitivitas? Kota? Kelompok musik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau sejenis komedi situasi Seinfeld yang dibintangi Jerry Seinfeld?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal itu juga terlintas dalam benak saya sepintas. Bayangan yang muncul sebelum dua orang teman saya menjelaskan maksud kata tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua teman saya itu sekarang tinggal di Finlandia. Salah seorang di antaranya pernah bertandang ke Indonesia, saat saya berbincang sebentar dengannya di sebuah tanah lapang beberapa tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka saat ini sedang bersiap untuk menggelar SenCity buat yang kedua kalinya diadakan di Finlandia pada sebuah klub malam di kota bernama Jyväskylä, 25 April 2009.  SenCity rupanya adalah sebuah aktivitas seni pertunjukan yang melibatkan orang-orang dengan gangguan pendengaran, tunarungu, dan orang-orang dengan pendengaran normal dalam satu ruangan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya SenCity digelar di sebuah klub malam atau diskotik. Kehadiran disc jockey mumpuni yang tidak sekedar paham bagaimana teknik menyajikan irama leng-geleng-geleng-geleng-geleng-geleng-geleng-geleng sangat dibutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pertunjukan ketika emosi dan gairah musik dikonversikan ke sejumlah indera perasa. Semakin banyak indera perasa bisa menangkap gairah dan emosi musik tadi, sebanyak itu pula usaha dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena prinsipnya adalah menghilangkan kemustahilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melodi musik, mungkin saja tak diterima oleh orang tunarungu. Namun, emosi dan gairah yang tersebar dari musik pasti bisa ditangkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melakukan ini frekuensi sejumlah alat musik, seperti instrumen bass ditangkap dan diterjemahkan menjadi getaran di lantai. Bersamaan dengan itu, sejumlah grafis, video, penari-penari yang pakai bahasa isyarat, efek lampu, dan tak lupa berbagai aroma yang bisa terbaui jadi penanda tersebar luas di udara bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idenya adalah buat menyatukan orang-orang dengan pendengaran normal dan tunarungu dalam satu kegiatan yang menjiwa. Tujuannya supaya kedua kelompok bisa membentuk senyawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saling memahami, dan bekerja sama buat mewujudkan karya-karya luar biasa yang menembus batas-batas bagi manusia. Tembok-tembok yang sejatinya tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena prinsipnya adalah menghilangkan kemustahilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah SenCity.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang teman saya yang sempat berkunjung ke Indonesia tadi, hari-hari belakangan ini jadi makin sibuk. Ia jadi semacam ketupel (ketua panitia pelaksana..hehe) SenCity Finland 2009 yang sedianya digelar di sebuah klub malam bernama Night.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan teman saya yang satunya lagi, belum pernah saya berjumpa dengannya, bertanggung jawab buat urusan teknis. Posisinya mungkin bisa dipadankan dengan seksi akomodasi dan konsumsi serupa susunan kepanitian Peringatan HUT Kemerdekaan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pesan masuk dari teman-teman saya itu ke dalam kotak surat elektronik yang isinya mengingatkan soal acara tersebut. Mereka seperti ingin menggalang sebanyak mungkin hadirin dan hadirot untuk berpartisipasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SenCity yang kedua kalinya digelar di Finlandia itu merupakan bagian dari program yang digagas Skyway Foundation. Yayasan ini adalah bentuk lanjut dari sebuah kelompok yang menyelenggarakan acara bernama Deaf Valley dengan konsep serupa SenCity saat ini di sebuah klub bernama Nighttown di Rotterdam, Belanda, Maret 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Belanda dan Finlandia (yang akan jadi tuan rumah untuk kali kedua), Spanyol, Belgia, Amerika Serikat, Cile, Jamaika, dan Afrika Selatan pernah juga menggelar SenCity.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SenCity yang berada di bawah ‘asuhan’ Skyway Foundation yang dipimpin seorang muda bernama Ronald Ligtenberg, adalah salah satu proyek di antara sekian banyak program lain. Program atau proyek buat mensenyawakan kaum difabel atau yang oleh sebagian orang dianggap cacat, dengan orang-orang kebanyakan yang selama ini dipersepsikan sebagai normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain SenCity, ada pula proyek bernama SENS11. Ini adalah pertunjukan musik yang diperuntukkan bagi penderita gangguan mental dan mereka yang tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada proyek ini, setiap indera diberi semacam penanda. Metode ini memungkinkan setiap orang bisa mendapatkan pengalaman dan perasaan dari musik melalui emosi dalam musik yang diterjemahkan menjadi tanda-tanda tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ada juga proyek bernama Seeing the Unseen. Ini merupakan teknik fotografi yang dilakukan oleh orang-orang tunanetra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mustahil? Tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena prinsipnya adalah menghilangkan kemustahilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai tulisan ini dibuat, saya belum pernah menikmati pertunjukan di diskotik manapun. Seorang teman saya di masa SMA dulu pernah membawa saya ke sebuah diskotik ternama di Jakarta pada suatu ketika. Namun oleh penjaganya saya diminta keluar karena waktu itu saya hanya pakai sandal jepit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, setelah memahami penjelasan dua teman saya tadi, rasanya ingin juga menikmati pertunjukan di dalam sebuah klub malam atau diskotik. Tentu dengan kehadiran disc jockey mumpuni yang tidak sekedar paham bagaimana teknik menyajikan irama leng-geleng-geleng-geleng-geleng-geleng-geleng-geleng saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kepingin sekali merasakan emosi SenCity!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-1940768066674850168?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/1940768066674850168/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=1940768066674850168&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/1940768066674850168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/1940768066674850168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2009/04/sencity-bikin-tunarungu-mendengar.html' title='SenCity, Bikin Tunarungu Mendengar Musik'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-5944826942363077013</id><published>2008-11-05T05:20:00.000-08:00</published><updated>2008-11-05T05:32:46.913-08:00</updated><title type='text'>Majapahit Pahit</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SRGdvTvy7AI/AAAAAAAAAQs/hRQ6Qb-acNg/s1600-h/blog.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SRGdvTvy7AI/AAAAAAAAAQs/hRQ6Qb-acNg/s320/blog.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5265162875452976130" /&gt;&lt;/a&gt; Laju skuter bongsor dengan sistem transmisi otomatis Continously Variable Transmission yang saya kendarai mulai ajrut-ajrutan. Skuter keluaran terbaru buah pinjaman dari seorang rekan yang saya kendarai di siang bolong itu sedang melintasi areal luas tanah gersang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Areal tanah berdebu yang kontur medannya sungguh menantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah wilayah di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur yang dijadikan industri pembuatan batu bata rakyat.  Jalan setapak yang dibelah skuter pinjaman itu serupa yang biasa ditemukan di areal persawahan dan dibuat sebagai penanda setiap pematang sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedanya di areal luas tanah gersang itu, jalan tersebut tidak sengaja dibuat namun karena jalan itu terbuat secara “alami.” Terbuat karena areal kanan kirinya masing-masing sudah tergerus dengan kedalaman sekitar dua meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tergerus karena sejak puluhan tahun lalu masyarakat sekitar menggerusnya. Digali lebih dalam setiap hari untuk mengambil tanah sebagai pembuat batu bata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribuan orang. Tua, muda, laki-laki, dan perempuan. Semuanya berbaur dalam aktivitas menggali, mengaduk adonan tanah, mencetak bata, membakar, menjual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu saya baru saja usai mengunjungi sisa-sisa candi pemujaan zaman Majapahit di abad ke-13 yang tiba-tiba saja ditemukan seorang pembuat batu bata. Ceritanya, seperti puluhan tahun sebelumnya, si pembuat batu bata itu tengah menggali tanah untuk bahan pembuat batu bata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selagi asyik menggali, matanya kemudian tertuju pada batu bata berelief yang tersembul. Ia melapor pada yang berwenang, dan sejumlah orang pun berdatangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kawasan yang dipercaya dan nyaris dipastikan jadi pusat Kerajaan Majapahit, wilayah seluas 11x9 kilometer persegi di Kecamatan Trowulan memang kaya akan temuan benda-benda sejarah. Temuan si pembuat batu bata tadi bukan yang pertama kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sudah temuan bersejarah sisa-sisa zaman Majapahit diungkap dari kawasan itu. Lebih tak terhitung lagi sejumlah temuan lain yang tidak dilaporkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karena berbagai sebab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selagi asyik ajrut-ajrutan di atas sadel yang saya bagi dengan seorang kawan, sepasang bola mata tertuju pada gundukan tanah memanjang yang dipisahkan jarak hampir satu meter dari dasarnya. Mata saya tertumbuk pada susunan batu yang tersembul dari irisan gundukan tanah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dekati. Benar saja, itu susunan atau biasa dibahasakan sebagai struktur batu bata kuno peninggalan zaman Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk batu batanya yang berukuran “raksasa” jadi pembeda dengan batu bata zaman kini. Struktur batu bata kuno yang tersaji jelas dalam ilustrasi foto tulisan ini seakan ingin berteriak memanggil rekan-rekan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekan seperjuangan yang sudah lebih dulu dijadikan adonan tanah guna membuat batu bata masa kini. Struktur batu bata kuno yang hilang karena ikut tergali dalam upaya mencari bahan baku pembuatan batu bata di masa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh dari tempat struktur batu bata kuno tadi tersembul, berdiri tumpukan batu bata yang sudah dicetak. Siap dibakar untuk kemudian dijual. Seperti sebuah ritual peremajaan atau daur ulang yang dianggap biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekira setengah jam sebelumnya, sekitar lima meter dari lokasi penemuan candi pemujaan zaman Majapahit di atas, saya juga sempat masygul. Pada titik itu, tepat di balik alas kaki yang saya kenakan ada pula struktur candi dari batu bata kuno ukuran “raksasa” tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang membuat saya keki adalah, tepat di atasnya, berdiri tempat pembakaran batu bata dari usaha pembuatan batu bata masa kini sebelum dijual. Di kanan dan kirinya, sejumlah orang juga tak acuh dan terus menggali dan menggali lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Pusat Penelitian dan Pengembangan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Puslitbang Budpar), tak kurang 6,2 hektar lahan di kawasan situs Trowulan hancur tiap tahun. Rusak karena digali tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sih, di satu sisi bisa mafhum. Pasalnya hal itu berkaitan dengan kepentingan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika orang-orang di kawasan itu tidak membuat batu bata, nyaris tak ada lagi yang bisa diandalkan sebagi gantungan hidup. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI yang saya gedor-gedor soal ini pun memilih angkat tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara tidak punya cukup uang untuk membebaskan seluruh lahan di kawasan itu dan mencarikan mata pencaharian pengganti bagi para pembuat batu bata. Penyelamatan aset sejarah Majapahit dilakukan bertahap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah pernyataan gaya “siraman es teh” dari sang Menteri buat mendinginkan rongga dada saya yang menggelegak di siang menggantang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya lagi penasaran. Apakah rumah yang saya diami, dan sedang saya lunasi dengan cara mencicil lewat kredit perbankan ini mengandung pula sisa-sisa peninggalan zaman Majapahit tadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih sekitar delapan tahun sebelum hutang saya pada sebuah bank yang menjalankan fungsi intermediasinya berdasarkan prinsip syariah itu lunas. Tapi, saya yakin, peninggalan sejarah Majapahit di Trowulan tidak punya waktu sepanjang itu sebelum menghilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lenyap, jadi batu bata di rumah anda!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-5944826942363077013?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/5944826942363077013/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=5944826942363077013&amp;isPopup=true' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/5944826942363077013'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/5944826942363077013'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/11/majapahit-pahit.html' title='Majapahit Pahit'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SRGdvTvy7AI/AAAAAAAAAQs/hRQ6Qb-acNg/s72-c/blog.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-571745116386089585</id><published>2008-10-12T09:06:00.000-07:00</published><updated>2008-10-16T05:10:52.795-07:00</updated><title type='text'>Sudahkah Amanah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SPIiRVkp_sI/AAAAAAAAAQU/7MFv7b7aymA/s1600-h/blog.JPG"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SPIiRVkp_sI/AAAAAAAAAQU/7MFv7b7aymA/s320/blog.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5256301396338802370" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Nyaris dua pekan sudah Idul Fitri 1429 Hijriah lewat. Setelah dua pekan itu, saya buka-buka lagi isi pesan singkat di telepon genggam saya. Melihat-lihat lagi siapa pengirim dan isi pesan di seputar Lebaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu pesan menarik perhatian saya. Pesan pendek itu berasal dari KH Salahuddin Wahid atau sering disapa Gus Solah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan singkat itu merupakan balasan dari pesan yang sebelumnya saya kirimkan. Kata Gus Solah yang adik kandung KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur itu begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih untuk silaturrahim. Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga puasa membuat kita lebih amanah, lebih manusiawi dan lebih peduli terhadap sesama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menduga, harapan agar puasa bisa membuat kita menjadi lebih manusiawi, sedikit dilatarbelakangi pengalaman Gus Solah sebagai mantan Ketua Komnas HAM. Adapun perihal kepedulian, mungkin saja sedikit dipengaruhi tanggung jawab Gus Solah saat ini sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang, sejak tiga tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan harapan agar puasa bisa membuat kita menjadi amanah, saya punya analisa Gus Solah tengah gelisah soal betapa banyaknya pemimpin di negeri ini yang tidak amanah. Pemimpin-pemimpin kelas nasional yang sehari-hari tentu banyak ditemuinya. Para pemimpin yang bahkan berasal dari lingkungan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Sosok pemimpin yang amanah bisa diartikan sebagai orang yang punya keahlian atau kemampuan. Jujur dan bisa diterima secara luas.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Soalnya setiap pemimpin punya amanat yang diemban dan mesti ditunaikannya. Amanat identik dengan tanggung jawab.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Secara singkat, pemimpin yang amanah adalah yang bisa dipercaya. Mampu mempertanggungjawabkan seluruh kata-kata dan tindakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang diharapkan Gus Solah dari puasa tahun ini. Harapan saya juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan bagi para pemimpin. Harapan bagi kita semua. Karena setiap orang, adalah pemimpin setidaknya bagi diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah saya, anda, atau kita semua menjadi orang yang amanah pada tahun ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Lebaran dirayakan. Sesudah THR dan ketupat lewat? Seusai berpuasa satu bulan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya belum.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-571745116386089585?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/571745116386089585/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=571745116386089585&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/571745116386089585'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/571745116386089585'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/10/sudahkah-amanah.html' title='Sudahkah Amanah'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SPIiRVkp_sI/AAAAAAAAAQU/7MFv7b7aymA/s72-c/blog.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-5967396679392568239</id><published>2008-09-30T08:36:00.000-07:00</published><updated>2008-09-30T09:45:10.926-07:00</updated><title type='text'>Pengadilan Menyesatkan</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SOJIgJKYDmI/AAAAAAAAAP0/Mi8SImyjZM0/s1600-h/blog.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SOJIgJKYDmI/AAAAAAAAAP0/Mi8SImyjZM0/s320/blog.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251839832519872098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Akhirnya, saya punya kesempatan melongok &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;blog&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; ini. Baru saya tersadar, lebih dari sebulan saya tak acuhkan halaman ini.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Yah, bukan tanpa sebab, karena lebih sebulan didera kesibukan. Sebagian besar penyebabnya bersinggungan langsung dengan judul tulisan ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pengadilan menyesatkan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pusing, karena orang yang tampil di foto ini sebagai terdakwa pembunuh semestinya tidak dihadirkan untuk didakwa. Nama terdakwa ini Maman Sugianto alias Sugik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Umurnya belum genap 30 tahun. Ia punya seorang istri dan satu orang putri mungil.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ia dihadirkan jadi terdakwa karena diduga ikut membunuh Moh. Asrori. Moh. Asrori, sebelumnya diidentifikasi polisi sebagai jenazah Mr. XX yang ditemukan di sebuah kebun tebu di Dusun Bra'an Desa Ban&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;darkedungmulyo, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Jombang, pada 29 September 2007.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Belakangan, berdasarkan uji DNA, jenazah Moh. Asrori adalah yang ditemukan di pekarangan belakang rumah orangtua Very Idam Henyansyah alias Ryan dan sempat dinyatakan sebagai mayat Mr. X. Ryan pun mengaku membunuh Asrori. Lalu, dari tes DNA pula diketahui jenazah Mr. XX adalah Fausin Suyanto, seorang warga Nganjuk yang dilaporkan hilang setahun lampau. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ah, ini salah satu keping &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;puzzle&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; yang sempat saya singgung lebih sebulan lalu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dari fakta itu saja, Sugik jelas bukan terdakwa yang tepat dihadirkan ke persidangan. Bahasa hukumnya telah terjadi &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;error in persona. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Orang yang ditarik sebagai terdakwa tidak tepat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Cerita disertakannya Sugik ke persidangan berawal dari pengakuan dua terpidana, Imam Hambali alias Kemat dan Devid Eko Prianto, saat persidangan mereka akan memasuki agenda vonis. Sugik diseret ke persidangan secara tiba-tiba hanya bedasarkan pengakuan yang tidak diperiksa silang bukti keterlibatannya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kemat dan Devid kini sedang menjal&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;ani hukuman 17 tahun dan 12 tahun di Lembaga Pemasyarakatan Jombang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Vonis Pengadilan Negeri Jombang pada 8 Mei 2008 memutuskan mereka adalah pelaku pembunuh jenazah Mr. XX. Berita acara pemeriksaan (BAP) polisi dengan "meyakinkan" menunjukkan Kemat dan Devid sebagai pembunuh Mr. XX yang sebelumnya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;diidentifikasi polisi berdasarkan pengakuan keluarga adalah Moh. Asrori.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dari pengakuan Kemat dan Devid, tanpa alat bukti yang mendukung, Sugik diajukan ke persidangan sebagai terdakwa ketiga. Belakangan Sugik dan Devid mengaku disiksa habis-habisan untuk memenuhi BAP polisi yang akan dijadikan dasar bagi Jaksa Penuntut Umum mengajukan dakwaan dalam persidangan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dari salinan &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;visum et repertum&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; yang bisa diperoleh diam-diam, tak disebutkan luka atau trauma bekas pukulan benda keras pada jenazah Mr. XX yang ditemukan di kebun tebu. Padahal&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;, Sugik didakwa karena perannya memukul &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;bagian belakang kepala korban dengan kayu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dari informasi di lapangan, pertarungan politik berebut kekuasaan di tingkat desa juga jadi salah satu sebab diajukannya Sugik jadi terdakwa. Kisah singkatnya, Sugik yang jadi tim sukses &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;salah seorang calon yang akhirnya sukses betulan jadi "pemimpin" desa, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;rupanya sudah "d&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;iincar" &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;oleh calon dan tim sukses yang tidak sukses alias kalah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dendam membara dan sakit hati tak terkira berujung pada pembalasan tiada tara. Fitnah pun merajalela.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kembali pada teknis persidangan yang menyesatkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pada dakwaan pertama, disebutkan dengan yakin Kemat adalah orang yang memiliki dan menyopir minibus Suzuki Carry warna biru untuk menjemput korban. Pada surat dakwaan bagi Sugik, karena ia baru diajukan ke persidangan usai vonis bagi Kemat dan Devid dijatuhan, disebutkan Sugik adalah yang berperan sebagai sopir.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Rupa-rupanya JPU telah menyadari "kehebatan" mereka. Karena, berdasarkan cerita sejumlah anggota keluarga, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;sekalipun memiliki mobil Kemat sungguh tidak bisa menyetir. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Bahkan, demi kepentingan sat rekonstruksi, ada seorang polisi yang mengajari terlebih dahulu Kemat agar bisa menyopir mobil," kata salah seorang anggota keluarga Kemat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tapi, paling hebat dari seluruh kesesatan itu adalah penyangkalan terhadap hasil uji DNA. Tes yang akhirnya memastikan Mr. X sebagai Moh. Asrori dan Mr. XX sebagai Fausin Suyanto.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kemat, Devid, dan Sugik diajukan ke persidangan dan divonis serta dijadikan terdakwa karena diyakini membunuh Mr. XX yang dalam dakwaan JPU disebutkan sebagai Moh. Asrori. Majelis hakim yang mulia pun menyebutkan Kemat dan Devid sebagai pembunuh Moh. Asrori, atau jenazah Mr. XX yang ditemukan di kebun tebu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Padahal Mr. XX &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;adalah Fausin Suyanto. Kemat, Devid, dan Sugik tidak tahu menahu siapa itu Fausin yang hingga kini pembuhnya masih misterius.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak hakim dan pak jaksa bergeming soal hasil uji DNA.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kitab undang-undang hukum acara pidana atau KUHAP adalah yang berulangkali disebutkan pak hakim sebagai dasar melakukan persidangan, saat berulangkali saya tanyakan itu. Jadi, hingga saat ini persidangan terhadap terdakwa Sugik masih terus berlangsung.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Saksi-saksi terus dipanggil. Adu argumentasi selaksa debat kusir dan pertanyaan-pertanyaan bodoh memekakkan sepasang telinga tiap kali persidangan digelar pada Kamis tiap minggunya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Nasib Kemat dan Devid yang kini menanti dari balik bui tergantung pada sebuah proses bernama Peninjauan Kembali atau PK. Lewat keputusan Mahkamah Agung, Kemat dan Devid kini berharap terbebas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kurang dari setengah jam saat saya menaruh tanda baca titik di akhir tulisan ini, 1 Syawal 1429 Hijriah datang menjelang. Saya harap, ini jadi bulan pencerahan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Selamat Lebaran! Mohon maaf lahir dan batin!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-5967396679392568239?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/5967396679392568239/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=5967396679392568239&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/5967396679392568239'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/5967396679392568239'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/09/pengadilan-menyesatkan.html' title='Pengadilan Menyesatkan'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SOJIgJKYDmI/AAAAAAAAAP0/Mi8SImyjZM0/s72-c/blog.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-4104870947266837472</id><published>2008-08-08T13:08:00.001-07:00</published><updated>2008-08-10T02:15:29.764-07:00</updated><title type='text'>Kejutan Ryan</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SJyoKUC4aCI/AAAAAAAAAPs/B-PDz_7Yce4/s1600-h/20080721INK-t%28untuk+nasional%29.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5232241762230626338" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SJyoKUC4aCI/AAAAAAAAAPs/B-PDz_7Yce4/s320/20080721INK-t%28untuk+nasional%29.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Saya seperti sedang menghadapi &lt;em&gt;puzzle &lt;/em&gt;raksasa dengan banyak sekali bagian-bagiannya masih dipegang orang-orang lain dalam tiga pekan ini. Adalah manusia bernama Very Idam Henyansyah (versi kartu keluarga) atau Very Idam Henyansah (versi akte kelahiran) alias Ryan alias Yansyah yang memiliki &lt;em&gt;puzzle &lt;/em&gt;raksasa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Sebagai pemilik, tentu Ryan memegang sebagian besar bagian, atau bahkan mungkin semua, &lt;em&gt;puzzle &lt;/em&gt;raksasa tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Mutilasi jenazah bernama Heri Santoso di apartemen Margonda Residence Nomor 309A Blok C di Depok menjadi sajian pertama bagian &lt;em&gt;puzzle &lt;/em&gt;yang hilang. Selanjutnya, kejutan demi kejutan datang dari tempat bernama Kabupaten Jombang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;1,5 jam naik mobil atau motor ke arah barat daya Kota Surabaya dengan jarak sekitar 80 kilometer, kita sudah bisa sampai di jantung kota Jombang. Rumah orangtua Ryan yang jadi lokasi p&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;embunuhan sekaligus pekuburan, masih harus ditambah jarak sekitar 15 kilometer lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Rumah orangtua Ryan di Dusun Maijo, Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, adalah salah satu bagian besar &lt;em&gt;puzzle&lt;/em&gt; raksasa yang kemudian saya temukan. Pertama kali tiba sebelum dimulainya penggalian tahap perdana, belum ada ribuan pengunjung yang datang, pedagang-pedagang yang bersliweran, atau tukang-tukang parkir dadakan yang hilir mudik mengarahkan setiap kendaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Dusun itu masih senyap. Pekarangan belakang rumah orangtua Ryan pun masih dikelilingi pohon-pohon bambu dengan vegetasi rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Garis pembatas polisi berwarna kuning dibentangkan. Satu hari sesudahnya dimulailah penggalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Polisi berang. Soalnya dari rencana awal mencari satu jenazah, berdasarkan pengakuan Ryan, bernama Ariel Somba Sitanggang ternyata ada jenazah-jenazah lain dalam satu liang itu. Totalnya ada tiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Ryan pun diinterogasi lagi, sebelum akhirnya digali liang kedua. Total ada empat jenazah yang berhasil ditemukan hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Seminggu sesudahnya, penggalian dilakukan lagi. Kali ini hasilnya lebih heboh. Enam jenazah ditemukan di lima liang kubur berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Lebih bikin pening, Ryan lupa siapa jenazah kesebelas yang ditemukan. Jenazah itu diberi nama Mr. X oleh polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Sejak kali pertama tiba hingga saat ini, segenap upaya saya fokuskan untuk menemukan bagian-bagian yang masih hilang dan tersembunyi tadi. Saya datangi SD, SMP, dan SMA tempat dulu Ryan bersekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Hasilnya, Ryan anak yang punya tingkat kecerdasan di atas rata-rata. Salah satu ciri yang menonjol dari seorang psikopat adalah kecerdasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Saya temui sejumlah sahabatnya. Saya datangi berbagai lingkungan pergaulan tempat Ryan meninggalkan jejaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Ada tempat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fitness &lt;/span&gt;yang pemiliknya masygul karena Ryan dipersepsikan sebagai instruktur walaupun pada kenyataannya Ryan hanyalah seorang anggota yang sering berbohong, kedapatan pernah mencuri, dan memiliki jejak rekam yang buruk. Ada salon potong rambut, yang pemiliknya sangat kecewa  karena Ryan juga dianggap jadi pegawai, walaupun pada kenyataannya Ryan hanyalah tenaga magang yang kemudian pergi tanpa pesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Ada pondok pesantren yang diakui Ryan sebagi tempat asalnya dan sangat membuat marah para pengasuh pondok pesantren itu. Ada sejumlah tempat kerja korban-korban Ryan, mulai dari rumah makan hingga koperasi yang saya sambangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Ada keluarga-keluarga orang hilang yang saya datangi dan mengaku kenal Ryan, bersaksi bahwa Ryan adalah sosok yang sangat halus, pandai meyakinkan orang, berbudi pekerti tinggi, dan sangat perhatian. Belakangan, berdasarkan uji DNA, sejumlah jenazah yang ditemukan dipastikan anggota keluarga-keluarga orang hilang yang sempat saya temui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Saya larut dalam kesedihan. Apalagi ketika pemeran pengganti pasangan ibu dan anak dihadirkan polisi saat penggalian kedua, untuk sedikit menunjukkan bagaimana Ryan menghabisi Nanik Hidayati dan putrinya Sylvia Ramadani Putri yang baru berusia tiga tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Pemeran pengganti itu menunjukkan bagaimana ia dan anak kecil tadi dibawa ke bagian belakang rumah orangtua Ryan, sebelum ia dihabisi dan dikubur Ryan. Saya melihat ada adegan dimana Ryan menggendong anak kecil yang jadi pemeran pengganti, dan bocah kecil itu spontan menangis sejadi-jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Beberapa jam sesudah penggalian, jenazah ibu dan anak itu ditemukan dalam posisi telentang dan saling bertumpukan. Sang ibu menghadap ke utara, si anak menghadap ke selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Saya geram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Belakangan makin banyak keluarga orang hilang yang sama temui dan setelah dirunut, punya sejumlah hubungan silang dengan Ryan. Saya berdoa, semoga itu hanya sekedar hubungan silang dari berbagai faktor yang mengaitkan, dan sungguh berharap anggota keluarga mereka yang hilang segera kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Bukan menjadi korban Ryan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soalnya polisi pun tidak menutup kemungkinan masih ada korban-korban selain empat jenazah yang sudah ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Hingga tiga minggu ini, motif utuh, apalagi kelengkapan bagian-bagian &lt;em&gt;puzzle &lt;/em&gt;raksasa belum saya ketahui. Paling nyata adalah motif ekonomi. Soalnya, saat hilang dan sebelum ditemukan telah menjadi jenazah, hampir semua korban Ryan tengah membawa uang atau barang-barang berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Karena Ryan adalah pemuda tanpa pekerjaan jelas yang punya gaya hidup dan selera membubung tinggi. Ryan seperti hidup dalam dunianya sendiri, dimana ia merasa seolah-olah menjadi selebritis, pengusaha sukses, orang kaya, semenjak lepas dari bangku SMP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Sepertinya, saya masih memerlukan lebih banyak waktu menemukan bagian-bagian tersembunyi dari &lt;em&gt;puzzle&lt;/em&gt; raksasa ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-4104870947266837472?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/4104870947266837472/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=4104870947266837472&amp;isPopup=true' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/4104870947266837472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/4104870947266837472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/08/kejutan-ryan.html' title='Kejutan Ryan'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SJyoKUC4aCI/AAAAAAAAAPs/B-PDz_7Yce4/s72-c/20080721INK-t%28untuk+nasional%29.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-5215141513588464831</id><published>2008-07-15T06:14:00.000-07:00</published><updated>2008-11-13T15:53:40.301-08:00</updated><title type='text'>Kerabat Sahabat</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SHy-c73Gc-I/AAAAAAAAAPk/eoveu8zL2qo/s1600-h/taman+safari2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5223259072157348834" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SHy-c73Gc-I/AAAAAAAAAPk/eoveu8zL2qo/s320/taman+safari2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Nyaris empat tahun lalu tidak ada seorangpun percaya saya bisa berlari lagi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bahkan, mungkin, tak ada seorangpun yang berani menaruh keyakinannya pada kemungkinan apakah saya bisa berjalan lagi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua aktivitas mendasar dari sebagian besar manusia yang sekarang ini terus saya nikmati dan syukuri sensasinya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Nyaris empat tahun lalu itu hidup saya yang biasa tiba-tiba seperti direnggut. Tanpa pemberitahuan secuilpun, saya menjadi korban kecelakaan lalu lintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motor yang saya kendarai nyaris terbelah jadi dua. Helm pelindung kepala hancur berserpihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkel kaki kanan saya lepas dari kedudukannya. Menjuntai. Tulang paha kanan saya hancur dan berserakan entah kemana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulang hasta dan tulang pengumpil tangan kanan saya patah dan menembus keluar kulit. Kepala sebelah kanan bocor tak beraturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu tanggal 5 Agustus 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motor bebek saya menghajar bagian depan sebuah mobil &lt;em&gt;pick up&lt;/em&gt; jenis Mitsubishi L-300. Peristiwa tabrakan itu saya perkirakan terjadi dalam kecepatan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak tahulah bagaimana persisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sampai hari ini saya hanya ingat kejadian beberapa saat sebelum peristiwa itu terjadi, ketika saya berhenti sebentar di pinggir jalan. Raungan sirene ambulan yang seakan mati dan hidup, karena kondisi tubuh saya yang tidak stabil, adalah ingatan pertama yang muncul berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam kantong darah segar bergolongan O masuk ke sistem pembuluh darah saya untuk menggantikan banyaknya darah punya saya yang keluar deras. Sekedar mengembalikan tekanan dan menstabilkan fungsi-fungsi organ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya, untuk yang pertama kali dalam hidup saya, sejumlah logam asing tahan karat berbentuk lempengan dengan lubang-lubang baut di sisi-sisinya mendekam dalam tubuh saya. Benda-benda berupa lempengan logam mengilat itu dibor dan ditempelkan dengan baut ke bagian tulang tersisa sebagai penyangga guna menunggu jaringan tulang baru tercipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, perjuangan sesungguhnya baru akan dimulai, dalam masa tujuh bulan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat tidur, kursi roda, tongkat kayu, tongkat besi, dan serangkaian terapi ortopedi yang melelahkan adalah hari-hari berikutnya. Kenapa saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah pertanyaan yang terus menggumpal dalam pikiran saya sepanjang hari-hari buntu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, saya punya keluarga dan sahabat-sahabat sejati. Merekalah yang mampu mengubah pertanyaan-pertanyaan yang saya miliki di seputar kecelakaan tragis itu dari “mengapa saya,” menjadi “kenapa bukan saya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, mengapa bukan saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka membangun semangat hidup saya lagi dengan beragam cara. Mulai dari pemberian buku-buku pencerah jiwa dan pembangkit motivasi, acara kumpul-kumpul dan &lt;em&gt;ngobrol &lt;/em&gt;yang tak kenal henti, hingga mendorong-dorong kursi roda dimana saya naik di atasnya serupa pereli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, mereka mengajak saya ke stadion sepak bola untuk menyaksikan pertandingan. Seolah-olah tak terjadi apa-apa dengan diri saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampaknya sungguh dahsyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaan diri saya bangkit. Paling penting, saya pulih lebih cepat dari catatan biasa kebanyakan penderita trauma serupa lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, mengapa bukan saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa saya (sebelumnya) bisa kecewa dan melarang kecelakaan tragis itu menimpa saya? Bukankah, saya sejatinya bukanlah pemilik tulang-tulang itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, apa hak saya untuk menuntut agar mereka terus menerus berada di tempatnya. Jika memang mereka, pada saat itu, dikehendaki buat diambil, bukan hak saya untuk merengek-rengek minta mereka dikembalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soalnya jelas. Tulang-tulang itu bukan punya saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulang-tulang itu bukan hak-hak saya yang harus saya tuntut dan perjuangkan mati-matian bila ada yang hendak merebutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu tulang-tulang itu sedang diambil, dan pasti akan diberi kembali jika memang dikehendaki. Maka, apa perlunya menyesali yang tak bisa dihindari dan menangisi yang tidak bisa dijalani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagipula, masih tak terhitung orang yang mengalami penderitaan jauh lebih hebat daripada saya ketika itu. Dan, mereka tidak mengeluh sehebat saya berkeluh saat pertama kali mendapat musibah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sekali lagi, sebelum sampai pada tahap kesadaran seperti itu saya butuh banyak sekali orang di sekeliling saya. Mereka yang mengembalikan semangat hidup dan kembali mengembalikan gelegak hidup saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga dan sahabat-sahabat sejati saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jika ditanya apa hal paling berharga dalam hidup? Saya dengan yakin, pasti akan menjawab, keluarga dan sahabat-sahabat yang saya miliki akan berada pada prioritas teratas hal berharga dalam kehidupan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jangan sekalipun bertaruh buat mengecewakan mereka. Maaf adalah kata pertama yang mesti diucap bila suatu ketika khilaf melanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya sudah bisa berlari dengan sempurna lagi. Lempengan-lempengan logam mengilat yang bautnya menancap dalam ke bagian-bagian tulang saya yang sebelumnya patah juga telah diangkat kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menaruh harap, anak saya pun akan bisa jadi orang yang diandalkan keluarga dan sahabat-sahabatnya. Juga memiliki sahabat-sahabat dan keluarga yang bisa diandalkannya pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerabat dan Sahabat. Mereka sangat istimewa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-5215141513588464831?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/5215141513588464831/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=5215141513588464831&amp;isPopup=true' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/5215141513588464831'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/5215141513588464831'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/07/kerabat-sahabat.html' title='Kerabat Sahabat'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SHy-c73Gc-I/AAAAAAAAAPk/eoveu8zL2qo/s72-c/taman+safari2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-6913987797159738791</id><published>2008-06-30T08:20:00.000-07:00</published><updated>2008-11-13T15:53:40.550-08:00</updated><title type='text'>Warisan Generasi</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SGj61InBxuI/AAAAAAAAAPc/MxuUEkCk9sU/s1600-h/65.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5217695959059908322" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SGj61InBxuI/AAAAAAAAAPc/MxuUEkCk9sU/s320/65.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ya, saya adalah generasi TVRI. Sebagian hidup saya, tumbuh bersama stasiun televisi pertama Indonesia yang siaran pertama kali sejak 1962 itu.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Saya mengakrabi serial Si Unyil, Oshin, Rumah Masa Depan, hingga Dunia Dalam Berita. Selain serial Si Unyil, pada hari Minggu saya juga kerap menonton paket acara musik bernama Album Minggu Kita.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Pada lain waktu, serial menggambar bersama almarhum Tino Sidin sangat saya akrabi. Meskipun, saya samasekali tidak bisa menggambar dan melukis, kelincahan tangan almarhum Tino Sidin waktu itu sangat saya kagumi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi serial Pak Tepong hingga Boneka Si Tongki buatan Gatot Sunyoto. Ditambah rupa-rupa serial kartun seperti Flash Gordon, Silver Hawks, hingga He-Man.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Masa-masa di sekitar tahun 1980-an itu saya bisa sangat menikmati rupa-rupa mata acara itu. Bukan melulu disebabkan saat itu hanya TVRI yang mengudara.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Namun, sejumlah acara tadi memang berhasil melarutkan saya seolah berkelana jauh ke dunia yang lain. Sebut saja Si Unyil, Rumah Masa Depan, dan almarhum Tino Sidin.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Meskipun pada akhirnya, saya tetap tak bisa menggambar apalagi melukis.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Apa yang membuat saya bisa nyaman menikmati televisi pada masa-masa itu baru saya temukan jawabannya dalam lima tahun terakhir ini. Pencipta tokoh-tokoh serial Si Unyil, Drs. Suyadi yang juga jadi pengisi suara tokoh Pak Raden di serial itu, sempat saya temui di kediamannya sekitar lima tahun silam. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Rumahnya sederhana. Banyak lukisan dan hasil-hasil karyanya dipajang begitu saja. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Beberapa di antaranya bahkan ada yang seperti belum selesai. Teronggok begitu saja di atas kanvas kusam. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Banyak kucing yang bersliweran di sela-sela obrolan kami. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dari perbincangan singkat itu, saya tahu Si Unyil adalah serial yang penuh konsep ideal. Karenanya, pemilihan tokoh dan karakter yang mengikutinya pun tidak asal-asalan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Ada semangat untuk menuntaskan tanggung jawab sebagai pembentuk sebuah generasi. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1989, RCTI untuk pertama kali mengudara. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Siarannya waktu itu belumlah gratis. Ada iuran yang harus dikutip dan sebuah alat bernama dekoder (decoder) yang harus dihubungkan ke televisi untuk bisa menerima siaran televisi swasta pertama itu. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tapi rupa-rupanya Bapak saya bergeming. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Mungkin pula, ia tak rela rumah yang dibangunnya dengan susah payah harus dipasangi pelat berbentuk persegi panjang bertuliskan “Pelanggan RCTI” di bagian depannya. Paling tidak, sepanjang ingatan saya, sejumlah tetangga dan kerabat saya menaruh pelat yang merusak estetika sebuah rumah itu di bagian atas kusen rumah mereka. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tapi, rupa-rupanya Bapak bukan takut pelat itu merusak keindahan rumah yang dirancangnya sendiri itu. Bapak saya lebih takut dampak siaran baru itu bagi perkembangan anak-anaknya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Siaran yang, waktu itu, belum teruji kualitas sejumlah mata acaranya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, saya selalu gembira bila libur sudah tiba. Soalnya itu berarti saya bisa nonton Knight Rider, MacGyver, Baa Baa Black Sheep, Ksatria Baja Hitam RX, Quantum Leap, Tour of Duty, hingga Misfits of Science. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Nontonnya dimana? Ya, di rumah saudara-saudara saya yang kusen di depan rumahnya dipasangi pelat berbentuk persegi panjang beruliskan “Pelanggan RCTI” tadi. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri beranggapan, serial-serial yang disiarkan RCTI pada masa-masa awalnya dulu itu merupakan produk mata acara yang lumayan punya kualitas. Artinya, mungkin saja mereka dibuat dengan semangat yang sama serupa ketika Drs. Suyadi membuat Si Unyil. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mungkin kualitas acara-acara itu jauh berbeda dibandingkan aneka adegan tampar-tamparan dan teriakan-teriakan yang saat ini hampir setiap waktu menyesaki layar-layar televisi kita.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, mungkin saja Bapak saya tidak mau ambil resiko waktu itu. Membiarkan anak-anaknya tenggelam dalam serial-serial asing yang belum diketahui apa misinya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Misi. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Itu pula yang membuat saya sempat tidak paham bagaimana jalan cerita dongeng Si Kancil. Kata teman-teman sebaya saya dulu, Si Kancil sangatlah cerdik. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Apalagi dalam “episode” saat Si Kancil mencuri ketimun Pak Tani. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tapi, saya tak pernah mendengar dongeng itu dari Bapak dan Emak Saya. Satu hal, yang dulu sangat tak saya pahami mengapa. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, setelah bertahun-tahun lewat, saya baru paham sebabnya. Setelah bertahun-tahun lewat, saya baru tahu kalau apa yang dilakukan Si Kancil sesungguhnya sangat terhina. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Menggunakan akalnya buat mengakali pihak lain. Ini, jauh dari pemahaman soal cerdik dan punya kecerdasan di atas rata-rata. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Culas, itu lebih tepat. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, praktik-praktik model begini lazim saya temui. Di kalangan manusia, bukan di komunitas kancil. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Jahat, itulah ungkapan paling tepat. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Apakah ini pengaruh dongeng Si Kancil, dan cerita-cerita lain yang diperdengarkan sedari kecil. Kisah-kisah yang dibacakan dengan tujuan mula-mula supaya menghibur. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Soalnya, Bapak dan Emak saya pernah dalam suatu waktu sangat bersemangat mengajari saya bernyanyi lagu “Balonku Ada Lima.” &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Lagu yang sebagian liriknya berbunyi begini, “Meletus balon hijau..Doorr..Hatiku sangat kacau..Balonku tinggal empat..Kupegang erat-erat.” &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya sangat serius. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sampai hari ini saya masih berjuang untuk tidak panik pada saat-saat genting. Atau berupaya untuk tidak limbung saat mesti kehilangan sesuatu. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara lagu yang saya sukai itu, secara tidak sadar, alam bawah sadar saya memerintahkan saya untuk “segera panik” segera begitu “satu balon” yang “saya miliki” tadi meledak. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Perintah untuk segera menjadi “kacau.” &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Padahal hanya satu balon saya yang meledak. Masih ada empat lagi dalam genggaman. Lagipula, tadinya balon-balon itu kan juga bukan milik saya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Lantas, kenapa mesti harus kacau? &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Lalu, ada lagi perintah untuk sesegera mungkin memegang erat-erat sisa empat balon selanjutnya. Seolah seekor lalat pun tak berhak hinggap di atas permukaannya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mengapa harus begitu? &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Bukankah hakikat hidup ini adalah berbagi? &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Pusing.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-6913987797159738791?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/6913987797159738791/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=6913987797159738791&amp;isPopup=true' title='15 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/6913987797159738791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/6913987797159738791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/06/warisan-generasi.html' title='Warisan Generasi'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SGj61InBxuI/AAAAAAAAAPc/MxuUEkCk9sU/s72-c/65.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-3154294497631378348</id><published>2008-06-29T05:58:00.000-07:00</published><updated>2008-11-13T15:53:40.782-08:00</updated><title type='text'>Diri Berbagi</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SGfrHlfaQoI/AAAAAAAAAPM/ojRgkOq67Yk/s1600-h/gaya1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5217397208887476866" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SGfrHlfaQoI/AAAAAAAAAPM/ojRgkOq67Yk/s320/gaya1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SGeHLoSz6SI/AAAAAAAAAPE/xoB6Ce155bE/s1600-h/gaya2.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sebuah rumah sederhana yang mengelupas cat pagarnya, sore itu dipenuhi anak-anak kecil. Mereka berceloteh riang di bagian halaman yang tersisa lumayan luas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Rumah kontrakan sederhana itu berada di salah satu kompleks perumahan di Kabupaten Gresik, sekitar 30 kilometer sebelah utara Kota Surabaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Sorot mata berpasang-pasang mata mungil itu demikian gembira. Kadang mulut mereka mengeluarkan nada-nada merdu. Seringkali tingkah malu-malu yang sungguh lucu terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak kecil itu terdiri dari bocah-bocah laki-laki dan perempuan. Mereka punya macam-macam latar belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang sudah harus kehilangan orang tuanya di usia semuda itu. Menjadi yatim, piatu, atau yatim piatu sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pula berasal dari kalangan kurang mampu, yang menurut indikator kemiskinan versi pemerintah, masuk ke dalam golongan pra sejahtera. Orang tua mereka, adalah orang-orang yang selama ini menggeliat dengan liatnya dalam berbagai usaha di sektor informal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah yang hari itu disesaki celotehan riang anak-anak kecil tersebut disewa dengan tarif Rp 4 juta per tahun. Penyewanya adalah sekelompok pemuda dan pemudi yang kebetulan sebagian besar berstatus mahasiswa, Mereka saling patungan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang inspirator gerakan itu, Srindoyo, bercerita kepada saya soal awal mula gerakan yang dimulai dari perbincangan ringan di kantin perusahaan tempatnya bekerja. Sebagai salah seorang tenaga lepas di salah satu perusahaan, pemuda bergelar sarjana bahasa Inggris itu mengaku relatif punya banyak waktu luang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu luang yang dimilikinya itu berjodoh dengan keresahan yang dimilikinya. Keresahan yang sekarang menjadi nyata di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan dari ungkapan, kalau tak ada orang miskin boleh sakit. Tak boleh ada orang miskin jadi pintar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soalnya jelas. Biaya kesehatan dan memperbaiki kesehatan demikian mahal. Harga untuk mendapatkan pendidikan makin membubung tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Srindoyo, anak-anak kecil periang yang relatif tak punya akses untuk mengecap pendidikan itu punya peluang sangat besar untuk jadi orang-orang miskin selanjutnya. Bahkan, bisa jadi jauh lebih miskin dari orang-orang tua mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemiskinan struktural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah sistemik saat orang miskin jadi makin miskin dan orang-orang berkecukupan jadi makin kaya. Serupa harta benda yang diwariskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu akan terjadi bila selamanya akses pendidikan tak menjangkau anak-anak yang kurang beruntung tadi. Soalnya, peluang paling besar untuk memperbaiki taraf kehidupan adalah lewat jalur pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya Srindoyo memutuskan buat bergerak. Ia gerakkan pula potensi-potensi muda di bekas kampusnya dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak acuhkan segala cemoohan. Ia hindari afiliasi dengan gerakan politik yang mati-matian berupaya menunggangi gerakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia masih percaya gerakan kecil yang diupayakan dengan swadaya itu akan berbuah nyata. Sekalipun ia mengamini, tak menutup pintu buat bantuan yang mengalir tulus tanpa ada makna udang di balik batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buatnya, kegiatan sosial-horisontal seperti itu juga sama berartinya dengan aspek transendental-vertikal, yang sering terlihat dalam ritual orang beragama. Sayangnya, kata Srindoyo, banyak orang masih percaya sekedar menjalankan aspek ritual beragama sudah cukup dianggap sebagai ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantas menyandang gelar sebagai orang saleh. Layak mendapatkan predikat jadi tokoh masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, aneka persoalan sosial tidak lantas hilang atau terkurangi hanya melulu dengan melakukan ibadah ritual dan berdoa semata. Harus ada usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha dan doa. Itu baru imbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena juga, jika melulu usaha tanpa doa, itu sangat sombong namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Srindoyo berkeputusan harus ada gerakan nyata yang dilakukan untuk menyelamatkan generasi-generasi mungil itu. Karenanya ia minta pula keikhlasan dari rekan-rekan mudanya untuk mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya minta paling tidak dalam satu minggu ada satu hari yang diluangkan, dan dari satu hari itu juga paling hanya 1,5 jam. Saya percaya, jika ikhlas hasilnya juga akan kelihatan,” ucap Srindoyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia percaya, itulah hakikat manusia hidup. Saling berbagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, bocah-bocah mungil yang cerdas itu pun kini mulai fasih benyanyi dalam lantunan berlafal Inggris. Dua unit komputer pun tersedia untuk sekedar memberikan pengenalan, apa itu sebenarnya komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayangnya satu unit komputer sedang rusak. Yah, paling penting mereka tahu dulu apa itu komputer, kasihan sekali mereka tidak tahu apa-apa. Sementara banyak anak lain sudah main &lt;em&gt;laptop&lt;/em&gt;,” kata Srindoyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pemahamannya, tidak perlu menunggu otoritas berwenang, yang sebenarnya punya kewajiban menyejahterakan rakyatnya, untuk melakukan sesuatu. Jika melihat kerusakan, atau ancaman kerusakan dan merasa ada hal yang bisa diperbuat, maka lakukanlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan soal sedikit-banyak atau besar-kecil manfaat dan bantuan yang bisa diberikan. Intinya adalah soal keikhlasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percayalah, memberi dengan rasa ikhlas akan mendatangkan kebahagiaan sejati. Lebih besar dari perasaan saat anda menang undian atau sayembara paling besar sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu masih ditambah bonus. Apa saja yang anda berikan dengan ikhlas, niscaya bakal kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, dalam jumlah yang berlipat dari yang pernah anda berikan dengan ikhlas tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir pekan lalu, anak lelaki pertama saya genap berusia dua tahun. Saya dan istri saya berkeputusan untuk mengajaknya mengunjungi rumah sederhana yang mengelupas cat pagarnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah yang dipenuhi keriangan dan tingkah lucu bocah-bocah mungil tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengajaknya ke rumah itu untuk merayakan hari ulang tahunnya. Paling penting untuk mengingatkannya, kalau jatah hidupnya di dunia semakin berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga mengingatkannya kalau dalam banyak hal, ia masih lebih beruntung dibandingkan rekan-rekan kecilnya yang makin pandai berbahasa Inggris tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, paling penting adalah mengajarkannya untuk sebisa mungkin membagi keberuntungan yang dimilikinya itu dengan orang lain. Ia pun dengan cepat belajar mensyukuri dan dengan cepat menerima uluran salam persahabatan yang datang kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan pun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-3154294497631378348?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/3154294497631378348/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=3154294497631378348&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/3154294497631378348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/3154294497631378348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/06/diri-berbagi.html' title='Diri Berbagi'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SGfrHlfaQoI/AAAAAAAAAPM/ojRgkOq67Yk/s72-c/gaya1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-911957946614448082</id><published>2008-06-26T07:12:00.000-07:00</published><updated>2008-11-13T15:53:41.433-08:00</updated><title type='text'>Pikiran Pendek</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SGOlBmHVb2I/AAAAAAAAAO8/gCKDMHRqTiM/s1600-h/64.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5216194240254930786" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SGOlBmHVb2I/AAAAAAAAAO8/gCKDMHRqTiM/s320/64.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Seorang teman saya semasa kuliah yang sekarang bergiat di organisasi &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.profauna.or.id/content/id/petisi_parrots.html"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;ini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;, beberapa hari lalu mengirimkan sebuah pesan. Fakta yang menyertai isi pesan itu sungguh menyesakkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Pesan itu berisi seruan supaya mendukung upaya penghentian penangkapan dan penyelundupan burung nuri dan kakatua di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soalnya, praktik ilegal model begini disertai fakta yang nyata-nyata sudah mengancam keberlangsungan ekosistem.&lt;br /&gt;Burung-burung eksotis itu dijual hingga ke Filipina untuk selanjutnya dijual ke banyak negara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih gila, setelah tiba di pusat-pusat perdagangan, burung-burung liar hasil tangkapan itu lantas dilabeli hasil penangkaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah-olah burung-burung itu memang pantas diperjualbelikan sebagai salah satu komoditas eskpor. Tercatat sebagai barang ekspor dan memberi devisa pada negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan-akan rakyat kebanyakan merestui dan dengan devisa kosong yang tak pernah ada itu, kehidupan orang banyak bisa makin sejahtera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar burung liar memesona itu sejatinya sudah terancam punah. Jika satwa-satwa indah ini sudah hilang dari sistem rantai makanan, nihilnya rangkaian lain dari sistem tersebut tinggal menunggu waktu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, inilah salah satu bisnis paling menggiurkan. Salah satu roda ekonomi yang memanfaatkan kehausan sebagian manusia atas pencarian kepuasan yang seakan tak ada habisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengoklah pasar-pasar burung di sejumlah kota besar. Jika bicara lebih luas lagi, bukan hanya burung nuri dan kakatua yang bisa disediakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai jenis burung, asal ada kesepakatan harga, bisa diboyong. Bahkan tawaran buat memiliki berbagai jenis satwa liar yang cenderung langka, dan dengan demikian jadi peningkat status gengsi bagi pemiliknya, juga bisa dijumpai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisnis yang dengan gamblang memanfaatkan ritual manusia buat mencapai kebahagiaan dengan memperbesar kekayaan, pengaruh, dan kekuasaannya ketimbang lebih menyadari soal-soal hakikatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi intinya bicara soal keserakahan. Kerakusan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah sifat yang banyak manusia sendiri sudah menganggapnya sebagai hal yang manusiawi. Manusia itu memang tidak pernah puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah pembenaran yang kerap terdengar. Meski memuakkan, itulah salah satu gagasan soal “manusiawi” yang masih diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi intinya bicara soal keserakahan. Kerakusan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir pekan lalu, saya berkunjung ke Taman Safari Indonesia (TSI) II di Prigen Pasuruan, yang jadi lokasi TSI kedua sesudah di Cisarua, Bogor itu. Pesan yang serupa saya temukan di Prigen, yang jadi tempat kedua sebelum lokasi TSI ketiga di Gianyar, Bali tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ancaman kepunahan. Ajakan buat menyelamatkan burung-burung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah rencana operasi untuk menyelamatkan burung-burung itu pun dirancang sedemikian rupa. Rencana yang disusun jenis manusia tertentu untuk memerangi jenis manusia yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah perang antarmanusia yang melibatkan burung-burung tak berdosa di tengah-tengahnya. Inilah pertarungan sempurna antara kutub pemenuhan hawa nafsu yang tiada habisnya dengan kutub pemenuhan hakikat diri sebagai inti kebahagiaan pada kutub lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh sempurna konsep baik-buruk, hitam-putih, siang-malam, terang-gelap, panjang-pendek, atas-bawah, kanan-kiri, utara-selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertempuran yang masing-masing pihak memakai tameng burung-burung indah tadi di tengah-tengahnya. Pada sudut yang lain, gerak roda ekonomi yang butuh dilumasi mengintip dengan tatapannya yang lapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi inilah salah satu hakikat lain lagi dari manusia. Bukankah jutaan sperma mesti dikalahkan terlebih dahulu oleh satu sperma juara, sebelum sel telur bisa dibuahinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang. Pembuktian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali, ada pikiran pendek menyelinap di antaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-911957946614448082?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/911957946614448082/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=911957946614448082&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/911957946614448082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/911957946614448082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/06/pikiran-pendek.html' title='Pikiran Pendek'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SGOlBmHVb2I/AAAAAAAAAO8/gCKDMHRqTiM/s72-c/64.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-8292132139859721616</id><published>2008-06-19T06:38:00.003-07:00</published><updated>2008-11-13T15:53:41.569-08:00</updated><title type='text'>Karyawisata Nyawa</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SFpieX9uRoI/AAAAAAAAAOw/ovk_vJiyzrQ/s1600-h/20080610INK-e(untuk+nasional).jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5213587792603268738" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SFpieX9uRoI/AAAAAAAAAOw/ovk_vJiyzrQ/s320/20080610INK-e(untuk+nasional).jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tangis pecah lagi di rumah Munir yang berdinding batu bata merah tanpa plester dengan sebagian lantai tanah itu. Saat itu Tholib, yang adalah salah seorang kerabatnya tengah dibopong karena histeris saat pemakaman almarhumah Sujiyati, isti Munir. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Ibu dan anak saling berpeluk dalam guguran air mata. Lolongan kematian terasa begitu dekat dan mencekam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munir, yang sehari-hari hanya berjualan jamu tradisional di muka rumahnya, tak sanggup lagi bereaksi. Ia hanya duduk tersimpuh di teras depan rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatapan matanya kosong, karena istri yang sehari-hari membantu ekonomi keluarga dengan membantunya berjualan jamu tradisional dan sesekali menerima jahitan telah tiada. Belum pulih pilu itu, sebuah godam duka menghantamnya lagi persis ketika istrinya dikebumikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebabnya, beberapa menit sebelumnya, Tholib dikabari salah seorang kerabatnya yang tengah menunggui anak semata wayang pasangan Munir-almarhumah Sujiyati, Muhammad Burhanudin. Anak tunggal yang masih dirawat intensif di RS Baptis Kota Batu, itu disebutkan telah meningal dunia. Tholib, histeris saat jenazah Sujiyati sedang dikebumikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah warga yang pagi itu tengah mengikuti prosesi pemakaman Sujiyati di Tempat Pemakaman Umum Desa Karang Diyeng, Kabupaten Mojokerto pun sontak membopong Tholib yang semaput. Tholib terus meronta sepanjang perjalanan ke rumah Munir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung, kabar duka kedua itu salah. Anak semata wayang Munir dan almarhumah Sujiyati ternyata masih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sekali lagi Munir tak bereaksi sekalipun kabar duka itu akhirnya diralat. Air matanya sudah kering dan hatinya kelu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari sebelumnya, Sujiyati bersama 106 orang lainnya termasuk dalam rombongan karyawisata TK Dharma Wanita Karang Diyeng, Desa Karang Diyeng, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto. Mereka tengah menuju ke tempat wisata Jatim Park, di Batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sampai di lokasi, bus yang mereka tumpangi dihentikan dua kali oleh petugas DLLAJ di jalan yang permukaannya menurun. Malang tak bisa ditolak, pada pemberhentian kedua yang hanya tinggal berjarak 500 meter lagi dari lokasi wisata idaman, bus sarat penumpang itu mundur tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah warung makan ditabrak. Kompor menyala yang ada di dalam warung itu menyulut api pertama pelahap badan bus. Api menyeruak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak dan ibu-ibu tenggelam dalam lolongan duka. Sedih mereka terbawa angin kepedihan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Munir tidak sendiri. Pada pojok rumah sederhana lain, yang keadaanya tidak lebih baik dari rumah Munir, terpekur sepi Ahmad Bisri (46). Ahmad Bisri adalah ayah seorang putri berusia 5 tahun 10 bulan, Agustinur Umami, yang juga tewas mengenaskan dalam kecelakaan maut tersebut. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Agustinur adalah anak bungsu dari tiga anak Ahmad Bisri yang sehari-hari berprofesi sebagai sopir truk PT Karya Bersama, sebuah perusahaan ekspedisi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;“Paling kasihan juga Pak Rudin, anaknya yang bernama Husni Mubarak juga tewas, sedangkan Farida, istrinya masih dirawat dalam kondisi kritis,” kata Maemunah (47) yang adalah bibi Husni dan Umami, serta masih berkerabat dengan almarhumah Sujiyati itu. Sehari-hari, Maemunah juga menjadi buruh di perusahaan tempat Ahmad Bisri menjadi sopir truk. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Dua bocah ingusan dan seorang dewasa tewas mengenaskan. Sejumlah orang tergolek kritis di rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun sebelumnya, wisata itu sudah masuk dalam agenda rencana. Maka, orang-orang seperti Munir dan Ahmad Bisri memompa energi mereka habis-habisan ke batas maksimum demi menggenapi kewajiban sebagai orangtua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Bisri harus bekerja sedemikian keras hingga terkadang melupakan waktunya bersama Agustinur. “Kadang, saya pulang sudah malam anak saya sudah tidur. Pagi pun, kadang tidak sempat ketemu,” kata Ahmad Bisri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia harus bekerja keras seperti itu, demi biaya bagi putra pertamanya seorang lulusan STM dan putri keduanya yang tengah bersiap masuk SMP itu. Juga, tentu saja, karyawisata di pengujung tahun ajaran putri bungsunya yang terlihat sangat lincah di foto terakhirnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desa itu sebagian besar hidup karena kegiatan pembuatan pembuatan batu bata yang diusahakan warga. Tambah lagi, sejumlah tanaman palawija juga diusahakan masyarakat untuk menambah penghasilan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rata-rata warga disini ya kerja sebagai pembuat batu bata,” kata Arif (25), salah seorang tetangga Sujiyati yang rona mukanya tampak jauh lebih renta dari usia sebenarnya. Hari itu Arif sengaja khusus libur untuk mengantar jenazah Sujiyati ke tempat peristirahatan terakhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, kerja sekeras apapun tak mungkin sanggup bagi kebanyakan orang di desa itu membeli paket wisata yang ideal, yang biasanya berbanding lurus dengan harganya yang mahal. Jadilah, karyawisata pada hari Senin dengan biaya total Rp 95 ribu itu akhirnya diadakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga itu termasuk tiket masuk ke lokasi wisata Jatim Park seharga Rp 30 ribu, atau lebih murah Rp 10 ribu dibandingkan harga saat akhir pekan atau hari libur. Kalau pernah nonton di bioskop, hari Senin itu istilahnya nonton hemat, alias &lt;em&gt;nomat&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu unit bus yang dipakai pun dihargai sewa yang relatif murah saja. Berupaya sehemat mungkin. Itulah yang mereka lakukan dengan rencana itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada satu sisi ada masyarakat berpenghasilan relatif rendah dan pada sisi yang lain ada “kebutuhan” untuk melakukan karyawisata yang sering dipersepsikan harus mengeluarkan sejumlah uang tertentu. Semakin jauh lokasi wisata dan semakin eksklusif tempatnya, maka akan berbanding lurus dengan merangkaknya biaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mempertemukan dua kenyataan ini dalam satu titik, tentu harus ada kompromi. Namun, bagi orang-orang seperti Munir dan Ahmad Bisri, rasanya tak ada kompromi yang bisa sebanding dengan hilangnya nyawa orang-orang tercinta mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Sekolah TK Dharma Wanita Karang Diyeng, Miani, yang sangat terpukul akibat gagalnya tradisi karyawisata itu pada tahun ini juga belum bisa ditemui. Rumahnya di Jalan Mayjend Sumadi, Desa Gedangan, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto yang masih dalam tahap pembangunan terkunci rapat dengan lampu teras menyala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, orang-orang di lingkup pemerintahan hanya mengeluarkan pernyataan bernada reaktif. Penjabat Bupati Mojokerto, Suwandi, yang muncul gara-gara sang bupati yang dijagokan Gus Dur, Achmady mundur karena melaju ikut Pilkadal Jatim justru bilang karyawisata bakal diperketat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bilang bus yang dipakai harus laik jalan. Tapi tak ada solusi disana. Soal biaya lebih besar yang dibutuhkan, saat kebutuhan buat menyewa alat transportasi dalam kondisi ideal datang. Mengenai kewajiban pemerintah buat membuat kesejahteraan bagi masyarakatnya bisa terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal subsidi. Soal kewajiban pemerintah menjamin rasa aman. Soal-soal yang memberikan kebahagiaan bagi warganya, ketimbang kepuasan semu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendung juga menggelayuti salah satu halaman rumah orangtua dan kakak sopir bus nahas yang terdiri atas tiga bagian rumah dan terletak di Dusun Sidorejo, Desa Windurejo, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto. Pada salah satu bagian halamannya, teronggok sebuah bus tua bermerek Isuzu dengan nomor polisi berdasar pelat hitam, berkapasitas 30 penumpang yang juga dioperasikan untuk jasa pariwisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu unit Jeep CJ-7 yang dimodifikasi dengan memotong atapnya dan mengganti moncongnya serupa Jeep CJ-8 Wrangler juga terparkir rapi di garasi yang sekaligus dimanfaatkan sebagai bengkel ganti oli itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang sopir sendiri tak punya rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua bus, satunya sudah hangus terbakar, itulah yang jadi rumahnya. Kini, pemilik usaha sekaligus sopir bus-bus pariwisata itu jadi tersangka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbenam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-8292132139859721616?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/8292132139859721616/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=8292132139859721616&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/8292132139859721616'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/8292132139859721616'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/06/karyawisata-nyawa.html' title='Karyawisata Nyawa'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SFpieX9uRoI/AAAAAAAAAOw/ovk_vJiyzrQ/s72-c/20080610INK-e(untuk+nasional).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-7490714097710458761</id><published>2008-05-30T06:02:00.000-07:00</published><updated>2008-11-13T15:53:41.778-08:00</updated><title type='text'>Mosley Moein</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SD_7l4OVWeI/AAAAAAAAAOo/qNZ10yQFmpU/s1600-h/poto3.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206156322429819362" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SD_7l4OVWeI/AAAAAAAAAOo/qNZ10yQFmpU/s320/poto3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mosley berasal dari nama Max Mosley, yang adalah Presiden Federasi Otomotif Internasional atau FIA. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Moein berasal dari nama Max Moein, yang merupakan anggota Komisi XI DPR.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Kalau dibikin inisial, dua orang ini identik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama depannya pun serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Max.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mosley orang Inggris. Moein asal Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara langsung, saya belum pernah bertemu dan mengenal mereka berdua. Tetapi hasrat saya meletup, karena hari-hari belakangan ini keduanya mendominasi porsi pemberitaan sebagian media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mosley duluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir bulan lalu Mosley diketahui terlibat skandal seks yang menurut ukuran sebagian orang menyimpang. Kata laporan tabloid Inggris News of The World, ada lima perempuan pekerja seks komersial yang berpesta bersama Mosley pada suatu hari di sebuah apartemen di Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mempraktikkan aliran sadomasokis dalam pesta seks liar itu. Sadomasokis merujuk artinya pada penghambaan terhadap perilaku sadisme dan brutalisme buat menggapai puncak kenikmatan seksual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecaman datang dari berbagai penjuru. Sepertinya, dari 222 organisasi bermotor dari 130 negara di bawah naungan FIA, sudah tak ada lagi yang percaya pada Mosley.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lomba adu cepat jet darat bertitel Formula Satu pun terancam kehilangan pamor. Jadi, ramai-ramai pabrikan mobil peserta balap F1 pun mengutuk Mosley.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokoknya, &lt;em&gt;say no to&lt;/em&gt; Mosley.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini, Mosley masih bergeming. Sebuah pertemuan “tetua-tetua” FIA dari anggota dari berbagai negara yang bakal digelar di Paris, Perancis, pada 3 Juni besok bakal jadi penentu nasib Mosley.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang giliran Moein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekan lalu, marak dikabarkan Moein punya skandal dengan salah seorang mantan sekretarisnya. Kabar itu makin mantap saat ada bukti foto Moein bersama seorang perempuan, yang kalau disebarluaskan konon bisa termasuk dalam hal-hal yang dilarang dalam Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronika (UU ITE) itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sampai sekarang identitas si perempuan masih gelap. Moein sendiri sudah mengaku dirinyalah yang berfoto bersama perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, itu hanya foto biasa saat mau berenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto itu juga hasil jepretan orang lain. Jadi, foto yang menurut salah seorang teman saya sudah beredar sejak sepekan sebelum kabar tersebut meletus itu, berdasarkan pengakuan Moein adalah foto yang biasa-biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan, malah muncul pengakuan adanya pelecehan seksual dari tokoh mantan sekretaris. Mantan sekretaris ini dipecat, gara-gara mengadukan soal pelecehan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga satu tahun sejak ia melapor, juga belum ada tanda-tanda dirinya bisa beroleh keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggalah mantan sekretaris ini sendu menahan pilu. Belakangan, muncul inisiatif buat membuka lagi kasus pelecehan seksual itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, Moein pun terancam sanksi &lt;em&gt;recall &lt;/em&gt;alias mesti balik lagi ke partai asalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokoknya, Moein &lt;em&gt;nggak banget deh&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri tidak hendak membenahi soal perilaku moral kedua tokoh berinisial MM di atas. Soal utamanya, ya apalagi kalau bukan rasa, bahwa saya ini juga belumlah menjadi orang yang punya moral sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya tertarik untuk membuktikan teori bahwa trilogi maut berupa harta, takhta, dan wanita di ujungnya bisa menemukan pembenar pada sejumlah kasus yang ada. Setidaknya, ini terbukti pada Mosley Moein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Mosley yang sudah berusia 68 tahun itu, rupa-rupanya pencarian atas ekstase kenikmatan dunia masih belum juga dicapainya. Harta dan takhta jelas Mosley miliki. Tapi, Mosley masih butuh lima perempuan sekaligus buat melengkapi kutukan triloginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dominasi ideologi laki-laki pada praktik politik yang seringkali berbuah kebijakan dengan tingkat bias jender tinggi dan meminggirkan perempuan, juga terjadi dalam hubungan profesional. Ini terjadi pada Moein, yang menafsirkan mantan sekretarisnya itu sama fungsinya dengan asbak rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal sekretaris adalah jabatan profesional yang punya standar kode etik tersendiri. Makanya, fungsi dan perannya juga jangan disalahartikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, tadi pagi secara tiba-tiba saya dapat ide liar tulisan ini. Ide yang sekonyong-konyong datang waktu kedua biji mata saya masih sembab oleh limbah alami di sekitar organ penglihatan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Max.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-7490714097710458761?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/7490714097710458761/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=7490714097710458761&amp;isPopup=true' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/7490714097710458761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/7490714097710458761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/05/mosley-moein.html' title='Mosley Moein'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SD_7l4OVWeI/AAAAAAAAAOo/qNZ10yQFmpU/s72-c/poto3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-8885693466276630154</id><published>2008-05-29T11:04:00.000-07:00</published><updated>2008-11-13T15:53:41.988-08:00</updated><title type='text'>Toleransi Prestasi</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SD7w64OVWdI/AAAAAAAAAOg/Jg2FotGvmTY/s1600-h/20080509inke.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205863113602456018" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SD7w64OVWdI/AAAAAAAAAOg/Jg2FotGvmTY/s320/20080509inke.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca atau mendengar nama ini langsung banyak citra melintas dalam bayangan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguasaan teknologi tinggi. Penemu format MP3. Diktator Hitler dengan Geheime Staatspolizei atau Gestapo yang jadi dinas polisi rahasia rezim Nazi. Hingga julukan Tim Panser bagi kesebelasan sepak bola Jerman dengan Franz “Der Kaiser” Beckenbauer yang jadi libero melegenda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di cabang olahraga bulu tangkis? Jerman, rasanya sebuah pengecualian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yah, perasaan, asumsi, rona, atau apalah mengenai persepsi kita yang dibangun atas dasar prasangka belaka itu rupanya tahun ini harus berujung kecewa. Tim Uber Jerman berhasil menembus babak semifinal pada laga tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, ini memang bukan kali pertama. Setidaknya pada dua tahun sebelumnya, saat perebutan piala itu digelar di Jepang, Tim Uber Jerman juga berhasil melaju ke semifinal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, pencapaian tahun ini tetap dirasa luar biasa bagi peserta lain. Juga para penonton, yang merasa bahwa bulu tangkis adalah olahraganya “orang Asia,” sekalipun sejak bertahun-tahun lampau Denmark yang juga kampiun bulu tangkis sudah jadi pengecualian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, apa yang jadi kejutan buat orang lain ini sama sekali bukan kejutan bagi Tim Uber Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi-pagi sekali sebelum perebutan piala itu digelar, pelatih kepala Tim Jerman, Detlef Poste, sudah berbisik yakin pada saya. Katanya, Jerman kini telah naik kasta dalam jajaran negara-negara yang membina atlet bulu tangkis di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Detlef, dari “negara kelas tiga,” setidaknya Jerman kini telah menjadi “negara kelas dua” dalam dunia bulu tangkis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detlef menambahkan, semua itu dicapai dengan yakin karena Jerman tak percaya pada metode tradisional dalam pengembangan dan pembinaan prestasi atlet-atlet mereka. Semuanya dilakukan dengan berpegang pada metode terbaru yang dikembangan secara ilmiah lewat berbagai disiplin ilmu pengetahuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada faktor Xu Huaiwen, pemain asal China yang pindah ke Jerman sejak satu dekade terakhir. Huaiwen adalah lokomotif Tim Uber Jerman. Huaiwen pula yang seperti sedang "mengasuh" Birgit Overzier, saat mereka main secara berpasangan mengalahkan ganda pertama Denmark, Mie Schjott Kristensen/Christina Pedersen di babak perempat final.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, sekitar satu jam sebelumnya, Huaiwen pula yang mengandaskan juara terbaru All England, Tine Rasmussen, yang adalah pemain tunggal putri nomor wahid di Denmark.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, Tim Uber Jerman bukan hanya Huaiwen. Martin Kranitz, yang jadi manajer tim itu berupaya meyakinkan saya, sekalipun sejak Huaiwen datang banyak perubahan drastis terjadi, tetapi sebagai tim mereka maju secara bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sangat percaya, inovasi adalah kunci. Tanpa inovasi, mustahil ada perubahan. Bersama inovasi, tantangan paling sulit sekalipun bukan barang musykil dihadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sekalipun akhirnya Jerman kalah atas Tim Uber Indonesia di babak semifinal, rasa-rasanya dua tahun lagi keadaan bisa jadi tak sama lagi. Apalagi, kalau Tim Uber Indonesia masih terus berada dalam kungkungan metode lama yang miskin inovasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apakah hanya inovasi yang melulu membuat Jerman bisa berbangga diri di tahun ini, dan mempertahankan kebanggaan itu sejak dua tahun sebelumnya? Rupanya tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan yang lain Detlef Poste berkata jelas kepada saya, ada persoalan indisipliner pemain yang sempat menghantui timnya. Tapi, itu cerita usang sebelum Tim Jerman berangkat ke medan laga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena akhirnya, pemain yang dianggap tidak disiplin itu akhirnya dicoret dari tim. Tak peduli betapapun bagus dan sempurna teknik yang dimiliki. Tidak ada urusan soal peringkat dunia yang dipunyai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini, satu pelajaran penting bisa dipetik. Bahwa prestasi memang sebaiknya tidak mengenal toleransi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nihilkan pertimbangan suka dan tidak suka. Adakan dan pegang teguh satu standar soal aturan main.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikan penalti pada yang salah dan kasih hadiah bagi yang berprestasi. Segalanya berlaku bagi semua tanpa kecuali. Niscaya, prestasi puncak yang konsisten bukan barang sulit diraih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa toleransi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepintas ini terdengar mengerikan dan seperti membawa bayangan pikiran kembali mendesak saat Gestapo berkeliaran di era diktator Hitler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kebijakan tanpa toleransi bagi prestasi pada akhirnya membawa keberhasilan. Menihilkan rasa iri dan membangkitkan motivasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kasus Tim Uber Jerman, ini berhasil.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-8885693466276630154?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/8885693466276630154/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=8885693466276630154&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/8885693466276630154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/8885693466276630154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/05/toleransi-prestasi.html' title='Toleransi Prestasi'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SD7w64OVWdI/AAAAAAAAAOg/Jg2FotGvmTY/s72-c/20080509inke.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-1385054569838693545</id><published>2008-05-28T08:10:00.000-07:00</published><updated>2008-11-13T15:53:43.085-08:00</updated><title type='text'>PON Bloon</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205447034350688610" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SD12f4OVWWI/AAAAAAAAANs/Bv3IbKgsQE8/s320/63.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Nyaris tiga tahun lalu saya singgah di Bandara Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur. Kira-kira dua jam setelahnya, waktu saya habiskan buat menempuh perjalanan darat menuju Samarinda yang jaraknya sekitar 120 kilometer dari Balikpapan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Jalan aspalnya waktu itu mulus. Bentangan alamnya berkelok-kelok dan naik turun dengan sudut elevasi yang menantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyaris tak ada kendaraan lain yang berpapasan dengan saya selama periode beberapa menit dalam perjalanan itu. Baru pada menit-menit berikutnya, satu dua kendaraan mulai terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kemudian hilang lagi pada menit-menit selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah waktu itu matahari persis berada di ubun-ubun. Mungkin nyali bakalan sedikit ciut jika perjalanan panjang itu ditemani bulan dan bintang, atau lebih buruk lagi, langit gelap di malam kelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di Samarinda, saya bergegas ke kompleks olahraga di Sempaja, Samarinda Utara, yang di antaranya terdapat Stadion Madya Sempaja. Nama Sempaja sejatinya adalah sebuah kelurahan di wilayah Kecamatan Samarinda Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stadion Madya Sempaja di Samarinda itu bakal jadi salah satu lokasi penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional atau PON XVII yang direncanakan mulai 6 Juli mendatang. Bersama Samarinda dan Balikpapan terdapat pula sejumlah daerah lain yang masuk wilayah administratif Kalimantan Timur seperti Bontang, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, dan Berau yang akan jadi lokasi berlaga atlet-atlet dari seluruh Nusantara selama sepekan lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kompleks olahraga Sempaja itu berdiri pula Hotel Atlet bertingkat delapan yang setara fasilitas hotel bintang tiga berkapasitas setidaknya 600 orang. Pada kawasan bekas rawa dengan luas total sekitar 50 hektar itu, berdiri juga sejumlah bangunan lain, seperti pusat pendidikan dan latihan bagi atlet, gedung olahraga (GOR) serba guna, dua buah GOR latihan, dua gedung asrama atlet, dan fasilitas lintasan olahraga luar ruang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyaris dua tahun lalu, semuanya masih dalam tahap pembangunan yang total jenderal sudah menyedot duit Rp 300 miliar. Tapi, masih dianggarkan lagi Rp 600 miliar buat membangun Stadion Utama Palaran, yang tepat berada di wilayah kelurahan Simpang Pasir, Kecamatan Palaran, Samarinda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini saya baca di media, sejumlah sarana olahraga itu baru siap pada pertengahan bulan depan, termasuk Stadion Utama Palaran yang belum kelar digarap. Pasokan listrik juga jadi ancaman paling serius saat PON digelar nanti, yang hingga tulisan ini dibuat belum bisa diselesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal pembangunan dan pembenahan infrastruktur pun setali tiga uang. Jalan berlubang yang rawan ambles di berbagai titik serta terbatasnya kemampuan Jembatan Mahakam sebagai satu-satunya penghubung antarwilayah bakal jadi kengerian tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barusan, saya ngobrol-ngobrol dengan beberapa orang pelatih olahraga yang sudah malang melintang mengurusi atlet. Tahu persis rupa-rupa borok dan luka yang menganga pada sistem pembinaan olahraga di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami punya kesimpulan bulat. Penyelenggaraan PON adalah sesuatu yang sangat &lt;em&gt;bloon&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa? Tentu saja, cobalah lihat fungsi dan keluarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pernah ada tim nasional berkualitas mumpuni yang mampu berprestasi, katakanlah saja, di tingkat Asia Tenggara yang dihasilkan dari hajatan besar bernama PON. Juga, tak semua atlet tingkat nasional bisa ikut PON dan membela daerahnya dengan rupa-rupa alasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argumen usang bahwa PON adalah instrumen pemersatu bangsa merupakan ungkapan lama yang tak lagi sesuai. Pada banyak sekali kasus, PON justru memicu konflik pembinaan olahraga antardaerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, PON secara langsung telah menihilkan esensi olahraga itu sendiri. Bagaimana mau bicara soal sportivitas jika kasus perpindahan atlet antardaerah yang menghalalkan segala cara marak setiap menjelang PON digelar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat subur bisnis pemalsuan Kartu Tanda Penduduk dan bentuk dokumen penguat identitas lainnya yang di negeri ini seperti semudah membuat kartu nama biasa. Bagaimana mau bicara pembinaan prestasi olahraga jika dari tahun ke tahun yang terus jadi andalan adalah atlet-atlet tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba sebuah perintah masuk di malam buta dari seorang petinggi daerah kepada seorang pembina olahraga. “Dapatkan satu emas itu pada pertandingan final yang terakhir besok, BAGAIMANAPUN CARANYA!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu perintah itu diterjemahkan juga dengan berbagai cara di lapangan laga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soalnya kredibilitas dan peluang si pemimpin daerah tadi dalam proses suksesi politik rutin tiap lima tahun sekali, jadi pertaruhan jika daerah yang dipimpinnya gagal di PON. Jadi, segala anasir politis pun mau tak mau ikut berjubelan dalam arena olahraga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekonyong-konyong ada bisikan, skandal jual beli medali pun terjadi. Siapa sepakat dengan harga, bisa langsung dibungkus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peduli amat dengan bonus kemenangan yang ditawarkan, jika tawaran buat mengalah dalam suatu laga justru lebih menjanjikan. Rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sportivitas? Itu hanya omong kosong di siang bolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pemenang PON, hanya terberkas eforia yang lantas cepat hilang sempurna laksana jejak di atas pasir yang tersapu ombak. Kekalahan pun tak lantas diterima dengan lapang sebagai bagian dari pertandingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujung-ujungnya konflik. Berebut dan saling klaim sebagai daerah asal pemilik atlet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperebutkan, karena tanpa atlet andalan tersebut tak mungkin daerah bersangkutan bisa dapat emas dan mengalahkan daerah lain. Tanpa emas, tak ada bonus kemenangan yang siap dikucurkan dari duit rakyat bisa mengalir mulus ke kantong-kantong pengurus atau siapapun yang punya kepentingan atas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atlet dan kemenangan. Logika sapi perah lagi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Nyaris tiga tahun lalu, saya sempatkan pula mampir ke Tenggarong yang jadi ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara yang kaya raya itu. Tenggarong yang kira-kira berjarak 30 kilometer dari Samarinda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katanya di lokasi itu ada tempat wisata bernama Pulau Kumala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikir saya, bolehlah sekedar melarikan diri dari kegilaan di atas. Saya coba wahana kereta gantungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apa yang saya saksikan dari atas gantungan kereta itu malah bikin saya makin gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjejerlah barisan rumah-rumah kumuh yang tak layak dengan penghuni yang jadi kelas sosial terpinggirkan dalam masyarakat di daerah yang sungguh kaya raya itu. Saya tak berani menatap gugusan bangunan rakyat yang berdiri seadanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh saya tak kuasa jika ada sepasang mata saja di antara bangunan-banguan di bawah itu yang menatap iri pada saya. Saya yang sedang berada dalam kereta, yang dengan sombongnya berjalan menggantung di atas mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya belum tahu data soal berapa ratus miliar lagi harus keluar buat mendanai proyek-proyek fasilitas dan arena olahraga lainnya di Kalimantan Timur yang berkaitan dengan PON XVII. Selain, tentu saja ada rupa-rupa proyek infrastruktur seperti pembangunan dan pembenahan jalan serta jembatan dengan alasan buat melancarkan akses transportasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, saya tak pernah habis pikir, apa fungsi gebyar gila-gilaan itu semua pada akhirnya. Setelah PON berlalu, siapa mau memanfaatkan beraneka macam fasilitas olahraga prestisius itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau disewakan murah tak mungkin, sementara disewakan dengan harga mahal juga musykil. Hendak dijadikan pusat pembinaan olahraga berbagai cabang olahraga pun mustahil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Persoalan utamanya, memang tak ada orang yang ada untuk menyewa berbagai fasilitas olahraga itu nantinya. Juga, tak ada sumber daya manusia yang bisa dibina prestasinya buat kepentingan berbagai cabang olahraga di berbagai fasilitas olahraga mahal itu dalam waktu dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, biaya perawatan tetap harus diadakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling gila, tentu saja pengerjaan asal-asalan yang terlihat betul sekedar menghamba saja pada sisa dana kucuran proyeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Nyaris tiga tahun lalu, saya lihat ada sebuah gedung olahraga yang salah desain. Tak punya tribun, dan langit-langitnya pun terlalu pendek buat menggelar laga olahraga. Semua olahraga yang pakai bola, pasti mentok bolanya segera setelah servis dilancarkan dalam gedung olahraga itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata pejabat penanggungjawabnya waktu itu, gampang, salah ya tinggal kita bongkar lagi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pada Hotel Atlet yang dimaksud, desainnya lebih mirip bekas Penjara Alcatraz di Pulau Alcatraz, San Fransisco, California, Amerika Serikat. Bagaimana tidak, jika tersisa ruang sangat lapang di tengah-tengahnya yang menjadikan hotel itu lebih mirip penjara ketimbang tempat buat beristirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua pekan lalu, tiga biji bangunan bakal asrama atlet yang akan berlaga pada PON XVII/2008 di kompleks olahraga Tenggarong, Kalimantan Timur menemui ajal dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-1385054569838693545?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/1385054569838693545/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=1385054569838693545&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/1385054569838693545'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/1385054569838693545'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/05/pon-bloon.html' title='PON Bloon'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SD12f4OVWWI/AAAAAAAAANs/Bv3IbKgsQE8/s72-c/63.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-6793361338043536021</id><published>2008-05-26T06:56:00.000-07:00</published><updated>2008-11-13T15:53:43.270-08:00</updated><title type='text'>Istora Jakarta</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5204686013390477650" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SDrCWoOVWVI/AAAAAAAAANk/4roX-GZnuEg/s320/20080506INK03.JPG" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Terakhir kali saya berkunjung ke Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta pada pengujung pekan lalu. Gedung olahraga itu buatan tahun 1962 yang dulu sempat pula dinamai Istora Senayan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Istora kependekan dari Istana Olahraga. Istora berada di kompleks Gelanggang Olahraga Bung Karno, Senayan, Jakarta, yang kira-kira hanya berjarak sepuluh kilometer dari rumah Emak dan Bapak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu pekan sebelum kunjungan saya yang paling akhir pada pengujung pekan lalu, saya datang ke Istora untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun lamanya. Ingatan saya sendiri sudah samar-samar, kapankah terakhir kali saya berkunjung ke Istora sebelum kunjungan saya di dua pekan lalu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga, untuk tujuan apakah saya kesitu, bertahun-tahun lalu itu. Dua pekan lalu, tujuan saya kesitu karena penasaran mau tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti apa kondisi terakhir gedung olahraga berkapasitas paling mentok 8.500 orang, sekalipun ada juga yang bersikukuh Istora bisa menampung hingga 10 ribu manusia, yang bakal dipakai buat menggelar perebutan Piala Thomas dan Piala Uber 2008 itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perebutan dua piala yang jadi lambing supremasi kekuatan bulu tangkis bagi negara perebutnya. Dua piala, yang akan dipisahkan tempat laga perebutannya, mulai tahun 2010 mendatang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sempat merasakan atmosfer Jakarta pada pertengahan tahun 1980an, sontak atmosfer itu juga yang saya rasakan tatkala pertama kali menjejak lagi lantai Istora, dua pekan silam. Atmosfer Jakarta yang kala itu didominasi taksi warna kuning dengan armada Toyota Corolla generasi ketiga, bus-bus beratap setengah lingkaran dan bertingkat bermerek Leyland buatan Inggris milik perusahaan Pengangkutan Penumpang Djakarta (PPD), hingga gelontoran lagu-lagu almarhum Gombloh yang berkarakter itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baui aroma khas masa lalu itu saat pertama kali masuk pintunya. Melongok-longok ruangannya. Mendengarkan dinding-dinding kusamnya berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasakan kedigdayaan bangunan itu sebagai salah satu “mercu suar” Orde Lama saat menjadi tuan rumah Asian Games tahun 1964.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darah saya menggelegak. Sebagian karena bangga, sebagian lagi karena merasa kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangga karena di masa yang sudah berpuluh-puluh tahun lewat itu, Indonesia, sempat ditakuti dan disegani dunia gara-gara insiatif dan prestasi. Salah satunya berani dan digdaya saat Soekarno memutuskan buat jadi tuan rumah Ganefo, pada 1963 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ganefo adalah kependekan dari Games of New Emerging Forces yang diikuti ribuan atlet dari 48 negara yang lagi berkembang di kawasan Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Eropa. Ganefo yang berasal dari negara-negara Nefo atau New Emerging Forces ditujukan sebagai simbol lawan frontal bagi Old Developed Forces (Oldefo) yang diwakili oleh negara-negara industri kapitalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecewa, karena ingat pembangunan proyek mercu suar yang didanai oleh pinjaman dari pemerintah Uni Soviet kala Indonesia masih mesra dengan blok komunis itu dilakukan saat himpitan hidup bagi rakyat kebanyakan benar-benar dirasakan sebagai penderitaan. Masa dimana Emak dan Bapak saya sedang berjuang habis-habisan buat mempertahankan eksistensi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, dua pekan lalu, rasa bangga itu tak sempat bersemayam lama. Tak menunggu satu jam setelahnya, kebanggaan itu terkikis habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecewa, makin berlipat ganda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan gagah yang dibangun buat menunjukkan supremasi olahraga Indonesia ke mata dunia, supaya martabat bangsa ini terangkat, itu makin lekang oleh waktu yang menggerusnya. Tembok-tembok kusam enggan menatap balik sorotan tajam sepasang bola mata saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya naik ke bagian paling atas Istora, tempat dimana lampu-lampu sorot yang besinya dipasang paten dengan kerangka atap ke tengah lapangan dicantelkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besi-besi kokoh memang masih menggantung dan menggenggam erat satu sama lain. Tapi landasan untuk menjejak sungguh bikin hati &lt;em&gt;kebat kebit.&lt;/em&gt; Beberapa sambungan antarbagian sudah renggang. Menimbulkan bunyi &lt;em&gt;gemeretak&lt;/em&gt; yang seketika menciutkan hati kalau diinjak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalinan kabel berdebu yang terancam efek getas menjuntai disana-sini. Menciptakan habitat paling bagus buat binatang pengerat. Debu tebal menggumpal dan saling bergumulan tatkala sepasang kaki datang menerjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turun ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar bangku buat penonton yang masih terbuat dari lonjoran kayu panjang bercat kuning, sepintas mengingatkan saya pada tulang &lt;em&gt;bale&amp;shy;-bale&lt;/em&gt; bambu di depan rumah khas orang Betawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pekerja dengan santai mengayunkan sapu ijuknya yang nyaris sudah terkikis habis di antara susunan meninggi bangku-bangku kayu yang terbuat dari lonjoran kayu-kayu panjang itu. Ia berikan saya jalan melintas, yang tak segera saya indahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya menatap heran. Ucap saya, silahkan saja teruskan pekerjaan Bapak. Ia menyapu lagi dengan sigap. Tak kalah sigap, saya pencet berkali-kali &lt;em&gt;shutter &lt;/em&gt;kamera yang moncong lensanya mengarah lurus ke sosok pekerja yang menyapu itu, dan efek alami etos seorang pekerja pun tercipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ujung lain pada dua minggu yang silam saat ujung-ujung persiapan itu, sejumlah panitia takzim mendengarkan taklimat dari salah seorang pemimpin mereka. Berkumpul dalam lingkaran besar sambil berdiri di atas lantai kayu yang bakal segera dipasangi empat karpet hijau sebagai tempat buat pebulu tangkis dari 16 negara berlaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah pekerja lain bersiap menaikkan beberapa rangkaian lampu sorot yang disewa dari salah satu rumah produksi untuk dinaikkan sebegai penerang lapangan laga. Lampu-lampu sorot yang digunakan sepanjang kejuaraan itu digelar, karena pada akhirnya memang tak ada lampu-lampu sorot asli bawaan Istora yang dipakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampu-lampu sorot baru, yang tak jelas spesifikasinya dengan salah satu penutup bola lampunya yang terbuat dari bahan mika harus pecah beberapa hari sesudahnya. Pecah, persis tatkala salah satu partai antara Tim Uber China menghadapi Jerman dan Tim Uber Denmark melawan Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serakan bahan mika yang kemudian jatuh di antara lapangan nomor tiga dan empat itu membuat Jerman memilih buat menghentikan saja laga. Sebuah peristiwa langka yang kemudian melahirkan analisa prematur dari penyelenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata analisa buru-buru itu, lampu itu pecah gara-gara ketika itu terjadi, ada sejumlah orang berada di jalur besi-besi kokoh yang memang masih menggantung dan menggenggam erat satu sama lain. Jalur landasan yang untuk menjejak sungguh bikin hati &lt;em&gt;kebat kebit&lt;/em&gt; dengan sambungan antarbagian sudah renggang, yang bisa menimbulkan bunyi &lt;em&gt;gemeretak&lt;/em&gt; dengan seketika menciutkan hati kalau diinjak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalur yang beberapa hari sebelumnya saya pijak dan jalani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, polisi pun dipanggil sebagai petugas resmi untuk bertanya soal kronologi pada sejumlah orang yang dicurigai dan dituduh sebagai pencemar nama Indonesia sebagai penyelenggara, gara-gara disangka sebagai penyebab pecahnya mika pembungkus bola lampu sorot tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polisi yang bikin saya ngeri. Karena tiba-tiba saja saya merasa tengah berada di tengah-tengah medan pertempuran bersenjata dan bukan pertandingan olahraga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya dugaan dan prasangka. Tak pernah ada analisa dan data teknis yang mendahului.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal spesifikasi. Soal hitung-hitungan matematis logis yang mestinya jadi patokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketimbang hanya dugaan fisis belaka. Bahwa getaran, tak peduli seberapa besar amplitudonya, bakal jadi penyebab paling bertanggung jawab terhadap pecahnya mika pembungkus bola lampu yang disewa dari salah satu rumah produksi tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar, orang-orang mengantre tiket masuk tanpa kepastian. Anak-anak kecil dan bayi ditidurkan begitu saja di atas lembaran-lembaran koran dan kain yang jadi alas seadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang mengantre sejak subuh. Tanpa kepastian pengetahuan kapan loket kusam yang sempit itu akan dibuka. Selepas waktu dzuhur, loket kumuh itu akhirnya dibuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang mendesak. Sejumlah ibu-ibu yang datang sejak matahari terbit sepenggalah memilih mundur. Saya bisa jadi kurus kalo harus ikut-ikutan mengantre begitu, kata seorang ibu-ibu paruh baya berbadan subur kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sampai setengah jam, loket ditutup. Orang-orang berteriak kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam, penyejuk udara menggelontor angin dingin. Sedingin Istora yang membekukan prestasi bulu tangkis Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah, tak ada lagi yang ingat kalau dulu Emak dan Bapak saya dan generasi seusia mereka lainnya harus rela bertaruh rasa sejahtera dan kesempatan berbahagia supaya bangunan megah pencipta rasa bangga itu bisa berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-6793361338043536021?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/6793361338043536021/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=6793361338043536021&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/6793361338043536021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/6793361338043536021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/05/istora-jakarta.html' title='Istora Jakarta'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SDrCWoOVWVI/AAAAAAAAANk/4roX-GZnuEg/s72-c/20080506INK03.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-5143118777834769037</id><published>2008-05-20T06:53:00.000-07:00</published><updated>2008-11-13T15:53:43.809-08:00</updated><title type='text'>Bahasa China</title><content type='html'>&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5204659663766116674" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SDqqY4OVWUI/AAAAAAAAANc/BjnS0QXprGY/s320/20080509inkf.jpg" border="0" /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Suatu malam saya diundang ke jamuan makan malam resmi. Pengundangnya Bank of China yang bekerjasama dengan Kedutaan Besar Republik Rakyat China di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamuan makan malam itu sejatinya ditujukan bagi atlet-atlet bulu tangkis China yang sedang berada di Jakarta. Para pebulu tangkis putra dan putri yang mau berjuang mempertahankan Piala Thomas dan Piala Uber yang masing-masing sudah mendekam di China semenjak empat dan sepuluh tahun terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bank of China adalah salah satu sponsor resmi tim bulu tangkis China, selain perusahaan ekspedisi FedEx, yang makin dikenal saat muncul di film "Cast Away," dengan Tom Hanks jadi pemeran utamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah, malam itu selain Pelatih Kepala Tim Bulu Tangkis China, Li Yongbo, hadir pula seluruh pemain, seperti pebulu tangkis tunggal putra urutan pertama dunia Lin Dan, yang perseteruannya lewat media dengan pebulu tangkis tunggal putra kedua Indonesia, Taufik Hidayat, sempat ramai beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di salah satu ujung meja yang lain, dalam penerangan lampu yang temaran, sepertinya datang pula pebulu tangkis peringkat satu dunia, Xie Xingfang. Lin Dan serta Xie Xingfang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua pebulu tangkis nomor satu dunia yang jadi sekarang jadi raja dan ratu dalam artian yang bisa disejajarkan dalam dunia nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lin Dan dan Xie Xingfang adalah sepasang kekasih. Bahkan, Xingfang yang meradang tatkala merasa Lin Dan dilecehkan Taufik pada momen Asian Games 2006 di Doha, Qatar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, percayalah, sepanjang acara semenjak dimulai hingga penghujungnya, tak banyak yang bisa saya perbuat. Persoalan utamanya ada pada kebodohan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sama sekali tak memahami bahasa pengantar dan lantas dijadikan sebagai bahasa resmi dalam jamuan makan malam itu. Jamuan yang kemudian diteruskan dengan hiburan musik tradisional China yang digabungkan dengan permainan alat-alat musik modern itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya satu lagu yang saya paham betul. Tatkala penyanyi dan kelompok pemain musiknya melagukan Bengawan Solo yang diciptakan Gesang. Selebihnya, saya hanya bisa &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;manggut-manggut &lt;/span&gt;sembari &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;cengar cengir&lt;/span&gt;, plus tengok kanan kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menit pertama masuk ruangan besar yang diberi titel &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;ballroom &lt;/span&gt;pada salah satu hotel bintang lima di pusat Jakarta itu, saya disergap rasa cemas. Bagaimana tidak, kalau memang tidak ada hal yang saya pahami dari mereka semua yang sedang berbicara di atas panggung. Bahkan, saya tidak paham dan sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan orang-orang yang duduk di bangku-bangku elegan yang mengelilingi sejumlah meja makan besar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, saya memenuhi undangan itu bukan hanya sekedar untuk menghormati pengundang. Tujuan saya adalah mengetahui segala ihwal yang mungkin saya bisa ketahui mengenai tim bulu tangkis China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mau tahu strategi mereka. Saya ingin tahu pendapat mereka soal kekuatan bulu tangkis negara-negara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu itu bukan hal mudah. Kendala utamanya, ya itu tadi, gara-gara kebodohan saya. Malam itu, tantangannya ditambahi satu lagi, banyak sekali orang-orang yang lebih pandai dari saya karena mereka lihai berbahasa China, terus menerus mengerubungi Li Yongbo dan pemain-pemain China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minta tanda tangan dan foto bersama. Tak lupa, banyak di antara mereka yang kemudian terlibat dalam obrolan satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, saya memenuhi undangan itu bukan hanya sekedar untuk menghormati pengundang. Tujuan saya adalah mengetahui segala ihwal yang mungkin saya bisa ketahui mengenai tim bulu tangkis China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah, dengan yakin saya hilir mudik kesana kesini. Berpindah dari satu meja jamuan ke meja jamuan yang lain. Berdiri, menguping, dan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;sok&lt;/span&gt; mengerti apa yang sedang dibicarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, di deretan meja paling depan, saya lihat Lin Dan lagi dikerubungi beberapa perempuan muda. Mereka berfoto bersama. Ngobrol sebentar, dan ditutup dengan suara &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;ketawa ketiwi &lt;/span&gt;beberapa perempuan muda tadi. Supaya meyakinkan, saya ikut &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;ketawa ketiwi&lt;/span&gt; sebentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya dekatkan muka saya ke wajah Lin Dan, supaya omongan saya bisa didengarnya. Perlu begitu, karena dengan suasana yang agak berisik, rasanya mustahil bicara dengan nada suara normal dengan jarak yang terpisah seperti pembicaraan pada suasana biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedanya, saya &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;ngomong&lt;/span&gt; tidak pakai bahasa China, melainkan Inggris. Itulah kebodohan saya. Berharap Lin Dan pun fasih pakai bahasa negara yang pernah punya wilayah jajahan terluas di dunia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, harapan saya tak sepenuhnya kosong. Karena yakin Lin Dan mau menanggapi saya, maka ia pun dengan terbata-bata menjawab beberapa pertanyaan saya. Tapi selebihnya, saya harus bisa berlapang dada tatkala ia berkata &lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic;font-family:verdana;" &gt;"sorry, no English, no English.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Yah, saya pun keliling lagi. Kali ini target saya pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Li Yongbo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kata rumor yang beredar, pelatih satu ini sebetulnya paham Bahasa Inggris. Namun, dalam berbagai kesempatan, Yongbo lebih suka menggunakan bahasa ibunya. Lalu, buat yang berkepentingan bertanya kepadanya, Yongbo lebih memilih pakai penerjemah. Ini salah satu strategi kebudayaan yang menurut saya sangat brilian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sejumlah orang tengah bercakap-cakap dengan Yongbo. Plus, tentu saja, minta tanda tangan dan foto bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasti, langsung mendesak masuk dengan cecaran pertanyaan tak akan berhasil. Apalagi kalau bertanya pakai bahasa selain bahasa China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak bisa tidak, saya pun harus menjadi salah satu di antara pemburu tanda tangan itu. Maka, saya siapkan pulpen dan buku catatan yang jadi andalan saya kapan saja. Lantas, sepasang mata saya fokuskan hanya melihat ke satu titik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Li Yongbo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu Yongbo sudah duduk. Ia tengah menghadapi semangkuk sup yang jadi hidangan pembuka di atas meja makan. Yongbo pakai topi hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara saya menyapa Yongbo, awalnya saya pun gelap. Tak tahu bagaimana mengawalinya. Hanya saja saya ingat, ada kata kata berbunyi &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;xie xie &lt;/span&gt;dalam bahasa China yang tafsirnya berarti terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, saya sapa Yongbo dengan itu. &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Xie xie, &lt;/span&gt;dan Yongbo pun menoleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak membuang waktu, saya sorongkan buku catatan dan saya berikan pulpen kepadanya. Tak menunggu lama, Yongbo pun membubuhkan tanda tangannya di salah satu halaman buku catatan saya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai sejak Yongbo menerima pulpen dari saya, sejak itulah saya mulai nekat mengajaknya bicara pakai bahasa Inggris. Gara-gara keyakinan saya bahwa Yongbo akan menanggapi, maka itulah yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yongbo menjawab pertanyaan saya pakai bahasa Inggris pula. Lalu ia mengatakan pada saya, saat ini kekuatan dan peluang negara-negara lain buat jadi kampiun bulu tangkis relatif sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu penyebabnya adalah penggunaan sistem &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;rally point &lt;/span&gt;sejak Desember 2005 lalu, ketimbang sistem &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;serve point&lt;/span&gt; yang digunakan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dalam sistem &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;rally point&lt;/span&gt;, pertandingan berakhir dalam 21 angka untuk kelompok putra dan putri. Pada sistem &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;serve point,&lt;/span&gt; laga di kelompok putra berakhir dalam 15 angka dan 11 angka bagi kelompok putri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada lagi istilah &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;deuce&lt;/span&gt; dalam sistem &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;rally point &lt;/span&gt;dan&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt; &lt;/span&gt;penyebutan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;set&lt;/span&gt; diganti dengan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;game. &lt;/span&gt;Jika skor imbang 20-20, pemain dengan keunggulan selisih dua nilai pada kejar-kejaran poin selanjutnya, jadi pemenang di &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;game &lt;/span&gt;tersebut. Jika kejar mengejar poin terus terjadi, pemain yang lebih dulu mendapat 30 angka, dinobatkan jadi pemenang di &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;game&lt;/span&gt; tersebut. Jika kedua pihak sama-sama menang pada dua &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;game&lt;/span&gt; awal, tentu harus pula dilagakan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;game &lt;/span&gt;tambahan. &lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Rubber games.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peluang yang jadi seimbang menurut Yongbo, karena dalam &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;rally point&lt;/span&gt;, siapapun punya peluang serupa mendulang angka. Berbeda dengan sistem &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;serve point,&lt;/span&gt; saat pengumpulan angka hanya bisa dilalakukan oleh pemain yang tengah memegang kendali servis. Jika mau mengumpulkan angka, maka pemain yang lain harus lebih dulu merebut kendali sevis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pindah servis ini bisa berjalan bolak-balik di masa lalu ketika sistem &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;serve point&lt;/span&gt; digunakan. Membuat laga cenderung berdurasi panjang dan dikembangkannya kemampuan hingga batas paling maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu tadi, peluang buat menjadi juara relatif mudah dibaca. Hal ini menurut Yongbo, tak akan terjadi dengan sistem &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;rally point.&lt;/span&gt; Setiap pemain punya peluang sama. Tergantung pada kesiapan fisik, teknik, dan mental buat memanfaatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua kubu punya peluang untuk merasakan sensasi penasaran dan rasa &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;dag dig dug&lt;/span&gt; yang imbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan, pendapat Yongbo sedikit terbukti. Tak dinyana, Tim Uber Belanda mampu menyulitkan China di babak semifinal, sebelum Tim Uber China menang dengan skor ketat 3-2. Begitu pula yang terjadi saat Tim Thomas Malaysia memberikan perlawanan ketat pada Tim Thomas China di babak semifinal, sebelum Tim Thomas China menang dengan skor ketat 3-2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lanjutkan pertanyaan kepada Yongbo. Beberapa pertanyaan sempat menderas masuk dan dijawab Yongbo dengan santai. Termasuk bagaimana soal kondisi terakhir Lin Dan, yang beberapa hari sesudahnya sempat menelan kekalahan dari pebulu tangkis tunggal putra pertama Malaysia, Lee Chong Wei, di babak semifinal Piala Thomas 2008 itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum akhirnya hidangan utama datang dan memutus pembicaraan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai hari ini, itulah kesempatan pertama dan terakhir saya bercakap-cakap dengan Li Yongbo pakai bahasa Inggris. Selanjutnya, pada pertemuan-pertemuan yang lain, Yongbo selalu memilih didampingi penerjemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerjemah yang membuat saya gerah. Bukan karena penerjemah itu tidak tersumpah. Tapi sungguh, pakai jasa penerjemah bikin saya jengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada distorsi komunikasi. Itu pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barusan, saya &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;ngobrol&lt;/span&gt; dengan seorang kawan yang beberapa tahun terakhir ini berkarir di Singapura. Dia mendorong saya untuk segera menguasai &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;pinyin. Pinyin&lt;/span&gt; adalah cara penulisan pakai huruf latin untuk bahasa Mandarin (baca: Bahasa China).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem fonetik &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;pinyin&lt;/span&gt; ini dibuat Lembaga Pembaharuan Tulisan Republik Rakyat China pada 1958 lalu. Soalnya, tanpa sistem penulisan dengan aksara latin ini, akan susah bagi orang selain bangsa China yang mau menguasai bahasa China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasalnya, bahasa China tidak pakai aksara latin. Bahasa China menggunakan aksara Hànzì, yang terdiri atas ribuan aksara. Aksara kanji yang satu rumpun dengan bahasa Jepang dan juga Korea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piala Thomas akhirnya dipertahankan China usai melumat Korea Selatan 3-1. Tim Uber China juga mempertahankan Piala Uber setelah meluluhlantakkan Indonesia 3-0.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat tidak puas. Terutama karena kebodohan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Xie xie.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-5143118777834769037?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/5143118777834769037/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=5143118777834769037&amp;isPopup=true' title='71 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/5143118777834769037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/5143118777834769037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/05/bahasa-china.html' title='Bahasa China'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SDqqY4OVWUI/AAAAAAAAANc/BjnS0QXprGY/s72-c/20080509inkf.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>71</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-8016906597591609784</id><published>2008-04-25T07:33:00.000-07:00</published><updated>2008-11-13T15:53:43.994-08:00</updated><title type='text'>Suvarnabhumi Membumi</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SBHsWoLzxzI/AAAAAAAAANM/pS9fTekoa9s/s1600-h/62.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5193191718823118642" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SBHsWoLzxzI/AAAAAAAAANM/pS9fTekoa9s/s320/62.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Beberapa waktu lalu saya ditinggal pesawat milik maskapai asal Indonesia yang terus menerus dicekal buat terbang di atas langit Eropa. Bukan gara-gara saya terlambat. Juga bukan karena saya alpa membawa tiket.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Tapi kesialan memang sedang mampir pada saya di siang terik itu. Ceritanya, tiket kepulangan saya kembali ke Jakarta, secara tak disangka tak terbawa oleh seseorang yang sebelumnya saya percayakan untuk mengurus soal itu di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah, saya tercecer sendirian di Bandara Suvarnabhumi, Racha Thewa, Bang Phli, Provinsi Samut Prakan, Thailand, pada siang menggantang itu. Suvarnabhumi yang kira-kira berarti sama dengan Tanah Emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih mencoba jurus nekat pada detik-detik terakhir. Sambil menerobos lorong-lorong penjagaan akhir petugas imigrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencoba menjelaskan kalau saya adalah penumpang resmi. Kalau tak percaya silahkan cek sendiri. Kira-kira seperti itulah argumentasi konyol saya ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengambil jarak sejurus, saya balik kanan tatkala upaya itu gagal. Saya pijit-pijit tombol di telepon genggam. Entah siapa yang saya hubungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muka saya terasa panas. Bulir-bulir keringat sebesar biji jagung jatuh taat pada hukum gravitasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pada akhirnya burung besi yang sedianya saya tumpangi itu melesat jauh melawan hukum gravitasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata saya nanar. Menatap sekeliling. Mencoba menganalisa situasi. Mengenali ancaman sekaligus peluang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera saya sadari, sebenarnya ini bisa dilihat sebagai sebuah berkah. Yah, segala sesuatu memang bisa diteropong dari berbagai sisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada pendapat positif, pastilah ada juga yang menganggapnya negatif. Kalau ada yang bilang sesuatu itu baik, bisa dipastikan pada kutub lain ada yang bilang sesuatu itu buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, semua hal nilainya memang relatif. Tak ada kebenaran absolut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya telepon seorang teman yang masih tinggal sementara di Provinsi Chonburi, Thailand. Tepatnya di lokasi wisata Pantai Pattaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minta tolong supaya pulsa telepon saya diisi. Sekedar jaga-jaga saja kalau-kalau saya terpaksa menginap di bandara. Atau dari kemungkinan apa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah mekanisme wajar pertahanan diri di daerah yang asing adalah dengan mendekatkan identitas kita dengan berbagai karakteristik yang dikenali. Inilah yang menjelaskan kenapa organisasi bersifat kedaerahan eksis di berbagai kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga asosiasi mengenai kumpulan bangsa-bangsa tertentu yang dinamis di negara-negara yang bukan rumpun mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulsanya masuk. Nilainya 300 baht Thailand. Atau sekitar Rp 100 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya duduk di sebuah kursi. Ada beberapa orang dengan tas-tas besar di kanan kiri saya. Mereka tak peduli dengan kehadiran saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya mereka penumpang transit dari sejumlah negara. Itu tampak dari muka mereka yang letih. Juga aroma badan yang tak lagi segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pria tua berseragam berusia di akhir 50 tahun yang saya lihat &lt;em&gt;wira wiri&lt;/em&gt;. Ia petugas resmi bandara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang matanya awas mengamati gerak gerik saya. Ada seorang pria gagah berusia lebih muda mendampingi. Mungkin lelaki muda ini deputinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dia tak dapat memendam hasratnya untuk tidak menanyai saya. Pertama sekali pertanyaan yang meluncur deras dengan jantan dari balik bibir keriputnya adalah, apakah saya sudah punya tiket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bilang tak kalah gagahnya. Punya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikir saya, daripada panjang urusan. Berhadapan dengan birokrasi di sebuah negara yang saya belum paham betul bagaimana aturan mainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sekali lagi saya bilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secepat lalat merasakan bahaya, saya pun putar haluan troli berisi ransel besar dan berbungkus-bungkus barang bawaan. Sebelum ia meminta bukti nyata ucapan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, tiket pulang yang tidak terbawa bukan hambatan bagi saya mencari tiket penerbangan lain ke Jakarta. Karena informasi panduan cukup jelas. Disajikan dalam bahasa Thai dengan aksara &lt;em&gt;Brahmi&lt;/em&gt; dan bahasa Inggris dengan aksara Latin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tanya jadwal tercepat penerbangan ke Jakarta pada sebuah maskapai asal negeri jiran yang maju berkat konsep &lt;em&gt;low cost carrier&lt;/em&gt;, berikut harganya. Saya hitung persediaan duit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya sejumlah lembar &lt;em&gt;dollar &lt;/em&gt;Amerika Serikat masih saya kantungi. Pergilah saya ke gerai penukaran mata uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya menunggu selama delapan jam. Sampai waktu keberangkatan dinyatakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas menunggu di Bandara Suvarnabhumi yang dibuka resmi 28 September 2006 sebagai pengganti Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand yang dibuka sejak 27 Maret 1914 rupanya bukan persoalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada calo. Tak ada petugas berkumis &lt;em&gt;baplang &lt;/em&gt;yang bertampang menakutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma petugas bandara berseragam tadi. Petugas yang menanyakan tiket yang dimiliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengisi waktu selama berjam-jam itu juga bukan hal membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan luas terminal 563.000 meter persegi dan menara kontrol 132,2 meter, menjadikan Suvarnabhumi sebagai bandara dengan luas terminal terbesar kedua dan menara kontrol tertinggi nomor satu di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya potret sana potret sini. Sampai saya ubah setelan memori kamera digital, supaya bisa lebih banyak menampung hasil jepretan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, delapan jam pun rasanya masih kurang buat merayakan seisi bandara yang konstruksi &lt;em&gt;runway &lt;/em&gt;paralelnya (masing-masing dengan lebar 60 meter serta panjang 4000 meter dan 3.700 meter) dan &lt;em&gt;taxiway&lt;/em&gt; paralelnya sempat mengalami kerusakan serius itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat peristiwa itu terjadi, sejumlah penerbangan tertunda dan dialihkan pada 25 Januari 2007, menyusul perbaikan serius terhadap keretakan yang terjadi pada &lt;em&gt;runway.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu risau menunaikan ibadah lima waktu bagi umat Muslim. Terdapat mushalla yang nyaman dengan daya tampung lumayan serta akses yang mudah karena banyaknya papan penunjuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada begitu banyak deretan restoran, kafe, dan tempat &lt;em&gt;leyeh-leyeh&lt;/em&gt; yang membuat seolah Cilandak Town Square Mall di Jakarta hadir di bandara itu. Saya bergegas ke toko buku yang penjaganya sempat tarik urat dengan saya, ketika di pagi buta beberapa hari sebelumnya saya tiba usai mendarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu sikapnya tidak simpatik. Padahal saya cuma mau beli buku percakapan singkat dalam bahasa Thai yang beraksara Latin. Bukan &lt;em&gt;Brahmi&lt;/em&gt; yang sepintas mirip aksara &lt;em&gt;Hanacaraka&lt;/em&gt; dalam bahasa di Tanah Jawa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supaya bisa saya praktikkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi buku yang saya maksudkan memang sepertinya tak dijual di tempat itu. Akhirnya saya putuskan buat berjalan ke jurusan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum ke ruang tunggu keberangkatan, saya masih sempat mampir pula ke deretan toko yang nuansanya serupa di Pondok Indah Mall atau Plaza Senayan di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pasti, tak ada barang yang saya beli. Apa daya, persediaan lembaran uang di dompet sudah menipis sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga tak punya solusi berupa kartu kredit, yang bagi saya masih lebih mirip serigala pemangsa di malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi keberangkatan dan kedatangan dipampang di berbagai lokasi. Jadi, tak usah khawatir kelewatan informasi saat asyik masyuk berbelanja atau menikmati hidangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi perut yang keroncongan tak bisa diajak kompromi. Jadi, saya pun mencoba hidangan nasi kare ayam seharga 85 &lt;em&gt;baht&lt;/em&gt; yang belum termasuk pajak 10 persen, plus air mineral 15 &lt;em&gt;baht&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, belum ada kesempatan bagi saya mengabadikan kesibukan lalu lalang pesawat di bandara yang didesain oleh Helmut Jahn dari biro arsitek Murphy/Jahn Architects itu. Tepat pukul delapan malam saya menentang hukum gravitasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membran gendang telinga saya berdengung. Kombinasi raungan mesin &lt;em&gt;scram jet&lt;/em&gt; yang menyeruak ke dalam kabin ditambah serangan &lt;em&gt;influenza &lt;/em&gt;jadi perpaduan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga setengah jam kemudian saya mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-8016906597591609784?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/8016906597591609784/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=8016906597591609784&amp;isPopup=true' title='25 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/8016906597591609784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/8016906597591609784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/04/suvarnabhumi-membumi.html' title='Suvarnabhumi Membumi'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SBHsWoLzxzI/AAAAAAAAANM/pS9fTekoa9s/s72-c/62.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>25</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-4981085338663426988</id><published>2008-04-24T07:11:00.000-07:00</published><updated>2008-11-13T15:53:44.259-08:00</updated><title type='text'>Setan Pendidikan</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SBCWJYLzxyI/AAAAAAAAANE/VcMnnHwYT_g/s1600-h/61.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192815458213152546" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SBCWJYLzxyI/AAAAAAAAANE/VcMnnHwYT_g/s320/61.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tiga hari yang lalu saya bangun pagi-pagi sekali. Bergegas saya sambar gagang telepon. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Anak lelaki saya yang berumur 21 bulan berceloteh girang. Istri saya yang baru saja meninggalkan zona nyamannya sebagai karyawan serta memilih jadi seorang &lt;em&gt;entrepreneur &lt;/em&gt;dan pagi itu tengah bersiap menemui salah seorang kliennya, tak mampu menyamai agresivitas anak lelaki saya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam sekejap gagang telepon yang dilewati jaringan kabel tembaga itu sudah berpindah ke tangan anak lelaki saya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu saya bermaksud menelepon adik perempuan saya yang bungsu di Jakarta. Beda usia sembilan tahun memisahkan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari yang lalu, sebagai siswi kelas akhir sebuah sekolah menengah kejuruan, adik perempuan saya yang bungsu itu mulai menjalani “perang” nya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mesti mengikuti sebuah proses bernama Ujian Sekolah Berstandar Nasional atau USBN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang menyebutnya dengan kependekan Ujian Nasional atau Unas. Ada juga yang menyingkatnya pendek sekali dengan dua huruf saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari seberang gagang telepon, adik perempuan saya yang bungsu terdengar gugup. Tapi saya tak bisa banyak berbuat. Hanya sedikit nasihat standar yang saya semburkan. Selebihnya saya malah lebih banyak berbincang dengan Emak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum anak saya menyambar gagang telepon yang dilewati jaringan kabel tembaga tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tiga hari belakangan ini badan saya kemudian jadi meriang tak karuan. Tidur tak nikmat. Bentol-bentol menyerang dan rasa gatal menghebat di seluruh tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai hari pertama ujian itu, saya lihat tayangan televisi soal sejumlah pelajar yang menangis tiada henti usai menjalani “perang” nya di hari pertama. Mereka tak menyangka soal yang disajikan sangat sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, mereka menangis. Takut tak lulus saringan UN tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat adik perempuan saya yang bungsu. Gatal saya makin menghebat. Bentol-bentol kali ini sudah sampai di kulit kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera saja saya raih gagang telepon lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang soalnya sulit. Gara-gara itu pula beredar bocoran soal kunci jawaban UN di sekolah adik perempuan saya yang bungsu. Entah siapa penyebarnya dan apa motivasinya. Entah benar, entah tidak bocoran soal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adik perempuan saya yang bungsu bergeming terhadap tawaran menggiurkan itu. Alasannya sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Gue&lt;/em&gt; takut ditangkap polisi,” itu katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah ia melanjutkan “perang” nya itu dengan kejujurannya. Dengan caranya sendiri. Bersama prinsip yang diyakininya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada mata pelajaran seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika yang mesti dihadapinya dengan standar rata-rata 5,25 supaya bisa lulus. Tahun lalu, standar minimal ini masih berada pada angka 5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya masih ada larangan tidak boleh ada nilai lebih rendah dari 4,25. Atau nilai minimal 4 pada mata pelajaran tertentu dengan mata pelajaran lain minimal 6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, sebagai siswi sekolah kejuruan, ia juga diwajibkan meraih nilai minimal 7 untuk sejumlah mata pelajaran kompetensi yang merujuk pada keahliannya. Nilai-nilai ini dipakai pula buat menghitung rata-rata nilai UN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini sudah hari ketiga. Pada layar televisi saya saksikan sejumlah guru ditangkap polisi. Tuduhan membocorkan soal UN berikut kunci jawaban dengan gagah dialamatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka digelandang masuk ke kantor polisi. Hukuman penjara enam tahun menanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah-olah tokoh-tokoh pengajar dan pendidik itu adalah penjahat kelas berat. Lebih jahat daripada pengemplang dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia. Lebih buas daripada koruptor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau dikata apa. Berita yang disajikan di layar televisi tadi juga tak mencerahkan. Seolah hanya sekedar mencari sensasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya melihat dari sudut pandang sosok guru yang semestinya di &lt;em&gt;gugu&lt;/em&gt; dan di &lt;em&gt;tiru&lt;/em&gt;, untuk kemudian dikontraskan dengan kelakuannya saat UN digelar. Perilaku yang dengan gagahnya disebut sebagai jahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terpuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat sejumlah guru yang digelandang ke dalam kantor polisi itu harus menutupi wajah mereka dengan selembar kain kecil. Atau dengan apa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada ulasan tambahan. Soal gaji dan tunjangan guru yang belum sampai. Soal berbagai ancaman sanksi hingga pemecatan terhadap guru-guru itu jika ada anak didik mereka yang tak lulus UN. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Soal utang-utang mereka yang menumpuk untuk sekedar bertahan hidup. Soal janji tunjangan sertifikasi yang praktiknya tak sepenuh hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal pemotongan anggaran program pendidikan tahun ini yang besarnya mencapai 10 persen. Dari jatah Rp 49 triliun dipotong Rp 4,918 triliun, hingga jadi Rp 44 triliun lebih sedikit saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal-soal yang pasti mendegradasi kesejahteraan guru-guru tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuannya penghematan anggaran. Tapi tetap saja mereka yang dengan bangga menyebut diri sebagai wakil rakyat, dan minta dihormati serta merasa punya kehormatan lebih sehingga butuh sebuah lembaga khusus bernama Badan Kehormatan, &lt;em&gt;wira wiri&lt;/em&gt; pakai fasilitas kelas satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pejabat mana yang mau hidup melarat bersama rakyat. Jadi, anggaran mana yang dihemat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau dikata apa. Berita yang disajikan di layar televisi tadi juga tak mencerahkan. Seolah hanya sekedar mencari sensasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam saya bertanya pada diri sendiri. Ada kemungkinan yang sangat besar bagi saya untuk gagal dalam UN, jika saya duduk di bangku kelas terakhir SMA pada tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan saja, dengan standar minimal yang harus dipenuhi tanpa cela itu, saya harus menyelesaikan soal-soal yang meliputi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Geografi, Ekonomi, dan Sosiologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu kalau saya memilih program IPS, jika saya memilih program IPA maka Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, Kimia, Fisika, dan Biologi siap menghadang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di program bahasa ada Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Sastra Indonesia, Bahasa Asing, dan Antropologi. Jika program Keagamaan yang saya pilih, maka Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadis, Matematika, dan Tasawuf atau Ilmu Kalam sudah menanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua harus lolos persis dengan standar minimal tadi. Bagi saya, itu sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soalnya, pertama, saya bukanlah manusia dengan kemampuan multi-intelejensia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Howard Gardner yang punya teori soal intelejensia (kecerdasan) ganda, setelah menemukan tujuh jenis kecerdasan manusia pada dekade 80an, ada sembilan jenis kecerdasan pada manusia yakni linguistik, matematis-logis, kinestetik, ruang-visual, musikal, interpersonal, intrapersonal, lingkungan, dan eksistensial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua jenis kecerdasan tambahan ditemukannya lagi pada 1999 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua jenis kecerdasan tadi bisa ada pada manusia. Bisa juga hanya satu atau dua di antaranya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi adalah tidak mungkin jika seorang manusia tidak memiliki satu saja di antara jenis-jenis kecerdasan yang kata Gardner ada sembilan macam tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi gabungan beberapa jenis kecerdasan, atau semua jenis kecerdasan, atau dominasi hanya satu jenis kecerdasan itu tadi yang cenderung membentuk pola perilaku sosial seseorang dalam bermasyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, hal tersebut rupanya selama ini belum tersentuh oleh pengambil kebijakan pendidikan negeri ini. Fokus utama sepertinya melulu soal kecerdasan matematis-logis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diukur angka. Dinyatakan dalam bilangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal setiap orang punya tiga unsur penting. Selain fisik, jiwa dan pikiran juga aset berharga manusia. Hati adalah kunci. Organ tubuh paling bertanggung jawab terhadap segala tindak tanduk dan polah perilaku manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati bisa berubah. Hati bisa diubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu tabir ini takkan pernah terbuka jika selama hidup, yang melulu dicekokkan hanyalah berbagai standar konyol soal pendidikan yang tengah salah membaca peta di negeri ini tadi. Jadilah banyak orang terus memendam hasrat untuk memakai topeng orang lain dan menihilkan jati diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah banyak sekali terjadi aneka tren tidak penting yang menggelora tiap hari di negeri ini. Jadilah kita masih terus menerus terkungkung dalam budaya konsumsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal kita kaya potensi dan semestinya bisa berproduksi. Banyak sumber daya alami yang bikin banyak negara lain iri. Banyak kekayaan berbagai dimensi yang seringkali bikin negara lain keki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya kita belum mampu mandiri. Lagi-lagi ini soal pendidikan yang belum diseriusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum-belum, anggaran pendidikan yang sudah amat sangat kurang itu justru dipotong. Supaya ada penghematan pengeluaran bagi negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pejabat mana yang mau hidup melarat bersama rakyat. Jadi, anggaran mana yang dihemat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal kedua, saya merasa tak cukup kuat menahan beban keharusan dari model UN kini. Logika soal standardisasi yang menurut saya amat sangat tidak logis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mau menyamakan ujian dengan standar nasional, jika selama tiga tahun menempuh pendidikan dan menyerap pengetahuan, tak ada standar yang bisa dirasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Sabang sampai Merauke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan adik saya masih beruntung. Kami sekolah di Jakarta. Sekolah yang masih lengkap meja, kursi, dan papan tulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah yang masih punya laboratorium komputer dan perpustakaan. Sekolah yang punya lapangan olahraga dan beralaskan tegel keramik mengkilap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagaimana dengan saudara-saudara kami yang bersekolah di sekolah-sekolah yang fasilitasnya tak selengkap seperti yang dimiliki sekolah kami. Bagaimana saudara-saudara kami yang bersekolah dengan guru-guru yang kehadirannya untuk mengajar tak bisa diprediksi, apalagi dipastikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetap saja, mereka harus menempuh UN juga. Dengan standar akhir yang disamakan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal ketiga, saya merasa fokus pendidikan makin lama makin buyar. Orang semakin dituntut untuk belajar semua hal, tanpa menjadi paham akan hal-hal yang dipelajarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa fokus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa maksud meremehkan, saya merasa segala beban mata pelajaran yang saya harus hadapi selama tahun-tahun saya sejak bersekolah nyaris tanpa guna. Saya baru benar-benar merasa terfokus tatkala bertemu dengan banyak orang untuk berdiskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya main teater. Saat saya menikmati permainan lagu dan musik. Tatkala ada topik-topik yang memang merangsang saya untuk bergumul lebih jauh dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala saya sedang melakukan perjalanan ke wilayah-wilayah pedesaan terpencil dengan penduduk dan keadaan aslinya. Saat saya bertemu realitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bayangkanlah, berapa tahun waktu saya habiskan percuma untuk mempelajari hal-hal yang tak saya minati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi harus saya pelajari. Supaya dapat nilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar bisa lulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali lain saya tanya adik perempuan saya yang lain, yang sudah lulus dari sebuah institut kesenian ternama di Jakarta. Dia mengaku, rasa-rasanya tak ada hal yang bisa diingat ataupun manfaat yang dicerapnya selama tahun-tahun mengecap aneka mata pelajaran di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia baru menemukan jati dirinya yang utuh tatkala memutuskan ikut pendidikan lanjutan pada sebuah institut kesenian ternama di Jakarta itu. Sejak dua semester awal sudah banyak hasil yang bisa diperlihatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini ia merasa itulah dunianya. Sebuah dunia yang baru ditemukannya dalam lima tahun terakhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bayangkanlah, berapa tahun waktu yang dihabiskan adik perempuan saya yang sudah lulus dari sebuah institut kesenian ternama di Jakarta itu secara percuma, untuk mempelajari hal-hal yang sebetulnya tak ia minati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi harus dipelajarinya. Supaya ia dapat nilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar ia bisa lulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini sudah hari ketiga. Diam-diam ada perasaan bangga menyeruak terhadap adik perempuan saya yang bungsu, yang baru saja usai menjalani UN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap pilihannya. Terhadap prinsipnya. Terhadap kejujurannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dik, apapun hasil UN bagimu nanti, entah kau lulus ataupun tidak, kau akan tetap jadi pahlawan sejati bagiku. Abangmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UN. &lt;em&gt;United Nothing.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-4981085338663426988?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/4981085338663426988/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=4981085338663426988&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/4981085338663426988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/4981085338663426988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/04/setan-pendidikan.html' title='Setan Pendidikan'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SBCWJYLzxyI/AAAAAAAAANE/VcMnnHwYT_g/s72-c/61.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-459727964089328946</id><published>2008-04-21T07:22:00.000-07:00</published><updated>2008-11-13T15:53:44.362-08:00</updated><title type='text'>Realitas Blues</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SAylZhvpOWI/AAAAAAAAAM8/3W-HpBWLRn0/s1600-h/60.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5191706328424855906" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SAylZhvpOWI/AAAAAAAAAM8/3W-HpBWLRn0/s320/60.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Malam Jum’at kemarin mampir sebuah pesan singkat di layar telepon genggam saya. Sebuah informasi dari seorang sahabat saya di Jakarta. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Kabar soal jadwal tontonan yang dibawakan sejumlah pemusik &lt;em&gt;blues&lt;/em&gt; di kota itu. Tontonan hidup yang tersaji di salah satu tempat nongkrong dan &lt;em&gt;kongkow-kongkow&lt;/em&gt; sembari menyantap makanan dan menyeruput minuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Blues&lt;/em&gt; yang erat dengan realitas dan kejujuran fakta hidup. &lt;em&gt;Blues&lt;/em&gt; yang mulanya banyak dibawakan kalangan tertindas di Amerika Serikat bagian Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah akar bagi &lt;em&gt;jazz &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;rock&lt;/em&gt; yang dengan berbagai variannya, atau jenis musik apapun juga yang sekarang menguasai jagad hiburan dan jadi komoditas dengan ukuran utamanya pada aspek komersial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal nilai jual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi yang sampai pada saya soal jadwal manggung tadi sejatinya adalah sebuah revisi. Soalnya, hampir satu bulan lalu kami berdua sedikit keki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah putar-putar beberapa lokasi hingga menjelang pagi, sajian hidup musik &lt;em&gt;blues&lt;/em&gt; yang pada masa awalnya banyak bercerita soal kesedihan dan depresi itu tak juga kami temukan. Sebetulnya ada satu klub yang jadi andalan buat menyaksikan musik &lt;em&gt;blues &lt;/em&gt;yang liriknya sering dinyanyikan berulang-ulang dengan sebuah larik kesimpulan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, pada waktu pagi buta itu kami datang berkunjung, pintunya terkunci rapat. Ada sebuah papan penunjuk yang memastikan klub itu lagi tutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata sahabat saya, pemiliknya memang sangat &lt;em&gt;moody&lt;/em&gt;. Keputusan buka atau tidak, tergantung juga jadwal manggung kelompok musiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, jadilah hari itu kami &lt;em&gt;luntang luntung&lt;/em&gt; sampai menjelang waktu subuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca pesan singkat di layar telepon genggam tadi, saya pun masih harus &lt;em&gt;merem melek&lt;/em&gt; menahan keinginan buat mendengar dan menyaksikan tontonan itu secara langsung. Mau bagaimana lagi, tak kurang dari 900 kilometer jarak, kini memisahkan saya dan &lt;em&gt;ekstase &lt;/em&gt;musikalitas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan, baru tiga hari yang lalu saya ketemu Andre Hehanussa. Kata Andre, yang dulu merintis karir sebagai salah satu vokalis &lt;em&gt;Katara Singers&lt;/em&gt;, dia lagi bersiap meluncurkan album barunya pada bulan depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan rekan duet Julio Iglesias lewat lagu berjudul &lt;em&gt;To All The Girls I’ve Loved Before&lt;/em&gt; itu dengan percaya diri menunjuk dadanya dan dada saya dengan telunjuk tangan kanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau Adalah Aku,” katanya singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu judul album barunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Digarap bersama Syarif Bastaman dan Adi Adrian. Nama terakhir adalah salah satu personel kelompok musik bernama KLa Project.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok musik yang mulai bikin saya patah hati sejak total empat personelnya berkurang pada 2001 lalu. Lalu, satu demi satu di antara mereka pun pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga sekarang saya belum mendengar lagi kabar baru dan baik soal KLa Project.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal kalau ukurannya adalah menyukai seluruh hits KLa Project, saya ini termasuk KLanis. Sebutan yang kira-kira mirip dengan &lt;em&gt;Slanker &lt;/em&gt;buat penggemar kelompok musik Slank atau &lt;em&gt;Oi &lt;/em&gt;buat penggila Iwan Fals.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Andre yang dulu gemar membawakan sejumlah komposisi milik &lt;em&gt;The Manhattan Transfer &lt;/em&gt;saat bersama &lt;em&gt;Katara Singers&lt;/em&gt;, “pertapaan” selama empat tahun menghasilkan album baru itu. Total berisi 12 buah lagu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Andre belum menjelaskan apakah album baru itu masih akan kental rasa &lt;em&gt;rhytm &amp;amp; blues&lt;/em&gt; seperti ketika ia melejit lewat Bidadari, Karena Kutahu Engkau Begitu, dan Kuta Bali itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya menduga referensinya tak jauh dari pengaruh &lt;em&gt;jazz, rhytm &amp;amp; blues&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;pop&lt;/em&gt;. Jenis-jenis yang dilagukan &lt;em&gt;The Manhattan Transfer&lt;/em&gt; yang dikagumi Andre karena harmonisasi komposisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis-jenis yang mengakar semuanya pada &lt;em&gt;blues.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada sedikit perbedaan antara &lt;em&gt;The Manhattan Transfer&lt;/em&gt; dan KLa Project yang harmonisasi komposisinya juga saya kagumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah fakta bahwa sejak mula berdiri pada 1972 lalu, &lt;em&gt;The Manhattan Transfer&lt;/em&gt; tak pernah bubar hingga kini. Mereka terus eksis dan berlatih serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai tulisan ini dibuat, komposisi vokal dua perempuan dan dua laki-laki itu masih terus eksis di jagad musik dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya salah seorang anggota paling awal, Laurel Massé, yang tidak lagi bergabung sejak kecelakaan mobil yang menimpa pada 1978 lalu. Cheryl Bentyne jadi pengganti Laurel Massé kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andre yang bersungguh-sungguh soal album barunya dengan jadwal rilis pada 9 Mei nanti memastikan ada lagu dengan nuansa kritik sosial di dalam album barunya nanti. Inilah rupanya salah satu hasil pergulatan dan pertapaannya selama empat tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada akar &lt;em&gt;blues &lt;/em&gt;yang bercerita soal realitas sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lagi-lagi, suami Cut Rizky Theo itu belum menjelaskan soal perbedaan menangkap realitas sosial dan hubungan cinta asmara antar dua anak manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin dia masih mau mencoba unsur kejutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mungkin pula karena Andre merasa tak ada bedanya antara dua hal itu. Lagipula, soal cinta kan melulu realitas sosial juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, &lt;em&gt;blues.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-459727964089328946?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/459727964089328946/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=459727964089328946&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/459727964089328946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/459727964089328946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/04/realitas-blues.html' title='Realitas Blues'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SAylZhvpOWI/AAAAAAAAAM8/3W-HpBWLRn0/s72-c/60.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-8000888615287534272</id><published>2008-04-12T11:34:00.000-07:00</published><updated>2008-11-13T15:53:44.426-08:00</updated><title type='text'>Tipu Bibir</title><content type='html'>&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5188431132813763762" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SAECoDTxJLI/AAAAAAAAAM0/25YSLg2tmv4/s320/DSC_2400.JPG" border="0" /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ceritanya saya lagi bersantai di depan televisi. Layar berwarna dengan penampang seluas 21 inci persegi itu menampilkan seorang artis ternama lagi beraksi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Yah, bisalah ia kita sebut artis multi bakat. Bisa menyanyi. Mampu bikin lagu dan lirik yang membius. Pandai pula memainkan berbagai instrumen musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini namanya terus mencuat. Bukan karena ada album barunya yang meledak. Tetapi lebih karena persoalan di seputar wilayah pribadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke layar televisi milik saya yang tengah memancarkan siaran langsung artis tadi. Saat itu, ia tengah menyanyi. Didampingi satu kelompok pemain &lt;em&gt;band &lt;/em&gt;muda. Nama &lt;em&gt;band&lt;/em&gt; itu dipilihnya berbeda dengan nama band induk yang membesarkan namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya, ia kini sudah punya beberapa &lt;em&gt;band&lt;/em&gt; di luar band induk yang membesarkan namanya tadi. Tentu semuanya berada dalam manajemen yang sama. Kira-kira, &lt;em&gt;band&lt;/em&gt; induk yang membesarkan namanya itu tadi serupa logika &lt;em&gt;holding company&lt;/em&gt; pada sebuah kelompok usaha dengan gurita bisnis dimana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sepintas suara yang keluar dari sistem tata stereo televisi milik saya yang buatan China itu terdengar sempurna. Sebuah televisi multi sistem dengan tabung sinar katoda yang sudah mulai buram di pojok atas kanannya. Tetapi lama-lama, kok suara yang ada malah terdengar terlalu sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alias, bukan ukuran sempurna. Jika klaim yang disebutkan stasiun televisi penyiar si artis yang lagi nyanyi tadi adalah siaran langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas bagi saya, si artis multi bakat yang namanya lagi melambung gara-gara soal seputar ranah pribadinya tadi tengah mempraktikkan teknik &lt;em&gt;lip sync&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah teknik bernyanyi yang merujuk artinya pada sinkronisasi gerak bibir dengan suara yang keluar dari rekaman berkualitas sempurna yang sebelumnya sudah disiapkan. Biasanya rekaman yang dipakai adalah standar rekaman dimana produk jadi berupa lagu dilempar ke pasaran dalam bentuk cakram padat atau pita kaset.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Lip sync&lt;/em&gt; kependekan dari sebuah istilah bernama &lt;em&gt;lip synchronization&lt;/em&gt;. Sebuh upaya menyamakan gerakan bibir dengan rekaman suara yang diputar dan telah disiapkan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memalukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya saya jijik buat menonton lanjutan konser, jika bisa disebut begitu, dari si artis multi bakat yang termasuk jajaran penghibur papan atas berkat predikat yang disematkan padanya oleh sejumlah media. Tapi bagi saya ini memancing rasa penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa si artis multi bakat itu mau melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas apakah konser itu, jika bisa disebut begitu, merupakan konser gratis atau tidak, tetap saja itu sebuah bentuk penipuan. Apakah memang standar siaran salah satu stasiun televisi yang menyiarkan konser itu, jika bisa disebut begitu, memang demikian adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengharuskan kualitas suara yang yang keluar seperti detail rekamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun untuk tujuan itu, rupa si artis multi bakat tadi megap-megap tak karuan seperti sedang keracunan obat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berupaya menyamakan gerakan bibirnya yang terus menerus disorot dari jarak dekat dengan rekaman suara yang keluar dari sistem tata suara canggih yang dipergunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memang standar yang dianut salah satu stasiun televisi yang menyiarkan konser, jika bisa disebut begitu, tersebut adalah kesempurnaan layaknya pita kaset atau cakram kompak, tetap ada keanehan. Mengapa juru sorot kamera terus menerus mengarahkan moncong kamera ke bagian muka si artis multi bakat tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat rupa si artis multi bakat tadi megap-megap tak karuan seperti sedang keracunan obat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada titik ini saya tidak yakin, siapa yang memanfaatkan siapa. Siapa yang dimanfaatkan siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jelas bagi saya, si artis multi bakat ini tak layak lagi jadi referensi. Lebih baik saya menikmati konser alami pemusik-pemusik jalanan yang menenteng-nenteng gitar bolong (baca: akustik), bas betot ukuran ekstra, serta seperangkat drum rakitan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang jika saya lagi beruntung, suka bertemu kelompok musik model begini yang melengkapi aksinya pakai harmonika dan permainan biola. Satu hal utama jadi pembeda mereka dan si artis multi bakat tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-8000888615287534272?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/8000888615287534272/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=8000888615287534272&amp;isPopup=true' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/8000888615287534272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/8000888615287534272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/04/tipu-bibir.html' title='Tipu Bibir'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/SAECoDTxJLI/AAAAAAAAAM0/25YSLg2tmv4/s72-c/DSC_2400.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-6481214066930347531</id><published>2008-04-10T13:57:00.000-07:00</published><updated>2008-11-13T15:53:44.606-08:00</updated><title type='text'>Kopi Kelam</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R_6FPTTxJKI/AAAAAAAAAMs/qGN7FBj-tm4/s1600-h/DSC_0430.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5187730318705108130" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R_6FPTTxJKI/AAAAAAAAAMs/qGN7FBj-tm4/s320/DSC_0430.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ada dua benda yang menghubungkan emosi saya dengan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dalam seminggu terakhir ini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pertama adalah kopi bubuk bermerek Ulee Kareng. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Barang kedua adalah film dokumenter buatan seorang jurnalis lepas bernama William Nessen, berjudul “The Black Road.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Film itu dibuat sejak kunjungannya ke bumi “Serambi Mekah” pada 2001 lalu hingga kesepakatan damai antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah RI ditandatangani di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Delapan bulan setelah bencana dahsyat berupa gelontoran gelombang tsunami menghajar sebagian besar wilayah NAD.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kedua benda itu saya terima dari seorang sahabat. Seorang teman dekat yang saya kenal baik sejak kami sama-sama belajar di tingkat sekolah menengah atas. Sekolah yang sudah sama-sama kami tinggalkan sejak sembilan tahun lalu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sahabat saya itu bekerja pada sebuah perusahaan multinasional yang punya berbagai proyek pembangunan di banyak negara. Mulai Afghanistan hingga Indonesia. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Menjadi rekanan pihak ketiga bagi proyek-proyek yang biasanya diorder oleh organisasi non pemerintah, atau bahkan oleh pemerintah itu sendiri.&lt;br /&gt;Sudah lewat satu tahun ini dia ditugaskan di NAD. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Minggu lalu kami bersua di Jakarta. Dia berikan pada saya kedua barang itu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Benda pertama selalu bisa membuat sahabat saya itu merasa bodoh jika ia harus ikut-ikutan tren minum kopi di kedai-kedai kopi berlabel internasional yang kini marak di banyak kota besar. Soalnya sahabat saya ini sering sekali menghabiskan waktunya &lt;em&gt;kongkow-kongkow&lt;/em&gt; dan minum kopi pada sejumlah kedai kopi tradisional di berbagai pelosok NAD.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan, kopi yang digunakan di kedai-kedai kopi berlabel internasional dan sejumlah kedai kopi tradisional di berbagai pelosok NAD itu sama persis. Cita rasanya, berdasarkan pengakuan teman saya itu, jelas lebih &lt;em&gt;nendang &lt;/em&gt;saat ia mereguk saringan biji-biji kopi jenis&lt;em&gt; arabica&lt;/em&gt; itu dari tempat asalnya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Semua masih ditambah dengan harga yang relatif jauh lebih murah dibandingkan saat biji-biji kopi itu diberi label mentereng dan masuk kedai-kedai kopi penjaga gengsi yang tersebar pada seantero Mal di Nusantara. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sahabat saya makin merasa bodoh ketika suatu hari, tak jauh dari tempatnya &lt;em&gt;ngopi&lt;/em&gt; di sebuah wilayah NAD, berdiri sebuah gudang penyimpanan biji-biji kopi yang baru dipanen. Biji-biji kopi hasil panen yang akan segera dipasok ke salah satu perusahaan multinasional yang gerai-gerai minum kopinya tengah jadi wabah dan tren gaya hidup di sejumlah kota besar di Indonesia. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sahabat saya itu bingung. Kenapa &lt;em&gt;kok &lt;/em&gt;saat ini tiba-tiba banyak orang Indonesia betah berlama-lama duduk di kedai-kedai kopi yang tersebar di berbagai Mal itu sembari membawa-bawa buku. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kata saya, syukurlah, setidaknya pergeseran dari budaya menonton ke budaya membaca mulai terjadi. Atau, setidaknya sudah bisa ditonton sebagai seperti itu.&lt;br /&gt;Saya buka segel kopi pemberiannya. Kopi dengan label Ulee Kareng tadi, yang sebetulnya adalah nama salah satu kecamatan di wilayah Banda Aceh. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Terbuat dari tanaman kopi berjenis &lt;em&gt;arabica&lt;/em&gt; yang disebut-sebut lebih kaya rasa dibandingkan biang kafein berjenis &lt;em&gt;robusta.&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Saya jerang air secukupnya sampai mendidih. Saya bagi rata komposisi kopi dan gula ke dalam empat cangkir yang ada, sebelum saya tuang air yang tengah menggelegak dalam panci ke dalam cangkir-cangkir itu. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, di teras depan rumah milik Bapak dan Emak saya, kami mengobrol sampai pagi. Bersama dua sahabat saya yang lain. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, karena keterbatasan pengetahuan dan keahlian saya dalam mengolah bulir-bulir kasar kopi yang idealnya disajikan dengan cara disaring itu, tak ada rasa aslinya yang keluar. Tetap saja, masih ada kenikmatan yang tanggal di langit-langit mulut. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Membekas panas di lidah. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Bulir-bulir kasar kopi bubuk itu kini masih tersisa banyak. Menunggu saya menguasai teknik terbaik untuk mengeluarkan rasa dan aroma aslinya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Benda kedua adalah barang yang tak beredar di sembarang tempat. Sebuah rekaman gambar begerak dari petualangan jurnalistik William Nessen yang warga negara Amerika Serikat. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman dia selama pergolakan di NAD sepanjang 2001-2005. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Plot maju mundur yang digunakan Nessen lumayan memikat. Cerita dibuka dengan gambar kehancuran masif usai tragedi tsunami pada akhir 2004. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kontras tersaji, saat hantaman derita tengah menghajar akibat terjangan bencana, permusuhan antara GAM dan Pemerintah RI yang belum selesai membuahkan nuansa curiga dimana-mana. Ada pertanyaan. Ada pukulan dan hajaran. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kisahnya kemudian mundur, saat Nessen yang anak seorang pengacara itu masuk ke NAD pertama kalinya pada 2001 lalu. Nessen langsung menjalin kontak strategis saat itu dengan Panglima Koops Brigadir Jenderal Bambang Dharmono.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Nessen didampingi seorang perempuan muda berdarah Aceh yang bertugas sebagai pemandu dan penerjemah, Shadia Marhaban, yang punya tekukan garis muka seperti lazimnya gadis-gadis Portugis. Perempuan cantik beranak dua yang diam-diam juga mengampanyekan perlunya Aceh supaya merdeka hingga ke luar negeri ini akhirnya jadi istri resmi Nessen, satu setengah tahun setelah Nessen masuk ke NAD. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Shadia adalah kontak utama Nessen pada gerilyawan bersenjata GAM. Berkat Shadia, Nessen akhirnya bisa hidup selama beberapa bulan bersama pasukan GAM.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Nessen ikut berlarian di belakang aksi tembak menembak bersama GAM. Bertemu juru bicara GAM, Sofyan Daoud. Berlari menyelamatkan jiwa saat kontak senjata dengan TNI terjadi. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Nessen bertemu orang tua bernama Abu yang anggota GAM. Abu pernah dilatih tentara Amerika Serikat saat zaman mudanya dulu. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kepentingan Paman Sam saat kecenderungan pemerintah Indonesia waktu itu yang mengarah pada blok komunis. Lalu ada gambar &lt;em&gt;dropping&lt;/em&gt; senjata dari atas pesawat transpor Amerika Serikat. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut pandang orang pertama itu, Nessen kepingin tahu seberapa besar pengaruh dan arti tuntutan merdeka bagi masyarakat NAD. Apa sesungguhnya peran yang dimainkan GAM, yang didirikan sejak 1976 itu. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sebuah perang panjang yang sejarahnya dimulai saat penyerbuan Belanda ke wilayah itu pada 1873. Bukti sejarahnya hingga waktu itu tertinggal di kompleks pemakaman Kerkoff Peucut, Banda Aceh. Tempat Jendral Kohler dan anak buahnya dimakamkan setelah tewas dalam serangan tersebut. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Termasuk peran Amerika Serikat dalam memformalisasi GAM. Dalam sebuah wawancara, terlihat jelas kalau generasi awal gerakan itu memang dilatih oleh serdadu-serdadu Paman Sam. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ada gambar kopi khas Aceh disaring di sela-sela itu. Becak bermotor. Shadia yang akhirnya jadi jurnalis juga. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Shadia dan Nessen. Nessen dan Shadia. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Musliadi yang adalah aktivis HAM di NAD dan salah satu kawan karib Nessen, jadi pendamping Nessen saat Nessen menikahi Shadia. Tak lama setelah itu, Musliadi diambil paksa dari tempatnya tinggal. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Musliadi dibunuh. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Mei 2003, status gencatan sejata dicabut. Operasi darurat militer. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Nessen bergabung lagi dengan sejumlah kontaknya di pasukan GAM. Selama enam minggu Nessen mendokumentasikan perang terbuka GAM-TNI. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dari sudut pandang GAM. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Bambang tak ingin ada pemberitaan dari sudut pandang GAM, sehingga ia terus berupaya mengontak Nessen supaya kembali. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Nessen bergeming. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kondisi putus asa dan ketidakmampuan lagi untuk membedakan batasan realitas perang membuat Nessen akhirnya memutuskan untuk menyerahkan diri. Ia dijemput Bambang di Desa Paya Dua, Kecamatan Nisam, Kabupaten Aceh Utara pada minggu terakhir, Juni 2003. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dipotret fotografer dan direkam juru kamera televisi. Tak ada wawancara. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Setelah ditahan selama 40 hari, Nessen dideportasi. Shadia dan dua orang anaknya sudah mendapat suaka di Amerika Serikat. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Lantas Nessen dapat kabar. Abu akhirnya juga dibunuh. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Setelah tsunami, Nessen kembali ke Indonesia. Mengunjungi sejumlah kenalan lamanya. Dia lihat kehancuran dimana-mana.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Delapan bulan setelah itu, Nessen, Shadia, dan Bambang bertemu lagi di Helsinki, Finlandia. Shadia mewakili pihak GAM. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Menyepakati perjanjian damai dengan Pemerintah RI dan setuju soal opsi otonomi yang diperluas bagi NAD. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Baru pertengahan bulan Maret lalu, Nessen dideportasi lagi untuk kali kedua. Nessen masuk ke NAD lewat Kuala Lumpur, langsung ke Bandar Udara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Status cekal terhadapnya baru ditandangani ulang pada 8 Februari lalu. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kata sahabat saya yang kini tengah sibuk kesulitan mencari banyak tenaga terampil di NAD, mantan anggota GAM sekarang bertransformasi jadi pengusaha yang menyuplai kebutuhan berbagai proyek rekonstruksi usai bencana tsunami. Sahabat saya bilang, sampai kini sebagian besar rakyat NAD di wilayah perkotaan memang masih menikmati bantuan yang terus dikucurkan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tapi ia mengingatkan, tak lama lagi, banyak lembaga donor akan meninggalkan NAD. Terutama yang program-program rekonstruksi fisiknya sudah dirasa selesai.&lt;br /&gt;Tinggal menyisakan beberapa proyek pembangunan komunitas yang memang butuh waktu relatif lebih lama. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pembangunan sosial. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kata sahabat saya, dia belum bisa membayangkan bagaimana jika waktu itu akhirnya tiba. Sekarang saja, sahabat saya itu sudah dipusingkan oleh sebagian karyawannya yang minta gajinya dinaikkan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri masih penasaran dengan cita rasa asli kopi Ulee Kareng yang dibawanya. Tapi sahabat saya itu menambahkan, kalau masih ada lagi jenis kopi Gayo, yang menurut versinya dua kali lebih &lt;em&gt;nendang &lt;/em&gt;rasanya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Pun, membuatnya relatif lebih mudah dengan hanya diseduh pakai metode biasa. Itu sudah mampu membangkitkan cita rasa aslinya. Dengar-dengar, inilah jenis kopi organik paling unggul di dunia. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sahabat saya juga menjanjikan akan ada lagi seri selanjutnya dari jejak rekam audio visual serupa yang dibawanya. Plus kopi Gayo tentunya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya &lt;em&gt;sih&lt;/em&gt; kepinginnya merasakan langsung di tanah aslinya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Siapa tahu saya bisa bertemu Shadia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-6481214066930347531?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/6481214066930347531/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=6481214066930347531&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/6481214066930347531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/6481214066930347531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/04/darah-aceh.html' title='Kopi Kelam'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R_6FPTTxJKI/AAAAAAAAAMs/qGN7FBj-tm4/s72-c/DSC_0430.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-2623782536825623750</id><published>2008-04-09T13:23:00.000-07:00</published><updated>2008-11-13T15:53:44.761-08:00</updated><title type='text'>Gila Hormat</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R_0nwzTxJJI/AAAAAAAAAMk/So4n2n8pSRs/s1600-h/ngeblog.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5187346065161004178" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R_0nwzTxJJI/AAAAAAAAAMk/So4n2n8pSRs/s320/ngeblog.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pengamat politik dan aktivis sampai hari ini, M. Fadjroel Rachman, terakhir kali saya bertemu dengannya empat tahun lalu. Seorang kolega saya membawanya ke kantor mungil kami yang nyaman pada suatu malam di tahun itu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Mereka berdua dulu satu tempat belajar pada sebuah kampus teknologi paling terkenal di Bandung. Sama-sama aktivis pergerakan. Bareng-bareng merasakan represi rezim orde baru yang totaliter. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Fadjroel berkali-kali merasakan hawa lembab penjara yang berbeda-beda. Ditahan terus gara-gara menolak kompromi dengan rezim orde baru. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Di suatu malam empat tahun lalu itu, kami semua mendengar kisah Fadjroel. Dia cerita banyak soal kondisi mutakhir politik tanah air waktu itu. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kami diskusi hingga menjelang pagi. Sampai tak ada lagi makhluk malam yang mau melirik pada kami. Hingga detik jam dinding menjadi satu-satunya penyekat tipis di antara kami pada pagi dingin itu. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Barusan, saya nonton Fadjroel di layar televisi. Dia, dengan gaya khasnya yang selalu memamerkan deretan gigi putihnya di sela-sela argumennya, lagi berdebat keras dengan Wakil Ketua Badan Kehormatan DPR RI Gayus Lumbuun. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Mereka dimoderatori seorang presenter laki-laki yang tak bisa menyembunyikan keringatnya yang mengucur deras. Entah pendingin ruangan dalam studionya yang kurang bekerja sempurna. Atau karena topik yang dibicarakan terbilang sangat panas. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jam sebelumnya, Komisi Pemberantasan Korupsi yang kini dipimpin bekas jaksa karir Antasari Azhar, menangkap tangan seorang anggota DPR RI bernama M. Al-Amin Nur Nasution. Suami resmi pedangdut Kristina yang punya garis muka mirip Krisdayanti itu adalah anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Amin, sori sedikit gosip ala panggung selebriti, yang sempat mau diceraikan oleh Kristina tapi lalu rujuk lagi itu, ditangkap di Hotel Ritz Carlton, Jakarta. Diduga, Amin sedang terlibat tindak pidana suap menyuap. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Pasti, bukan Kristina yang sedang disuap Amin dalam hotel itu. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya Amin tak terkait langsung dengan debat antara Fadjroel dan Gayus. Di layar televisi yang saya saksikan barusan, Fadjroel dan Gayus sedang berdebat sengit soal lagu karya kelompok musik Slank yang berjudul “Gosip Jalanan.” &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Lagu lama dari album Slank berjudul PLUR (Peace, Love, Unity, &amp;amp; Respect) pada 2005 lalu itu jadi heboh gara-gara sejumlah anggota DPR RI tersinggung setelah Slank yang konser gratis di kantor KPK akhir Maret lalu juga menyanyikan lagu tersebut. Lagu itu juga masuk dalam album baru mereka berjudul “Anti Korupsi” yang khusus didedikasikan buat KPK. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya, Gayus yang bertugas sebagai pembela kehormatan para anggota dewan yang katanya terhormat itu lagi bertugas khusus mewakili rasa tersinggung sebagian anggota DPR RI terhadap lagu “Gosip Jalanan.” Kata Gayus, semua liriknya tak patut didengarkan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tak pantas diedarkan. Tak layak dijual. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya Gayus tersinggung pada lirik berbunyi, “Mau tau gak mafia di Senayan..Kerjanya tukang buat peraturan..Bikin UUD..Ujung-ujungnya duit..,” &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tetapi seakan ingin menunjukkan kalau seluruh lirik lagu itu sebagai tak bermoral lalu Gayus membacakan lirik ini dengan lantang. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang tahu mafia selangkangan..Tempatnya lendir-lendir berceceran..Uang jutaan bisa dapat perawan..,” Sembari mengulangi lagi kata-kata selangkangan dan lendir-lendir sebagai lirik yang tak pantas. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Fadjroel yang jago merangkai puisi itu kembali dengan gaya khasnya dan mempertanyakan lirik dan kalimat mana yang dianggap sebagai tak pantas. Tak bermoral. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sembari mesam-mesem Fadjroel mengaku sebagai seorang &lt;em&gt;slanker&lt;/em&gt; (penggemar Slank). Tak lupa Fadjroel katakan salam &lt;em&gt;pis&lt;/em&gt; (maksudnya &lt;em&gt;peace&lt;/em&gt; atau damai) yang jadi jargon wajib setiap &lt;em&gt;slanker&lt;/em&gt;. Saya baru tahu informasi ini. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Informasi yang membuat Gayus makin keki. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Apalagi si presenter laki-laki yang tak bisa menyembunyikan keringatnya yang mengucur deras, mencecar Gayus soal ditangkap tangannya Amin. Katanya, itu seperti konfirmasi dan pembenaran lirik lagu “Gosip Jalanan,” yang Gayus sedang mati-matian berupaya menunjukkan betapa tak bermoralnya lirik lagu itu. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tak pantas diedarkan. Tak layak dijual. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Fadjroel kembali pada argumennya. Bahwa itulah cara seniman bertindak dan menjalankan fungsi kontrol sosialnya. Soal bahasanya yang terkesan hiperbolis, urakan, dan sebagainya, itulah ciri yang membedakan tiap seniman. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Gayus bergeming. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kata Gayus, DPR RI bukan lembaga kebal kritik. Mereka tetap terbuka buat dikritik. Tapi Gayus punya syarat. Kritiklah dengan cara yang elegan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Gitu sarannya. Sambil ngotot tentunya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, ini merujuk pada “permainan” anggota dewan yang katanya terhormat itu saat menelurkan sebuah kebijakan atau produk hukum dengan cara yang elegan. Cara yang teramat halus. Metode sopan yang bahkan dengannya kita kadang tak sadar kalau sedang dirampok habis-habisan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Saat mereka enak-enakan bikin aturan soal kenaikan tunjangan diri sendiri. Ketika berbagai program tak masuk akal, seperti studi banding berharga miliaran rupiah seperti lolos begitu saja. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Padahal ada busung lapar dimana-mana. Ada kasus gizi buruk merajalela. Terdapat anak-anak putus sekolah dan tak mampu sekolah di seantero negeri. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Ini belum termasuk produk hukum yang hasil akhirnya hanya berpihak pada pengusaha dan penguasa. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Semuanya dilakukan dengan elegan. Sangat bermartabat. Sepertinya tak ada pihak-pihak yang dibuat tersinggung dan tersakiti hatinya pada saat itu semua dikerjakan. Soalnya kan mereka lembaga terhormat.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Fadjroel punya usul. Bagaimana kalau rasa tersinggung terhadap lirik lagu “Gosip Jalanan” itu dibawa ke domain hukum. Diajukan ke pengadilan. Supaya kemarahan itu bisa dipertanggungjawabkan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Gayus ogah. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Katanya, biar rakyat banyak yang menilai soal tersebut. Soal apakah lirik lagu itu bermoral atau tidak. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Toh, kata Gayus memang banyak anggota DPR RI yang terbukti melanggar kode etik Badan Kehormatan DPR RI. Kata Gayus lagi, mereka semua, termasuk yang disangka melakukan tindak pidana korupsi, sudah ditindak. Tapi tak banyak yang tahu soal fakta itu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Fadjroel bertanya. Kok &lt;em&gt;nggak&lt;/em&gt; ada yang dipenjara. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kata Gayus, &lt;em&gt;kan&lt;/em&gt; tidak selalu harus dipenjara. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Fadjroel berucap, kok lucu ya, soalnya setahu Fadjroel orang yang melakukan korupsi harusnya ada di penjara. Senyum getirnya yang menampilkan susunan geligi putihnya &lt;em&gt;nongol &lt;/em&gt;lagi. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Saya &lt;em&gt;ngakak&lt;/em&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir acara, ditampilkan prosentase survei kecil-kecilan soal pilihan responden. Apakah mereka percaya Slank atau DPR RI, atau tidak tahu mana yang mesti dipercaya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya, hanya nol koma sekian persen yang percaya DPR RI dan nol koma sekian persen yang tak tahu pihak mana yang bisa dipercaya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Selebihnya, atau lebih dari 99 persen, memilih percaya pada Slank.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Meyakini bahwa lirik lagu “Gosip Jalanan” yang dinyanyikan memang seperti itulah realitasnya. Atau setidaknya, mendekati dan cenderung ke arah realitas itu. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Realitas yang kini dihadapi anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, M. Al-Amin Nur Nasution. Kenyataan bahwa memang ujung-ujungnya duit atau UUD versi Slank dalam lirik lagu "Gosip Jalanan" tadi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bisa jadi, Amin bakal dituntut cerai untuk kedua kalinya. Gara-gara menganggap terhormat dan minta terus-terusan dihormati, Amin sepertinya lupa bahwa ada banyak orang yang jauh lebih terhormat daripada dirinya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Orang-orang yang tidak menerima dan melakukan suap, seperti yang sedang dituduhkan kepadanya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ah, kasihan Kristina.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-2623782536825623750?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/2623782536825623750/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=2623782536825623750&amp;isPopup=true' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/2623782536825623750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/2623782536825623750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/04/gila-hormat.html' title='Gila Hormat'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R_0nwzTxJJI/AAAAAAAAAMk/So4n2n8pSRs/s72-c/ngeblog.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-2822573212625243487</id><published>2008-04-02T20:22:00.000-07:00</published><updated>2008-11-13T15:53:44.966-08:00</updated><title type='text'>Awas Panas</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5184854810850705730" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R_RN-ty7QUI/AAAAAAAAAMc/d-NJ_jFaY5c/s320/55.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Saya masih bocah ingusan ketika bunyi gemeretak terdengar dari atas genteng rumah milik Bapak dan Emak saya di Jakarta. Sejurus kemudian ada bunyi &lt;em&gt;pletak pletuk&lt;/em&gt; datang dari atas genteng kandang ayam yang juga milik Bapak dan Emak saya di Jakarta. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Hari itu langit sedikit mendung. Saya sendiri, sepanjang ingatan saya, saat itu tengah bersiap untuk tidur siang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Karena penasaran, saya berlari keluar. Saya kaget. Baru kali itu saya lihat ada es batu turun dari langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukurannya bervariasi. Ada yang sebesar bulir jagung. Juga ada yang sebesar kelereng seperti yang biasa saya mainkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu saya belum paham kalau es batu yang datang dari langit itu dipicu kehadiran awan &lt;em&gt;Cumulonimbus&lt;/em&gt; (Cb) yang sangat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emak saya hanya berkata singkat. Awas hati-hati, itu hujan es.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian dasar awan Cb sendiri berwarna abu-abu. Formasinya bisa secara ekstrem berubah cepat. Misalnya, dari hanya seluas lima kilometer, tiba-tiba bisa drastis jadi seluas sepuluh kilometer persegi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Es batu yang waktu itu saya katakan turun dari langit dan berpenampilan seperti kristal itu terjadi karena ada titik jenuh. Titik jenuh, atau yang dibahasakan kalangan ahli cuaca sebagai &lt;em&gt;presitipasi&lt;/em&gt; itu terbentuk di awan Cb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosesnya kira-kira begini. Air yang harusnya jatuh, terangkat oleh awan Cb gara-gara titik jenuh tadi. Air tadi semakin tertarik ke atas, hingga suhu ekstrem yang berada jauh di bawah nol derajat Celcius tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itulah, air membeku dan berubah jadi kristal es. Nah, gara-gara ada gaya tarik bumi atau gravitasi, maka hujan es pun terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunyinya gemeretak dan &lt;em&gt;pletak-pletuk&lt;/em&gt; jika menghantam benda tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepekan terakhir ini, hujan es terjadi lagi. Kali ini menghajar Bandung, Jambi, dan Bekasi. Berdasarkan kabar yang saya baca, besar es yang tumpah ke bumi itu serupa dengan pengalaman saya saat masih bocah ingusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya rentang waktunya menjadi lebih lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan es yang terjadi saat saya masih bocah ingusan, tak lebih dari lima menit. Sekarang, bisa sampai lima belas menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertengahan Januari lalu, Kota Baghdad di Irak, berdasarkan berita yang saya baca disiram hujan salju. Salju langka yang terakhir kali turun 100 tahun lalu ini terjadi gara-gara angin dingin yang kering bersua dengan angin hangat dan lembab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, turunlah salju di atas negeri 1001 malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan iklim global yang ekstrem selama beberapa tahun terakhir dituding jadi biang keladinya. Gara-gara pemanasan global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah slogan yang sekarang bahkan telah masuk dalam jerat kapitalisasi. Banyak konser musik diadakan atas nama pemanasan global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terhitung kegiatan yang dibikin dengan mengatasnamakan pemanasan global. Belum lagi politisi yang berjanji bahwa soal pemanasan global akan jadi prioritas kerjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana-mana semua orang seperti larut dalam tren pemanasan global. Tapi banyak yang tak paham makna sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah orang yang saya temui bahkan menyalahkan semakin banyaknya gedung-gedung pencakar langit dengan penampang kaca yang dibangun. Katanya, itulah penyebab utama pemanasan global lewat fenomena bernama efek rumah kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana-mana semua orang seperti larut dalam tren pemanasan global. Tapi banyak yang tak paham makna sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemanasan global terjadi karena peningkatan suhu di bumi, laut, dan atmosfer secara rata-rata. Ini disebabkan tingginya tingkat gas-gas rumah kaca di atmosfer yang menyebakan terjadinya efek rumah kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gas-gas rumah kaca termasuk seperti uap air dan karbondioksida (CO&amp;shy;2). Uap air timbul karena proses alami. Tapi, konsentrasi tinggi CO2 ada gara-gara perilaku konsumsi energi, terutama energi dari bahan bakar fosil yang dilakukan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek rumah kaca sendiri sejatinya adalah proses ketika planet bumi dipanaskan oleh atmosfer. Akibat konsentrasi tinggi gas-gas rumah kaca, radiasi infra merah yang dipancarkan bumi akibat penerimaan energi utama dari matahari tertahan di lapisan atmosfer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, radiasi infra merah ini dipantulkan lagi ke bumi. Jika konsentrasi gas-gas rumah kaca makin tinggi, perubahan iklim berupa pemanasan global akan terjadi semakin ekstrem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga ada spekulasi, dengan tingkat pemakaian energi yang terus meningkat seperti saat ini, suhu muka bumi akan naik hingga lebih dari empat derajat Celcius, 22 tahun dari sekarang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Karena pemanasan global, lapisan es di kutub dan dimanapun juga mencair. membuat muka air laut meningkat. Bencana datang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Banjir. Topan Katrina. New Orleans. Bengawan Solo. Pesisir pantai utara Jawa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Dihantam bencana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Karena itulah ada Protokol Kyoto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah hasil perubahan Konvensi Kerangka Kerja PBB soal Perubahan Iklim. Ini kerja dan kesepakatan dunia soal pemanasan global. Tahap pertamanya akan berakhir pada 2012 mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara-negara yang setuju dan meratifikasi Protokol Kyoto punya harapan supaya emisi CO2 yang terutama akibat penggunaan energi dari bahan bakar fosil bisa dikurangi. Termasuk skema soal perdagangan karbon atau emisi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berupa kompensasi yang diberikan pada, biasanya, negara-negara berkembang yang masih punya hamparan lahan hutan supaya tetap menjaganya sebagai paru-paru dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, negara adikuasa Amerika Serikat yang merupakan konsumen minyak bumi terbesar di dunia masih menolak menyetujui Protokol Kyoto. Amerika tak mau meratifikasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan utamanya, apalagi kalau bukan karena keserakahan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambah lagi, sejak akhir tahun lalu, negeri itu tengah dilanda resesi. Sebuah paket kebijakan ekonomi baru yang disiapkan untuk menyelamatkan negara itu dari bencana ekonomi, secara radikal akan mengubah bagaimana cara agen asuransi, calo properti, termasuk industri perbankan mereka dalam berbisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, jelas tak ada prioritas bagi lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amerika Serikat tak mau mengurangi konsumsi dan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Soalnya itu akan semakin memperlambat laju ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpuruk makin dalam ke jurang resesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bali, akhir tahun lalu juga jadi tuan rumah Konferensi Dunia soal Perubahan Iklim. Namun, belum ada langkah maju dari pertemuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada kesepakatan soal &lt;em&gt;deep cuts,&lt;/em&gt; atau pengurangan gila-gilaan konsumsi energi dari bahan bakar fosil penghasil utama CO2 yang tingkatnya jauh lebih gila. Soalnya, bagi negara-negara berkembang hal itu pun diprediksi akan membuat tingkat kemiskinan beranjak naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi bagi negara-negara maju yang makin hari kian serakah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, semua negara sedang berebut dan tarik menarik kepentingan soal energi yang digunakan. Berbagai macam skema kompensasi ditawarkan. Namun, tak ada tindakan nyata dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala gebyar acara berbau pemanasan global dipertontonkan dengan penghamburan energi. Banyak penontonnya yang datang sendiri-sendiri dengan mobil-mobil pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum ada tindakan nyata dilakukan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Dimana-mana semua orang seperti larut dalam tren pemanasan global. Tapi banyak yang tak paham makna sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan lalu saya putuskan menjual &lt;em&gt;hatchback&lt;/em&gt; tua berkapasitas lima penumpang milik saya yang masih empuk suspensinya. Mobil pertama yang saya beli dari pemilik sebelumnya, setelah empat tahun hasil tabungan sebagai seorang pekerja itu saya lepas dengan mata berkaca-kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya suka &lt;em&gt;velg &lt;/em&gt;besar dan ban profil rendahnya yang gagah. Saya menikmati tarikan mesinnya di jalan tengah malam yang lengang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga menikmati pertanyaan setiap orang yang selalu heran bagaimana mobil setua itu masih tampak &lt;em&gt;kinyis-kinyis,&lt;/em&gt; sangat terawat, bebas keropos, mulus, dan wangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, saya sempat berniat menambahi perangkat audionya supaya makin nyaman dalam balutan interior bersihnya dengan pendingin udara yang masih bekerja baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang mengganggu saya adalah kenyataannya sebagai peminum bahan bakar fosil yang unggul. Saya selalu malu bila berpapasan dengan angkutan umum, dan mendapati fakta mobil saya itu lebih boros dengan temperatur yang lebih cepat merangkak naik dibandingkan sejumlah angkutan umum tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menjual &lt;em&gt;hatchback &lt;/em&gt;tua berkapasitas lima penumpang yang masih empuk suspensinya itu, ada perasaan lega tatkala mengayuh sepeda di jalan raya. Memang, berulangkali saya mesti tarik urat dengan pengendara jalan lain yang egois dan seenaknya saja seperti mau menabrak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya pilihan ekstrem ke sepeda kayuh masih butuh banyak penyesuaian dan pembiasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, sekarang saya lebih sering&lt;em&gt; nyemplak&lt;/em&gt; di atas sadel bebek beroda dua yang kapasitas silinder mesinnya tak lebih besar dari 125 sentimeter kubik.&lt;br /&gt;Pastinya, bebek bermesin dengan dua roda ini jauh lebih irit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak, emisi CO2 yang diproduksinya lebih sediikit dibandingkan &lt;em&gt;hatchback&lt;/em&gt; tua berkapasitas lima penumpang bekas milik saya yang masih empuk suspensinya itu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Jalanan kini memang terasa makin panas bagi saya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Tapi saya bisa makin awas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-2822573212625243487?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/2822573212625243487/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=2822573212625243487&amp;isPopup=true' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/2822573212625243487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/2822573212625243487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/04/awas-panas.html' title='Awas Panas'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R_RN-ty7QUI/AAAAAAAAAMc/d-NJ_jFaY5c/s72-c/55.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-3940251912276386997</id><published>2008-04-02T05:59:00.000-07:00</published><updated>2008-11-13T15:53:45.120-08:00</updated><title type='text'>Jepit Sakit</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R_OD6Ny7QTI/AAAAAAAAAMU/GipsoDH3dVs/s1600-h/59.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5184632632192483634" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R_OD6Ny7QTI/AAAAAAAAAMU/GipsoDH3dVs/s320/59.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Perempuan muda itu bernama Yuli. Ia bolak-balik dalam ruang berukuran 2,5x5 meter. Kulitnya putih kecoklatan.&lt;br /&gt;Wajahnya ditumbuhi jerawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan normal akibat perubahan hormonal dirinya yang tengah hamil. Tingginya sekitar 165 sentimeter dengan bobot yang saya taksir tak lebih dari 70 kilogram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari besar perutnya dan proporsi postur tubuhnya, saya perkirakan usia kandungannya baru saja menembus enam bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yuli tengah merawat salah satu kolega saya yang tengah dirawat di salah satu rumah sakit. Kolega saya itu diserang penyakit tifus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakit yang disebabkan bakteri bernama &lt;em&gt;salmonella typhi&lt;/em&gt; yang menghajar bagian usus halus sehingga terjadi infeksi akut. Biasanya, penderita tifus yang disebut juga demam &lt;em&gt;tifoid&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;typhus abdominalis&lt;/em&gt; itu harus dirawat di rumah sakit setidaknya selama satu pekan. Ini supaya usus si penderita tidak makin kacau kondisinya atau terjadi komplikasi di sana-sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, tadi siang saya sempatkan menjenguknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang perawatan itu sendiri dilengkapi pendingin udara. Ada televisi ukuran 15 inci menggantung dari atas plafonnya. Kolega saya hanya sendirian di ruang perawatan itu. Memang ada dua tempat tidur, tapi sepertinya tempat tidur tambahan itu diperuntukkan bagi penjaga pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yuli keluar dari ruangan itu. Sejurus kemudian dia kembali lagi. Saatnya bagi Yuli menambah obat-obatan ke dalam tubuh kolega saya. Tapi belum ada cairan tambahan yang hendak disuntikkan pada kolega saya terbawa dalam genggamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, Yuli kembali keluar ruang perawatan itu. Dengan seulas senyuman ia balik kanan menuju troli obat-obatan yang diparkir di depan pintu masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama, cairan obat tambahan dari tabung suntik berukuran medium masuk lewat pembuluh &lt;em&gt;arteri radialis&lt;/em&gt; yang berada di bagian pergelangan tangan kolega saya. Kali ini cairan itu masuk lewat bagian pergelangan tangan kirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sensasinya seperti ada rasa sesak sejenak saat cairan obat itu masuk. Itu pengakuan kolega saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yuli keluar ruangan dengan sigap. Perawat terlatih yang diawasi dan dilindungi Komite Perawat di tempatnya bekerja itu berkeliling lagi mengunjungi pasien-pasien lain dalam rumah sakit yang pakai nama tengah internasional tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah sakit yang punya berbagai fasilitas canggih seperti alat bernama MRI (Magnetic Resonance Imaging) 1.5 Tesla untuk memeriksa tubuh dengan medan magnet besar tanpa gelombang radio, nihil operasi, tidak pakai sinar X, dan tanpa bahan radioaktif lainnya itu tampak ramai. Pasien, dokter, perawat, hingga tenaga administrasi punya kesibukannya sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kata kolega saya yang dirawat inap di sebuah kamar bertarif Rp 550 ribu per malam, dari jendela di sebelah kirinya kadang tampak pemandangan kontras. Dari balik jendela kaca itu, katanya suka berlarian tikus-tikus besar yang melompat dari satu rumah ke rumah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lirik jendela di sebelah kirinya. Di antara rumpun tanaman bambu berbatang kecil-kecil berwarna kuning yang saya lihat, saya saksikan kalau daerah itu merupakan wilayah permukiman padat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata salah seorang kolega saya yang lain lagi, daerah itu memang dikelilingi permukiman kumuh. Karena kolega saya yang diserang tifus ini mendekam di lantai pertama, jadi ia mesti rela kebagian pemandangan itu. Kalau ia tinggal pada tingkat-tingkat di atasnya, mungkin ia bisa melihat jelas aktivitas dan denyut kehidupan di wilayah permukiman dengan bangunan yang berdiri seadanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kamar dengan harga sewa lebih mahal Rp 50 ribu dari batas setengah juta rupiah atau masih dua kelas di bawah harga sewa ruang rawat paling mewah di rumah sakit itu, kolega saya mesti istirahat total. Tak bisa diganggu gugat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya jelas tak bisa berhenti menggugat soal pandangan “mengganggu” di balik kaca jendela sebelah kiri kolega saya yang tergolek lemah akibat tifus tadi. Sebuah pertunjukan soal ketimpangan dan kesenjangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, dalam perjalanan pulang hati saya terus bergolak. Apa yang akan terjadi kalau salah satu penghuni rumah-rumah di sebelah kiri kaca jendela ruang perawatan kolega saya itu terkena tifus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah mereka akan dirawat pada ruang yang sama. Ruang yang persis di sebelah rumahnya. Mungkin berbatasan dengan ruang tempatnya tidur, makan, dan buang hajat sekalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika para penghuni rumah-rumah di sebelah kiri kaca jendela ruang perawatan kolega saya itu dihajar demam berdarah, maukah rumah sakit megah yang pakai nama internasional di tengahnya itu menerima mereka. Andaikata ada anak-anak penghuni rumah-rumah di sebelah kiri kaca jendela ruang perawatan kolega saya itu diserang diare, bisakah atas nama kemanusiaan mereka dirawat oleh perawat-perawat serupa Yuli di rumah sakit yang pakai nama tengah internasional itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dalam hati, air mata saya menetes.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Baru sebulan lalu saya main-main ke salah satu poliklinik yang ada di sebuah desa. Bukan sebuah desa terpencil, karena masih ada aspal mulus selebar enam meter yang membelah areal persawahan di kanan kirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya longok ke bagian dalam poliklinik desa itu. Ada seorang ibu menggendong bayinya. Saya tanya, kemana bidannya. Ibu itu menggeleng pelan dan menunjuk arah keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak tahu apa keperluan ibu yang menggendong bayinya di poliklinik desa itu. Saya juga tak mengerti kemana perginya bidan, bukan dokter, yang berdinas di poliklinik desa dengan banyak sekali kambing yang lalu lalang di tanah lapang sebelah kanan bangunannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang saya tahu penyakit bisa bikin sakit. Pada orang-orang tidak mampu dan kurang mampu, penyakit bisa bikin kondisi makin terjepit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati, air mata saya menetes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira tiga tahun lalu saya berkunjung ke rumah Muhammad Asyarafi Hayyan. Saat itu bocah kecil yang kerap disapa Rafi itu baru berusia tiga tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu sudah lewat pukul sembilan malam. Tapi Rafi belum tidur. Ia hanya dibaringkan begitu saja pada sebuah dipan sederhana dari kayu di ruang tengah rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafi adalah salah seorang bocah penderita pembesaran kepala atau &lt;em&gt;hidrosefalus&lt;/em&gt;. Jaringan pembuluh darah terlihat jelas di kepalanya yang membesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sentuh kepalanya. Terasa lunak pada bagian atas dan belakangnya. Mirip sensasi menyentuh balon yang diisi air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua bola matanya menari. Tapi tak banyak ekspresi yang bisa dibuatnya. Berulangkali hanya batas garis putih yang saya tangkap dalam tatapan matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya goda Rafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Responnya bagus. Ia mencoba berbicara. Tapi tak ada kata yang terdengar. Kedua tungkai kakinya digerak-gerakkan, mencoba posisi yang nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mencoba berbicara. Tapi tak ada kata yang terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati, air mata saya menetes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gigi Rafi kala itu ompong. Luruh hancur gara-gara susunan geligi itu sering bertabrakan saat ia kejang-kejang. Guguran gigi-gigi itu larut bersama &lt;em&gt;feses &lt;/em&gt;yang diproduksi tubuh kecil Rafi dari mekanisme &lt;em&gt;ekskresi&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata kedua orang tuanya, Rafi lahir lewat prosedur&lt;em&gt; cesar&lt;/em&gt;. Sebuah proses persalinan yang memerlukan penyayatan di bagian perut guna mengeluarkan bayi dari kandungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembesaran kepala itu sendiri sudah terdeteksi sejak Rafi ada di kandungan. Tapi prosedur medis guna mengatasi kelainan itu yang berharga amat mahal membuat orang tua Rafi mundur teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tindakan hanya paling memungkinkan lewat operasi, biaya yang dibutuhkan jelas makin berlipat. Ayah Rafi yang bekerja pada salah satu rumah sakit sebagai seorang tenaga pengamanan tak kuasa mengejar tingginya biaya kesehatan yang menggedornya di pagi buta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafi kecil hanya tergolek pada sebuah dipan sederhana dari kayu di ruang tengah rumahnya. Soalnya akses beroleh pengobatan gratis atau setidaknya dengan tarif terjangkau dan pelayanan yang memenuhi standar kemanusiaan bagi masyarakat yang tidak mampu dan kurang mampu masih jadi mimpi siang bolong di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ayah Rafi tak mampu, bocah kecil itu hanya tergolek pada sebuah dipan sederhana dari kayu di ruang tengah rumahnya. Gara-gara layanan kesehatan gratis atau setidaknya dengan tarif terjangkau dan pelayanan yang memenuhi standar kemanusiaan bagi masyarakat yang tidak mampu dan kurang mampu masih jadi janji politisi setiap hari, Rafi tergolek tanpa daya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat hasil korupsi yang dianggap rezeki, layanan kesehatan gratis atau setidaknya dengan tarif terjangkau dan pelayanan yang memenuhi standar kemanusiaan bagi masyarakat yang tidak mampu dan kurang mampu, banyak pejabat berargumen biaya kesehatan memang selayaknya mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, saya memang hanya bisa bermimpi Rafi dirawat oleh Yuli. Nyaman dalam ruangan berpendingin udara bertarif sewa Rp 500 ribu setiap harinya. Merasa aman dengan standar rumah sakit yang pakai kata internasional di tengahnya itu.&lt;br /&gt;Apa yang saya tahu penyakit bisa bikin sakit. Pada orang-orang tidak mampu dan kurang mampu, penyakit bisa bikin kondisi makin terjepit. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati, air mata saya menetes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-3940251912276386997?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/3940251912276386997/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=3940251912276386997&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/3940251912276386997'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/3940251912276386997'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/04/jepit-sakit.html' title='Jepit Sakit'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R_OD6Ny7QTI/AAAAAAAAAMU/GipsoDH3dVs/s72-c/59.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-8194188151498066758</id><published>2008-04-01T08:16:00.000-07:00</published><updated>2008-11-13T15:53:45.654-08:00</updated><title type='text'>Kerja Keluarga</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R_JT4dy7QSI/AAAAAAAAAMM/eEU63zEbaIw/s1600-h/58.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5184298350592868642" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R_JT4dy7QSI/AAAAAAAAAMM/eEU63zEbaIw/s320/58.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Nyaris dua pekan lalu saya bertaruh di bandara. Berjudi dengan kemungkinan untuk beroleh tiket penerbangan ke Jakarta. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Hanya sekitar tiga jam sebelum jarum jam mengeksekusi pergantian hari. Akhirnya saya dapatkan kepastian tiket berjadwal paling buncit itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai jaminan, saya tinggalkan kartu tanda pengenal. Saya tak mau berjudi dengan uang. Jadi, tidak saya tinggalkan persekot duit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pilih tinggalkan kartu tanda pengenal saja. Secepat kijang melesat, saya bergegas pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang membuat saya seperti diburu ratusan tawon pada malam itu diawali sebuah keterkejutan. Saya sendiri tidak berencana ke Jakarta pada hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi keadaaan sedang memaksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira dua jam sebelum bertaruh di bandara, telepon genggam saya berdering. Istri saya mengabarkan kalau anak lelaki saya, kemungkinan besar esok harinya hingga beberapa hari ke depan tak ada yang bisa menjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya, jelas hanya baru bisa bercengkerama dengan anak lelaki saya itu pada waktu-waktu tertentu. Tanggung jawab pekerjaan kadang merenggut sebagian waktu yang harus saya sisihkan pada anak lelaki saya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri saya, setali tiga uang. Akhir-akhir ini ia sedang sibuk dengan berbagai proyek barunya yang menuntut konsentrasi tinggi. Jadi, rasanya belum memungkinkan buat menunggui aktivitas anak lelaki saya yang sedang berada dalam usia aktifnya sepenuh waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak beberapa hari terakhir itu, penjaga rumah yang juga menunggui aktivitas anak saya sehari-hari sedang tak aktif. Suaminya yang sedang diserang gangguan penyakit pada kandung kemihnya, dan terpaksa harus dirawat di salah satu rumah sakit lebih membutuhkan perhatiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya, pada beberapa hari itu, mertua saya secara khusus datang dari Malang. Kecintaan serta kerinduannya yang mendalam pada anak lelaki saya membuat dirinya jadi semakin lengket dengan anak lelaki saya pada beberapa hari terakhir itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kejutan itu akhirnya datang juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata istri saya, mertua saya bersama dengan keluarga besar harus segera bergegas ke Yogyakarta untuk suatu urusan keluarga. Jadi, saat itu memang tak ada pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya harus ke Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membawa serta anak saya untuk dititipkan pada nenek dan kakeknya. Emak dan Bapak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mata yang masih terlelap, anak lelaki saya tidur dalam pangkuan menuju bandara. Tapi sejumlah guncangan gara-gara rusaknya jalan yang dibangun pakai pajak rakyat itu membuatnya terjaga juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sorongkan botol berisi susu hangat kepadanya. Saya bisikkan cerita soal pesawat yang bisa terbang. Saya ingatkan pengalaman sebelumnya tatkala ia menembus awan untuk pertama kali bersama saya dan ibundanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kali kedua ia terbang malam bersama saya, setelah beberapa kali sebelumnya menikmati sensasi terbang saat sinar matahari masih hadir. Tapi cairan putih berisi susu formula itu hanya masuk sedikit saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak lelaki saya lebih tertarik pada lampu-lampu kendaraan yang lalu lalang dan papan-papan iklan yang memendarkan cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di bandara, sejumlah pasang mata memerhatikan kami. Bahkan ada yang menatap serius sejak ujung kepala hingga batas kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengenakan kaos, jins coklat, dan sepatu kasual serta satu ransel besar, satu tas jinjing, dan seorang anak laki-laki berusia 21 bulan yang saya gendong, bagi mereka semua saya lebih mirip seorang penculik. Atau, paling tidak orang tua putus asa yang sedang berebut hak pengasuhan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpasang-pasang mata itu terus menerus mengawasi gerak gerik saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pegawai maskapai penerbangan yang bertugas mengonfirmasi kepastian keberangkatan saya akhirnya tak bisa menahan diri untuk tak bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berulangkali dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri kalau dua orang yang akan berangkat itu maksudnya adalah satu penumpang dewasa dan satu penumpang balita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan orang-orang dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga bertanya, kenapa &lt;em&gt;kok&lt;/em&gt; malam sekali. Yah, saya jawab saja kalau memang saya baru pulang merampungkan semua pekerjaan. Sambil saya kibas-kibaskan lengan, berharap aroma tak sedap hasil kerja saya seharian bisa dinikmatinya sebagai bukti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam saya tersenyum dalam hati gara-gara asumsi yang dibangun orang-orang atas dasar prasangka tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak lelaki saya makin aktif saat berada di ruang tunggu. Celotehnya makin ramai saat melihat rupa-rupa pesawat sedang parkir dalam jarak sekitar 20 meter dari batas dinding kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaranya makin dominan saat tiba dalam kabin Boeing 737 seri 400 yang diluncurkan pada 1985 dan mulai terbang perdana pada 1988 berbalut interior dominan berwarna abu-abu itu. Gara-gara penjelasan saya kepadanya soal sayap pesawat beberapa waktu sebelumnya, ia ngotot menunjuk-nunjuk keluar kaca jendela sembari berucap kata sayap berulangkali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung kami duduk persis di samping sayap kanan pesawat. Jadi, saya bisa tunjukkan pula mesin pesawat jet yang mencantel pada dudukan di bawah badan sayap (pylon) yang disinari lampu temaram dari area apron bandara. Tapi saya tidak yakin mau menjelaskan apa jenis mesin jet seri pesawat itu yang biasanya&lt;br /&gt;beredar pada nama produsen Rolls Royce dari Inggris atau Pratt and Whitney dari Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas landas, ia mulai berceloteh soal masuk awan, masuk awan, masuk awan yang terus disebutnya. Kata-kata itu diucapkannya berulangkali saat kami hendak menuju ketinggian jelajah pada jarak 33 ribu kaki atau sekitar 10 kilometer di atas permukaan laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapal batas yang jadi ukuran efisien begi mesin-mesin jet komersial untuk beroperasi di lapisan atmosfer bernama troposfer itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal masuk awan itu beberapa kali memang sempat dialami anak lelaki saya saat terbang siang hari. Mulai dari kelompok awan stratus yang terdiri atas keluarga stratus, stratocumulus, dan nimbostratus yang ada di ketinggian hingga 6.500 kaki atau sekitar 2 kilometer di atas permukaan laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok awan menengah (alto) seperti altostratus, altocumulus pada ketinggian 6.500 hingga 18.000 kaki atau sekitar 5,5 kilometer hingga awan tinggi (cirrus) seperti cirrus, cirrostratus, dan cirrocumulus pada ketinggian di atas 5,5 kilometer dari atas permukaan laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi malam itu ia hanya melihat gulita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, saya putuskan buat membacakan saja cerita untuknya. Ah, sialnya seluruh buku bacaan baginya lupa saya bawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya ada satu buku tebal dalam tas saya yang bukan konsumsi bagi anak lelaki saya saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, saya raih majalah terbitan maskapai penerbangan yang saya tumpangi. Saya bolak-balik isinya, dan saya coba pilih artikelnya yang paling sesuai di antara tulisan-tulisan mencolok soal promosi gaya hidup yang menghamba pada paham &lt;em&gt;hedonisme &lt;/em&gt;dan hasutan supaya berperilaku konsumtif itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya temukan juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tulisan soal tarian tradisional bangsa Jepang bernama K&lt;em&gt;abuki&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ka &lt;/em&gt;artinya musik atau lagu. &lt;em&gt;Bu&lt;/em&gt; bertafsir tarian. &lt;em&gt;Ki &lt;/em&gt;punya makna akting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, kabuki berarti pula drama dengan musik dan unsur tarian yang lekat. UNESCO pada tahun 2005 menetapkan &lt;em&gt;Kabuki&lt;/em&gt; yang eksis sejak 400 tahun lalu jadi salah satu di antara 43 karya puncak warisan budaya dunia yang tak bisa dinilai harganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak lelaki saya menunjuk-nunjuk foto-foto bercitrakan pemeran &lt;em&gt;Kabuki&lt;/em&gt; dalam tata rias warna putih tebal di sekujur wajahnya dengan variasi warna warni merah, biru, coklat untuk menggambarkan karakter masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulutnya berceloteh terus, ini apa, ini apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun juga berceloteh terus. Mengulangi penjelasan dari mula hingga akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, lagi-lagi, perhatiannya teralih pada rupa-rupa foto dan gambar pesawat yang ada di majalah itu. Yah, saya turuti saja permintaannya sembari menjelaskan bagian-bagian gambar yang ditunjukknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembar majalah terbitan maskapai penerbangan yang saya tumpangi itu buru-buru saya balik ke halaman lain begitu yang dibuka anak saya adalah lembaran soal promosi gaya hidup yang menghamba pada paham &lt;em&gt;hedonisme&lt;/em&gt; dan hasutan supaya berperilaku konsumtif tadi .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama-lama anak saya pun pun letih. Ia lalu memilih buat lelap saja. Toh, hak istirahatnya pada malam itu memang sedang saya rampas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di tujuan, tak butuh lama bagi anak saya buat beradaptasi dengan keluarga besarnya di Jakarta. Membuat saya dengan hati lengang kembali lagi ke Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari ke depan ini saya lagi bersiap buat menjemputnya. Dari cerita lewat sambungan telepon jarak jauh tiap harinya, saya dengar perbendaharaan celotehnya makin banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga banyak sekali “kreativitas” usil terbaru yang dilakukannya setiap hari. Membuat saya tak sabar menunggu hari menjemputnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang saya takutkan, sepertinya bakal ada permintaan khusus dari Emak dan Bapak saya supaya anak lelaki saya itu tinggal saja bersama mereka seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, sepertinya ini tugas berat saya selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-8194188151498066758?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/8194188151498066758/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=8194188151498066758&amp;isPopup=true' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/8194188151498066758'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/8194188151498066758'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/04/kerja-keluarga.html' title='Kerja Keluarga'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R_JT4dy7QSI/AAAAAAAAAMM/eEU63zEbaIw/s72-c/58.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-3402758727898690288</id><published>2008-03-31T07:37:00.000-07:00</published><updated>2008-11-13T15:53:54.431-08:00</updated><title type='text'>Menulis Gratis</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R_D6Xty7QRI/AAAAAAAAAME/Hxp1OEMF7Z4/s1600-h/57.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183918456440570130" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R_D6Xty7QRI/AAAAAAAAAME/Hxp1OEMF7Z4/s320/57.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mata saya terbelalak. Udara dingin menyergap. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pagi buta itu baru tiga jam saya terlelap dari ujung tengah malam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam balutan kaos tipis seharga sepuluh ribu per lembar saya beringsut keluar kamar. Sebelum tidur, saya memang sudah berniat untuk membuat materi sederhana sebagai salah satu bahan presentasi pelatihan tulis menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, tak perlu jeritan &lt;em&gt;alarm &lt;/em&gt;khusus buat membangunkan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kegiatan yang digelar salah satu kelompok mahasiswa yang berhimpun pada salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya. Ah, pelatihan yang tertera dalam ketentuan dan judul acara milik penyelenggara itu saya lebih suka membahasakannya sebagai ajang berbagi pengetahuan dan pengalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supaya saya yang masih bodoh ini bisa ikut merasakan nikmatnya mereguk sirup manis pengetahuan. Ada ilmu baru yang bisa saya peroleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah, penyeimbang catu daya listrik saya nyalakan. Komputer rakitan dengan otak berupa prosesor &lt;em&gt;low end&lt;/em&gt; bertitel &lt;em&gt;celeron&lt;/em&gt; buatan raksasa Intel kemudian berdenyut ogah-ogahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya nyalakan program aplikasi &lt;em&gt;winamp&lt;/em&gt; buat memutar suara dan bunyi dalam format mp3. &lt;em&gt;I Dont Want To Live Without Your Love&lt;/em&gt;, milik kelompok musik &lt;em&gt;Chicago&lt;/em&gt; yang sempat dituntut perusahaan angkutan di Chicago saat menggunakan nama &lt;em&gt;The Chicago Transit Authority&lt;/em&gt; meluncur manis lewat dua pengeras suara terintegrasi monitor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari satu singel ke ke tembang lain, energi &lt;em&gt;band &lt;/em&gt;berusia 41 tahun itu merayap naik dan merasuk. Saya bolak-balik bahan bacaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya bayangkan kira-kira seperti apa bahan pengalaman yang bisa dibagikan sesuai dengan permintaan. Tak terasa satu jam lewat. Hanya dua paragraf berhasil rampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lebih tenggelam dalam racikan&lt;em&gt; brass rock&lt;/em&gt; dari &lt;em&gt;Chicago&lt;/em&gt; yang awalnya pakai nama &lt;em&gt;The Missing Link&lt;/em&gt; itu. Sekali dua kali saya berdiri di antara kursi. Sekedar merasakan entakan aransemen David Foster dan beningnya vokal Peter Cetera dalam beberapa nomor selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah jam menjelang waktu subuh, energi ekstra itu datang juga. Akhirnya selesailah materi singkat dan sangat sederhana yang sebagian besar isinya saya sarikan dari pemikiran milik salah seorang mentor saya, Luwi Ishwara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah hasilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulisan bukan tujuan. Penulisan adalah alat untuk menyibak, menunjukkan, mencapai kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses ini sangat mengutamakan kejujuran. Jadi, jujurlah sejak mula hingga akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujurlah pada pilihan temanya. Jujurlah terhadap sumber-sumbernya. Jujurlah akan bahasanya. Jujurlah pada metodenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya sebuah tulisan tidak lebih hebat dari kejadiannya. Peristiwa, dalam hal ini, adalah ukuran pertama bahasa seperti apa yang akan digunakan dalam tulisan. Ini secara langsung berkait pada gaya tertentu yang dimiliki penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekhawatiran adalah hal pertama harus dibuang sebelum proses penulisan dimulai. Susunlah bagian-bagian tulisan dengan berdialog pada diri sendiri soal urut-urutannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fokus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Don Fry (Poynter Institute for Media Studies), ada lima langkah penulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Menyusun gagasan&lt;br /&gt;2.  Melaporkan&lt;br /&gt;3.  Mengorganisasi (rencana dan urutan)&lt;br /&gt;4.  Konsep&lt;br /&gt;5.  Memperbaiki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasti, sebagaimana keunikan sidik jari dan susunan kode DNA seseorang, maka tak ada satu pun metode atau teknik menulis yang benar-benar pas untuk seorang penulis. Sebagaimana kesukaan kita yang cenderung berbeda untuk setiap genre musik dan film yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaya tulisan adalah pilihan. Sebagaimana uniknya lagu-lagu Benyamin Suaeb atau sudut gambar serta cara penggarapan kisah yang dipilih Garin Nugroho dalam berbagai filmnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mendengar dan melihatnya, kita bisa merasa tahu dan akrab dengan pemilik gaya itu. Begitulah sebaiknya penulis yang memilih identik dengan gayanya sendiri. Kita tentu tak akan pernah puas hanya dengan meniru kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbedalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hindari gelontoran kata-kata pengabur makna. Buanglah keinginan untuk jadi seekor gurita dalam penulisan &lt;em&gt;(octopus writing).&lt;/em&gt; Hal yang terjadi saat tinta yang disemburkan gurita dalam samudera justru bertujuan untuk mengaburkan pandangan ketimbang sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Robert Gunning yang jadi konsultan sejumlah surat kabar harian terkemuka, ada sepuluh prinsip menulis dengan jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Usahakan kalimat rata-rata pendek.&lt;br /&gt;2.  Pilih kalimat sederhana daripada yang kompleks.&lt;br /&gt;3.  Pilih kata-kata lazim.&lt;br /&gt;4.  Hindari kata-kata tak perlu.&lt;br /&gt;5.  Beri kekuatan pada kata kerja.&lt;br /&gt;6.  Tulis seperti ketika berbicara.&lt;br /&gt;7.  Pergunakan istilah yang bisa digambarkan pembaca.&lt;br /&gt;8.  Hubungkan dengan pengalaman pembaca, beri konteks.&lt;br /&gt;9.  Gunakan variasi.&lt;br /&gt;10.  Tulislah untuk menyatakan, bukan mempengaruhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, bagaimana upaya terbaik untuk mulai menulis?&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Mulailah membaca!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baca ulang lagi tulisan yang bakal jadi materi bagi-bagi pengetahuan itu tadi. Lantunan azan subuh membantu saya menghayati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paginya saya bergegas, dan menghitung cermat waktu tempuh supaya tidak terlambat. Saya sendiri sering merasa keki jika mendapati ada janji molor dari waktu yang disepakati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, saya berpegang teguh untuk tidak memperlakukan orang lain serupa itu. Waktu adalah hal paling mahal. Berapapun uang dimiliki, waktu takkan mungkin bisa dikembalikan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya, seorang rekan saya yang sedianya memaparkan soal-soal mengenai kegiatan berbagi pengetahuan yang diberi titel pelatihan tadi. Tapi, suatu dan lain hal membuat saya yang harus berdiri di depan kelas dan memberi pemaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak yang saya paparkan. Hanya materi singkat yang sudah saya buat beserta tambahan dari materi kepunyaan salah seorang rekan saya tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru saya memohon supaya ada banyak-banyak pertanyaan. Supaya saya yang masih bodoh ini bisa ikut merasakan nikmatnya mereguk sirup manis pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, itu berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai dari yang tanya soal metode dan teknik. Sampai pada gaya hingga ruwetnya prosedur penelitian supaya menghasilkan tulisan yang bisa dipertanggungjawabkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan soal mungkinkah ada kemungkinan tulisan itu jadi menarik kalau tidak bombastis. Soal bisakah tulisan itu memikat jika kalimatnya tidak beranak cucu dan bercicit canggah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal-soal teknis yang saya pastikan agar jangan khawatir terhadapnya.&lt;br /&gt;Soalnya setiap individu pasti punya cara, metode, teknik yang hanya akan sesuai benar untuk dirinya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soalnya setiap manusia pasti unik seperti beda sidik jari dan urutan kode DNA yang dimiliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, tak perlu pusing tujuh keliling soal tembok besar bernama teknik menulis dan segala metodenya. Paling penting pegang saja prinsipnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian menjelang akhir, saya sentil sedikit mereka. Bahwa, aktivitas membaca sejatinya adalah “ibu” bagi kegiatan menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis dan membaca ibarat fenomena ayam dan telur. Tidak ada tulisan tanpa kegiatan membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau baca apa kalau tidak menulis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis dan membaca. Membaca dan menulis. Ayam dan telur. Telur dan ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa lebih dulu. Saya pun tak yakin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang saya yakini, keduanya harus dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sekali lagi saya katakan, mulailah sebuah kesenangan baru dengan membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca bisa apa saja. Maka, menulis pun bisa soal apa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai media, tak usah bingung apalagi linglung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, lewat artikel “Berinvestasi Melalui Membaca” karya Yuki Tobing yang saya sudah minta izin kepadanya untuk bisa dipergunakan sebagai salah satu bahan ilustrasi, saya paparkan mengenai relasi semua hal yang saya terus cuap-cuap sejak mula-mula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bilang, dulu saya tidak kenal dan tidak tahu siapa Yuki. Tetapi karena tulisannya yang saya baca lewat &lt;em&gt;blog&lt;/em&gt;, saya jadi mengetahui soal Yuki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berharap provokasi saya berhasil. Hasutan supaya banyak di antara peserta atau juga penyelenggara yang segera mulai menulis dan membaca, membaca dan menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada media apapun juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis dan membaca. Membaca dan menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-3402758727898690288?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/3402758727898690288/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=3402758727898690288&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/3402758727898690288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/3402758727898690288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/03/menulis-gratis.html' title='Menulis Gratis'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R_D6Xty7QRI/AAAAAAAAAME/Hxp1OEMF7Z4/s72-c/57.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-7908832910360329210</id><published>2008-03-13T07:11:00.000-07:00</published><updated>2008-11-13T15:53:54.566-08:00</updated><title type='text'>Rasis Najis</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5177229613674187506" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R9k250uuyvI/AAAAAAAAAL8/qYidicqmNAQ/s320/53.jpg" border="0" /&gt;Mata saya mendelik. Adrenalin terpompa deras. Sekujur badan terasa panas. Degup jantung berdesir hebat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Mulut saya spontan menyemburkan rupa-rupa bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu puluhan ribu kepala yang mengaku sebagai manusia sedang tenggelam dalam lautan tontonan. Mereka ada yang duduk, berdiri, bersila, dan jongkok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sedang mengelilingi 22 manusia di depannya yang saling berebut bola dalam lapangan berukuran panjang 100 meter dan lebar 64 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22 manusia itu lagi berlaga memperebutkan satu bola dengan saling serang dan bertahan. Mereka berebut untuk jadi yang pertama menceploskan si kulit bundar ke jaring gawang seterunya. Mereka berasal dari berbagai latar belakang budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda etnis bahkan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulanya yang saya lihat dan dengar hanya sebatas teriakan tanda dukungan atau sekedar cemoohan berbau teknis dalam bingkai laga pertandingan. Lama-lama bulu kuduk di tengkuk saya merinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tegak berdiri gara-gara di salah satu sudut mulai terdengar cemoohan yang nadanya menjurus pada sentimen rasial. Lama-lama ada suara-suara hewan tertentu yang saya tangkap jelas tatkala ada pemain-pemain tertentu menguasai bola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara itu makin hebat. Seiring dengan posisi kurang menguntungkan yang sedang mendera salah satu tim yang lagi berlaga di depan mata. Sejalan dengan makin banyaknya kejadian-kejadian tak menguntungkan bagi salah satu tim yang langsung ditanggapi pendukung tim lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara-suara hewan tertentu yang saya tangkap jelas tatkala ada pemain-pemain tertentu menguasai bola, makin menggedor membran telinga saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata saya mendelik. Tensi darah saya meninggi. Sekujur badan terasa panas. Degup jantung berdesir kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulut saya spontan menyemburkan rupa-rupa bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa buah kepala yang mengaku sebagai manusia menengok kepada saya. Kepala-kepala yang mengaku sebagai manusia dan jadi pelaku-pelaku utama cemoohan bernada rasis tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi, mulut saya spontan menyemburkan rupa-rupa bisa pada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi selanjutnya hanyalah pandangan kosong serupa kerbau dicucuk hidung yang saya lihat dari berpasang-pasang mata yang menumpang pada kepala-kepala yang mengaku sebagai manusia tadi. Rupanya bisa yang saya semburkan untuk sementara belum bisa mereka buat serumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu bukan kali pertama kejadian serupa beraksi langsung di depan mata dan telinga saya. Pada beberapa buah stadion di Indonesia yang sempat saya kunjungi, banyak pula aksi memuakkan dari kepala-kepala yang mengaku sebagai manusia tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka beramai-ramai mengucapkan makian bernada rasis. Mereka ramai-ramai merasa sebagai ras paling superior dan merasa berhak buat mengatur, memaki, mencemooh, mengumpat, dan menista ras yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya mereka lakukan dengan perayaan. Sembari tertawa. Sambil mengupas kacang kulit dan menghisap dalam sebatang rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain kali ada politisi yang menyamarkan mukanya dalam benaman isu rasial. Mencoba mengambil hati calon pemilih dengan menista lawan politik berdasarkan identitas fisik berbeda yang dimilki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengaduk-aduk emosi rakyat kebanyakan dengan isu orang asli, putra daerah, dan segala macam jebakan kultural bernada rasis. Mereka termasuk dalam apa yang saya sebut sebagai kepala-kepala yang mengaku sebagai manusia tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan perbedaan secara biologis yang dimiliki mampu jadi penentu capaian individu. Lalu bisa pula jadi indikator bagi stempel maju atau tidaknya sebuah peradaban serta budaya yang dipunyai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah perbedaan karakteristik fisik mampu membuat kepala-kepala yang mengaku sebagai manusia tadi jadi yang tertinggi dan berhak berlaku lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah tak pernah ada pilihan sebelum seseorang itu dilahirkan ke dunia? Ingatkah kita pernah ada pilihan berganda yang ditawarkan saat masih dalam alam kandungan atau malah ketika di alam penciptaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal apa nama bangsa yang hendak kita diidentikkan dengannya. Soal warna kulit yang mau lekat pada diri kita nantinya. Soal jenis dan warna rambut yang ingin kita miliki di dunia. Soal bentuk serta warna mata yang mau kita punyai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat untuk tidak ingat bahwa tak pernah ada pilihan seperti itu yang ditawarkan pada saya. Sebelum saya dilahirkan dan hingga tulisan ini dibuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jelas tak bisa memilih tatkala lahir dengan kulit yang kekuning-kuningan. Juga saya pasti harus menerima ketika hadir di dunia dengan bola mata hitam dan rambut dengan warna serupa. Begitupun ketika saya diidentikan dengan salah satu suku bangsa yang eksistensinya kini perlahan pelan mulai tergerus arus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dengan rela menerima dan merayakan hidup bahagia dengan semua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena saya tak pernah bisa memilih mau pakai identitas fisik yang bagaimana dan seperti apa tatkala hadir di dunia sesaat setelah lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah, mulut saya selalu menyemburkan rupa-rupa bisa kepada mereka yang mempraktikkan rasisme atau bahkan menjurus pada praktik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara sentimen rasial, muncul pelabelan tertentu terhadap komunitas suku bangsa atau bangsa, sub-etnis atau etnis tertentu. Hadir yang dinamakan stereotipe terhadap komunitas suku bangsa atau bangsa, sub-etnis atau etnis tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah keyakinan yang cenderung berlebihan sehubungan dengan kategori tertentu. Ini adalah sebuah lingkungan palsu (pseudo-environment) saat masyarakat saling berinteraksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua dibangun berdasarkan prasangka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prasangka ini dipelihara terus dalam sistem nilai yang diyakini bersama. Prasangka ini tak lekang bersama lingkungan primer dimana kepala-kepala yang mengaku sebagai manusia tadi hidup. Prasangka ini terus berpendar di lingkungan keluarga, teman sepermainan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara itu semua, terjadi pembantaian dan pembersihan etnis atau bangsa tertentu oleh etnis atau bangsa lain (genocide). Gara-gara prasangka yang berakhir pada stereotipe, ada rekan saya yang berulangkali menuai kecewa tatkala berupaya masuk dalam lingkungan keluarga pujaan hatinya yang berbeda latar belakang bangsa dan budaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Berkali-kali ia kecewa hingga berkali-kali pula hidupnya hanya berteman sepi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Terjadi rupa-rupa bentuk diskriminasi sosial. Ada marjinalisasi. Terdapat pula bau anyir menyengat dari praktik itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup adalah soal perbedaan dan bagaimana membingkainya dalam harmoni. Hidup menjadikan perbedaan sebagai keniscayaan yang mesti dijalani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda ras, agama, dan budaya adalah hal tak sama dengan penerimaan utuh yang mesti bisa dijalani tanpa prasangka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Macam-macam pilihan semisal untuk berbeda warna politik, &lt;em&gt;genre&lt;/em&gt; film dan musik kesukaan, hingga makanan favorit, adalah perbedaan yang bisa saya terima dan akan saya hidup bahagia bersamanya. Tetapi, jika ada yang mengambil pilihan untuk jadi rasis, maka maaf jika kata ini yang pertama terlontar kepadanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Najis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-7908832910360329210?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/7908832910360329210/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=7908832910360329210&amp;isPopup=true' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/7908832910360329210'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/7908832910360329210'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/03/rasis-najis.html' title='Rasis Najis'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R9k250uuyvI/AAAAAAAAAL8/qYidicqmNAQ/s72-c/53.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-7822578717591459739</id><published>2008-03-10T06:54:00.000-07:00</published><updated>2008-11-13T15:53:54.764-08:00</updated><title type='text'>Potensi Diri</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R9U-mUuuyuI/AAAAAAAAAL0/HjKpMr3kkXE/s1600-h/52.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5176112174852917986" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R9U-mUuuyuI/AAAAAAAAAL0/HjKpMr3kkXE/s320/52.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sebuah Toyota Kijang Innova hitam keluaran terbaru menyusuri jalan sempit yang hanya muat untuk papasan dua unit Morris Mini Cooper ala tunggangan Mr. Bean rancangan Alex Issigonis di tahun 1959. Pagi itu belum genap jarum jam menunjuk pukul tujuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Belasan warung sederhana yang berdiri di salah satu sisi jalan sempit yang diapit hamparan sawah kering itu juga masih tutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratusan buruh yang didominasi pekerja perempuan bergerombol di sekitar pintu masuk pabrik pembuat gitar hampir seluruh merek-merek premium. Mereka menunggu waktu masuk tepat pukul tujuh pagi setelah sebelumnya menggesek kartu pengenal elektronik untuk mengabsen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pabrik dengan luas sekitar 4.000 meter persegi itu terletak di tengah areal persawahan yang disulap jadi pusat pembuatan gitar elektrik khusus untuk pasar ekspor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pukul tujuh pagi, sang kepala satpam memanggil masuk puluhan pekerja yang masih duduk-duduk di salah satu dari enam warung yang ada di depan pabrik itu. Persis seperti guru yang memanggil masuk murid-muridnya untuk bergegas ke dalam kelas, dari warung-warung yang berjajar tutup di pinggiran sawah kering yang telah dipanen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat sepuluh menit, ada satu dua orang pekerja yang mengetuk pagar dengan sistem buka tutup elektronis itu. Biasanya, buruh yang terlambat akan langsung menghadapi peringatan dari penumpang Toyota Kijang Innova hitam tadi, yang jadi salah satu pemilik pabrik tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi hari itu ada dispensasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula mekanisme penggeledahan seluruh tubuh bagi pekerja yang hendak keluar atau pulang di perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) dari Korea itu. Sebuah tindakan preventif guna mengamankan aset yang berurusan dengan berbagai peralatan kecil yang terkesan remeh temeh namun mahal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan disiplin tinggi ala Negeri Ginseng, tak kurang dari 600 pekerja yang 80 persennya adalah perempuan itu mulai mengerjakan aneka order sejak pukul tujuh pagi hingga 16.00 di hari biasa, dan 07.00 hingga 15.30 saat bulan puasa. Bicara order juga tak main-main, karena pesanan minimal di tempat ini adalah 1.500 unit dengan kapasitas produksi tak kurang dari 10 ribu buah gitar lisrik per bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara sumber daya manusia, jangan bayangkan warga Indonesia hanya terampil jadi buruh di tingkatan perakit saja. Satu-satunya desainer produk yang punya tanggung jawab penuh terhadap proses awal produksi seluruh pesanan gitar-gitar tadi adalah pria kelahiran Kabupaten Jember, Jatim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan fasih ia menjelaskan, tak kurang prinsipal dari 15 merek gitar dan bas elektrik di seluruh dunia mempercayakan produksinya dikerjakan di tempat itu. Sebut saja sejumlah model gitar seri Gio yang masuk kategori &lt;em&gt;low end&lt;/em&gt; dan bas seri Ergodyne dan BTB yang termasuk kelas &lt;em&gt;high end&lt;/em&gt; dari prinsipal bermerek Ibanez.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau lihatlah fakta produksi ini, 100 model merek Washburn, Yamaha semi akustik model SA-500, AE 500, SA 503 dan RGX 520, Electric Sound Products (ESP), Hammer, Peavey, Schecter, Condor, Parker, Morgan, Total Music, Tradition, Grand Mystery. Belum lagi merek Daisy Rock yang dikhususkan bagi kalangan perempuan dengan desain yang atraktif serta warna-warna cerah yang turut dibikin di pabrik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Yamaha yang juga punya pabrik serupa di Pulogadung, Jakarta, memesan enam model produknya di pabrik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan dasar gitar-gitar kepercayaan berbagai musisi handal dunia itu pun sebagian besar “lokal punya,” karena asli Indonesia. Terutama adalah kayu untuk bodi yang biasanya mengaplikasi kayu mahogani, damar, agatis, atau sonokeling.&lt;br /&gt;Hanya kayu mapel buat leher (neck) gitar yang mau tak mau harus diimpor dari Kanada. Semua bahan dasar tadi diramu dengan berbagai komponen elektris, &lt;em&gt;pick up,&lt;/em&gt; &lt;em&gt;tuning peg&lt;/em&gt;, senar dan berbagai asesoris lain yang biasanya barang impor dalam tiga model besar setiap gitar yang ada di muka bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni model &lt;em&gt;bolt on&lt;/em&gt; (penyambungan antara leher gitar dan bodi menggunakan baut), &lt;em&gt;set in neck&lt;/em&gt; (penyambungan antara leher dan bodi gitar menggunakan sejenis lem), dan &lt;em&gt;set through neck&lt;/em&gt; (leher gitar yang masuk ke dalam bodi gitar dan biasanya berharga jauh lebih mahal dibandingkan dua model sebelumnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata sahabat saya yang kebetulan berkebangsaan Korea dan jadi ketua asosiasi pengusaha asal negara itu di Surabaya, kualitas gitar-gitar tadi termasuk sempurna. Selain itu, karena dibuat dalam jumlah masif, jadilah produk-produk &lt;em&gt;made in&lt;/em&gt; Indonesia itu tadi pemain pasar dunia terbesar nomor dua setelah produk serupa asal China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ia menambahkan, gara-gara kualitas kayu dari alam Indonesia yang jauh lebih bagus, maka kualitas akhir gitar-gitar yang diproduksi disini pun mendekati sempurna. Faktor penunjang lain, apalagi kalau bukan ketersediaan tenaga kerja yang relatif murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, memang belum ada merek lokal dengan kekhasan tersendiri yang mampu berjaya dan berkibar hingga jauh ke negeri seberang. Sementara, seperti banyak terjadi industri lainnya, kita harus terus terlena dalam lautan jadi “tukang jahit” produk kepunyaan orang lain semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedari dulu selalu saja ada ungkapan yang terucap dari bibir sebagian pengusaha dari Indonesia, di hampir segala bidang produksi, bahwa apapun bisa saja dibuat asal ada contoh produknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah ungkapan yang mencerminkan sikap kepingin meraup untung sebanyaknya tanpa perlu repot memikirkan urusan konsep dasar dan filosofinya. Sikap yang menihilkan upaya buat melakukan riset dan pengembangan produk terus menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap dasar yang jadi warisan terus gara-gara salah kaprah pendidikan yang memang tak pernah mengajarkan seseorang supaya terus mencari jawab atas segala tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal kualitas sumber daya manusia Indonesia sungguh tidak rendah. Semenjak saya percaya penuh bahwa tak ada itu yang namanya konsep bangsa superior-inferior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bohong semua itu pendapat yang menyebutkan ada bangsa yang memang diadakan supaya jadi pemalas dan sebaliknya. Semenjak saya percaya penuh bahwa hanya ada satu jenis manusia di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang tinggal niat, kemauan, usaha, dan doa. Mau menaiki dinding rintangan atau malah menghindarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilih. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-7822578717591459739?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/7822578717591459739/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=7822578717591459739&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/7822578717591459739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/7822578717591459739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/03/potensi-diri.html' title='Potensi Diri'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R9U-mUuuyuI/AAAAAAAAAL0/HjKpMr3kkXE/s72-c/52.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-6166832508833169469</id><published>2008-03-07T08:21:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T15:53:54.944-08:00</updated><title type='text'>Kemasan Pemasaran</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R9F2REuuytI/AAAAAAAAALs/9UfMhk10_Bc/s1600-h/51.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5175047482525010642" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R9F2REuuytI/AAAAAAAAALs/9UfMhk10_Bc/s320/51.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ceritanya saya lagi keki dengan kualitas sepatu olahraga buatan salah satu perusahaan multinasional yang sangat jarang saya pakai. Karena saking jarangnya saya pergunakan, warna sepatu olahraga putih besar seharga ratusan ribu itu masih berkilat hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaim salah satu raksasa produsen perlengkapan olahraga dunia itu soal produk alas kakinya yang empuk dan seolah bisa memberikan tenaga ekstra saat berlari pun masih terasa. Tapi yang jelas bikin keki adalah sambungan antara alas berbahan busa dan tubuh sepatu yang dilengkapi bahan kain dan kulit bertali yang mulai terbuka di sana sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncaknya, tenaga ekstra yang bisa diberikan saat kegiatan berlari atau berjalan dengan drastis jadi berkurang. Belum lagi tampilannya yang serta merta jadi buruk rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, jelas saja saya kecewa. Jelas lagi saya tengah kecewa pada diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soalnya terbius klaim mematikan dari hebatnya kemasan pemasaran yang dilakukan salah satu perusahaan multinasional raksasa produsen perlengkapan olahraga dunia itu tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian ini saya teringat salah satu isi pembicaraan dengan Hermawan Kartajaya, salah satu pakar pemasaran di Indonesia. Katanya, pemasaran (marketing) selama ini sering salah dipersepsikan oleh masyarakat sebagai urusan yang semata-mata hanya berhubungan dengan masalah kemasan (packaging) dan persepsi produk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal di dalamnya terkandung tanggung jawab untuk bisa mewujudkan persepsi masyarakat tentang sebuah produk ke dalam kenyataan. Jadi, katanya lagi, pembentukan persepsi produk tanpa memperhatikan bagaiamana realitasnya di lapangan adalah bunuh diri paling cepat yang bisa dilakukan oleh suatu perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hal itu yang dilakukan, menurut Hermawan perusahaan bisa memanen keuntungan besar dalam jangka pendek, namun dalam jangka panjang perusahaan tersebut akan dipersepsikan hanya sekedar menjual janji belaka. Jadi pola yang baik itu harus bisa menciptakan apa yang disebut sustainable marketing enterprise.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermawan mencontohkan, beberapa iklan komersial yang cenderung melebih-lebihkan keunggulan produknya, tanpa memperhatikan keadaan yang sesungguhnya dari produk tersebut. Sebab menurutnya, menciptakan persepsi dan menciptakan realitas terhadap suatu produk adalah dua hal yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian ini, saya makin awas, kalau produk-produk berkualitas minimalis bukan melulu dominasi produsen-produsen yang selama ini kita persepsikan begitu. Pada kasus saya, kekecewaan justru makin menjadi karena disebabkan buruknya kualitas produk salah satu produsen yang selama ini saya anggap termasuk salah satu yang superior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya saya keliru dan telah termakan apa yang dinamakan persepsi produk akibat megahnya kualitas kemasan yang ujung-ujungnya bicara soal target penjualan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, seorang pemasar yang baik menurut Hermawan tidak melulu berorientasi pada angka penjualan. Paling penting adalah bagaimana konsumen itu bisa terpuaskan oleh pelayanan yang diberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermawan mengatakan, beberapa perusahaan besar di dunia yang berhasil adalah dengan menerapkan bahasa pemasaran yang mudah dimengerti konsumen dan tidak rumit. Perusahaan-perusahaan itu, kata Hermawan sangat menghindari penggunaan bahasa teknis walaupun dalam kenyataannya mereka sangan serius mengembangkan divisi riset dan pengembangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, menurutnya pola pemasaran yang paling baik adalah dengan sesering mungkin mengasah pengalaman di bidang bisnis. Sebab intuisi bisnis, yang merupakan faktor kunci, akan dapat tercipta dari pola tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang menurutnya juga sangat penting dalam dunia pemasaran adalah permasalahan merek (brand) yang harus memiliki ciri khas. Ia menekankan adalah lebih baik untuk sedikit berbeda dibandingkan dengan menjadi sedikit lebih baik dalam melakukan pemasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, saya jadi tambah meyakini kalau keragaman dan perbedaan adalah modal buat mencipta kekuatan. Supaya segalanya menjadi lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-6166832508833169469?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/6166832508833169469/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=6166832508833169469&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/6166832508833169469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/6166832508833169469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/03/kemasan-pemasaran.html' title='Kemasan Pemasaran'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R9F2REuuytI/AAAAAAAAALs/9UfMhk10_Bc/s72-c/51.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-2412755023900150683</id><published>2008-03-02T10:12:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T15:53:55.175-08:00</updated><title type='text'>Rasa Budaya</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R8rvufVXecI/AAAAAAAAALk/LF8Xe7J34fg/s1600-h/44.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5173210703952574914" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R8rvufVXecI/AAAAAAAAALk/LF8Xe7J34fg/s320/44.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Nyaris sebulan lalu kami sekeluarga pulang ke rumah orang tua saya di ibukota negara. Ceritanya, salah satu adik perempuan saya melangsungkan pernikahan dengan pilihan hatinya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sebagai saudara kandung tertua, saya sudah tiba di rumah yang jadi tempat saya dibesarkan itu beberapa hari sebelum hari pernikahan dilangsungkan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Berbagai persiapan yang berbau budaya, saya ikut terlibat di dalamnya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Mulai mencari janur kuning, membeli kembang setaman, hingga menjemput keluarga roti buaya yang panjangnya menyamai ukuran bangku belakang minibus paling laris di Indonesia. Sedari mengantar anggota keluarga ke sejumlah pasar tradisional buat menemukan bumbu khas, sampai mengawasi tersulutnya rentetan petasan besar-besar sepanjang lima meter yang jadi ritual pembuka acara. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Saya juga terlibat diskusi soal pakaian adat yang bakal dipakai termasuk hidangan jenis apa yang disajikan bagi para tamu nantinya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sebagai keluarga besar dengan banyak sekali anggota keluarga, rumah orang tua saya sejak beberapa hari menjelang hari yang ditentukan, sudah disesaki banyak anggota keluarga. Saya tentu amat senang. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Soalnya kesempatan seperti ini jarang sekali terjadi. Bahkan tidak di hari raya sekalipun. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Karena kami saling dipisahkan jarak. Mulai dari beda belasan kilometer, puluhan kilometer, ratusan kilometer, hingga ribuan kilometer. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Keluarga besar saya tersebar di berbagai kantong-kantong budaya yang berbeda di berbagai titik. Penyebab utamanya, karena sebagian besar dari anggota keluarga saya memang percaya penuh pada kenyataan soal beda-beda budaya yang ada di muka dunia. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Jadi, soal saling silang budaya dalam ikatan pernikahan adalah soal yang jamak saja. Itu pula yang terjadi pada saya, juga salah satu adik perempuan saya yang mau menikah tadi. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Salah satu adik perempuan saya ini punya calon suami, saat ini tentu sudah jadi suami, dari suatu wilayah yang dikenal punya julukan Tujuh Kerajaan di Timur dan Delapan Kerajaan di Barat. Ini tentu jadi khazanah baru lagi buat keluarga besar kami. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Hal yang bisa jadi kesempatan sangat baik untuk saling mengenal, saling tahu, dan saling memahami perihal adat dan kebiasaan masing-masing. Itu pula yang terjadi pada diri saya selama bertahun-tahun ini. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, saya bahagia luar biasa tatkala bertemu lagi dengan anak-anak dari sepupu-sepupu saya yang punya beragam model keceriaan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Ada yang tertawa dengan rambut kriwul dan kulit putihnya yang bak pualam. Lalu ada pula yang terus cengengesan dalam balutan warna kulit coklat legam dengan rambut lurusnya yang hitam memanjang. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Pada pojok lain ada yang terlihat sangat gembira dengan rambut pirang dan wajah khas timur tengahnya. Juga ada yang riang dengan wajah oriental dengan penanda khusus pada sudut-sudut matanya yang menyempit. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Mereka semua saling bercengkerama, layaknya karib yang tak bersua puluhan tahun lamanya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Maka, diskusi soal pakaian adat apa yang bakal digunakan hingga hidangan apa yang bakal disajikan tak perlu lama saya ikut berdebat di dalamnya. Kami sekeluarga sepakat agar adik perempuan saya beserta calon suami, saat ini tentu sudah jadi suami, menggunakan pakaian resmi perwakilan kedua budaya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Ditambah pakaian khusus yang kira-kira bisa mewakili semua budaya di Indonesia. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Soal makanan, &lt;em&gt;nah &lt;/em&gt;ini yang paling saya suka. Disajikanlah rupa-rupa masakan yang menurut keluarga besar saya merefleksikan semua yang ada. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Jadi hadirlah sate, gado-gado, pempek, tekwan, laksa, hingga bakso. Tentu ditambahi jenis-jenis kuliner standar yang dimiliki perusahaan penyedia jasa katering yang dipergunakan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dalam pencarian rasa budaya tadi, saya dan anggota keluarga besar tak sampai harus kehilangan dan menghilangkan ciri-ciri budaya yang melekat. Sekalipun sudah puluhan tahun tinggal di lain habitat dan tercabut dari akar budaya yang membesarkan, tetap ada rasa kepemilikan yang kental. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Namun tak lantas pula itu berkembang jadi sifat &lt;em&gt;chauvinis&lt;/em&gt; yang menjadi &lt;em&gt;isme.&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Bahwa karakter budaya yang ada memang selayaknya hanya dipakai buat mengenali konsep diri. Itu akan membimbing pada sebuah keputusan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mau jadi lebih baik, atau malah lebih buruk. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Bukan lantas mengagungkan budaya sendiri dan menghempas jatuh budaya yang lain. Atau sebaliknya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Soalnya bukan standar budaya yang menentukan baik buruknya nilai seseorang. Tetapi lebih pada kata-kata dan perilaku seseorang itu dalam kehidupannya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pada pilihan-pilihan yang dibuatnya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Paling penting, soal-soal itu semua tidak ada kaitannya dengan berbagai identitas budaya dan kebudayaan yang ada. Memang, salah satu hasil kebudayaan adalah nyatanya rupa-rupa yang bisa dirasa. Seperti bahasa, alat-alat buat menopang hidup, kesenian, sistem kepercayaan, juga berbagai organisasi sosial. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Namun, budaya juga perkara ide, gagasan, aturan, dan segala norma yang tidak kelihatan. Abstrak. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi pada keluarga besar saya saat, waktu itu, pemerintah masih berkutat dengan urusan monokulturalisme yang mengharuskan adanya asimilasi kebudayaan adalah sebuah praktik multikulturalisme. Juga bukan praktik panci peleburan (melting pot) yang justru menghilangkan berbagai varian asing dari konsep kebudayaan yang dijadikan induknya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tapi multikulturalisme. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Perubahan-perubahan sosial seperti itulah yang kira-kira terjadi pada keluarga besar saya selama bertahun-tahun. Terjadi alami dan tanpa prasangka setelah kontak intens dijalin dengan berbagai kebudayaan lain. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Budaya yang sebelumnya dirasa asing. Tapi itulah esensi penciptaan lain rupa dan lain rona di antara kita. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Supaya saling kenal dan saling memahami. Bukan untuk tahu dan mengambil jarak darinya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Apalagi sampai merasa paling bisa tanpa ada kemampuan untuk paling bisa merasa.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, sehari sebelum saya sekeluarga kembali pulang ke tempat tinggal sekarang yang terpisah 900 kilometer lebih, kami sekeluarga besar berkumpul ramai-ramai di ruang tengah rumah orang tua saya yang berhiaskan akuarium besar berisi rupa-rupa jenis ikan hias. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kami potong satu-satu anggota keluarga roti buaya yang panjangnya menyamai ukuran bangku belakang minibus paling laris di Indonesia. Saya dapat bagian kepala induk buaya yang sebelumnya berulangkali dinaiki anak saya, yang menyangka roti buaya itu seperti mobil-mobilan yang biasa dikendarainya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Anak saya dapat anggota terkecil keluarga roti buaya yang panjang tubuh kepala keluarganya menyamai ukuran bangku belakang minibus paling laris di Indonesia tadi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya menerawang. Kapan lagi kesempatan tercepat mengulangi pengalaman ini. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-2412755023900150683?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/2412755023900150683/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=2412755023900150683&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/2412755023900150683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/2412755023900150683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/03/rasa-budaya.html' title='Rasa Budaya'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R8rvufVXecI/AAAAAAAAALk/LF8Xe7J34fg/s72-c/44.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-2696676901221899408</id><published>2008-02-29T06:44:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T15:53:55.281-08:00</updated><title type='text'>Penyikat Rakyat</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R8ga3PVXebI/AAAAAAAAALc/VK_9tvIYLRA/s1600-h/50.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5172413708346292658" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R8ga3PVXebI/AAAAAAAAALc/VK_9tvIYLRA/s320/50.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bayangkan situasi seperti ini. Ruang tertutup, dengan sejumlah pendingin udara beroperasi pada kemampuan maksimal. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Semua jendela ditutup. Puluhan orang duduk dalam jarak dekat satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, semua akses keluar masuk ditutup. Demi menjaga hawa dingin yang keluar dari mesin penyejuk ruangan buatan Jepang tak dikalahkan suhu panas di luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, puluhan orang tadi ramai-ramai menyalakan rokok mereka. Menghisapnya dan mengepulkan asap tebal beraneka aroma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai yang tercium keras menyengat hingga yang terbau seperti tisu terbakar. Dari yang berbunyi &lt;em&gt;kretek-kretek&lt;/em&gt; hingga yang bersuara elegan dan hanya mengeluarkan bunyi seperti &lt;em&gt;sssshhh.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puluhan orang itu sedang bicara soal hajat hidup orang banyak. Mengenai nasib rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala aturan hukum dibahas. Aspek yuridis formal dibumbui semua hal yang sepertinya bakal menguntungkan nasib banyak orang lagi dibicarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang tertutup yang sejumlah pendingin udaranya dinyalakan dengan tambahan pekatnya asap rokok beterbangan tadi adalah ruang rapat resmi wakil rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewan perwakilan yang katanya terhormat dan kabarnya punya kehormatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ruangan itu hadir pula sejumlah tokoh ahli. Tokoh yang di depan namanya punya embel-embel mentereng, profesor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Predikat yang disematkan gara-gara jadi guru besar salah satu disiplin ilmu di perguruan tinggi tertentu. Tapi, lagi-lagi ia pun asyik masyuk dengan sebatang rokok kretek yang dimasukkan dalam sebuah pipa dari gading berwarna coklat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka saya ragu. Apakah ia profesor, prosesor, atau kompresor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang terpaksa hadir dalam ruangan itu sudah mengeluarkan semua jurus. Mulai &lt;em&gt;mendehem-dehem&lt;/em&gt; ringan sampai batuk-batuk dalam intensitas tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak menendang-nendang kursi hingga protes keras dan langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toh, asap pekat masih terus mengepul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat mata makin perih dan sesak seperti menggumpal di dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi belum berhenti sampai disitu. Soalnya pembahasan pun melebar jauh dari fokus asal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minimnya penguasaan persoalan jadi biang keladinya. Belum lagi tak ada catatan yang merekam soal isi pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat pembahasan terus berputar layaknya komidi putar di pentas pasar malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua masih ditambah dengan kehadiran nakal tak kurang dari 4.000 jenis bahan kimia beracun dalam setiap batang rokok yang dinyalakan. Racun-racun kimia yang di antaranya termasuk zat radioaktif polonium-201, DDT yang lazim jadi racun serangga, hidrogen sianida yang kerap jadi “gas maut,” serta tentu saja, nikotin, tar, juga karbon monoksida saling berebut tempat memasuki paru-paru saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal saya tengah berupaya serius mencari peretas buat melihat jernih masalah tak jelas yang mereka semua sedang berdebat kusir dengannya. Saya sungguh berusaha untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa daya, saya harus disibukkan terlebih dahulu dengan upaya meringankan dada yang semakin sesak. Belum lagi mata yang jadi berair dan kepala yang sontak mengirimkan sinyal &lt;em&gt;nyut-nyut.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya tetap harus berada dalam ruangan itu. Supaya bisa mencari peretas buat melihat jernih masalah tak jelas yang mereka semua sedang berdebat kusir dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka saya pun jadi tak yakin kalau mereka sedang bicara soal nasib rakyat. Mungkin mereka malah sedang berupaya menyikat rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah kemungkinan terbaik yang mampir di benak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal lagi, kadang-kadang apa yang mereka perdebatkan adalah soal-soal kesehatan buat masyarakat banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya tak yakin mereka benar-benar peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah hampir empat jam saya berjibaku dengan gumpalan asap pekat yang menyergap ke segala penjuru. Terus bergerak mencari bangku-bangku kosong yang tak ada rokok menyala di sekitarnya untuk berpindah dan sekedar menarik nafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-2696676901221899408?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/2696676901221899408/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=2696676901221899408&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/2696676901221899408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/2696676901221899408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/02/penyikat-rakyat.html' title='Penyikat Rakyat'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R8ga3PVXebI/AAAAAAAAALc/VK_9tvIYLRA/s72-c/50.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-2122999754721309640</id><published>2008-02-28T17:33:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T15:53:55.399-08:00</updated><title type='text'>Berkah Syariah</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R8dhVvepz2I/AAAAAAAAALU/E-45BtNbw2A/s1600-h/49.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5172209723208486754" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R8dhVvepz2I/AAAAAAAAALU/E-45BtNbw2A/s320/49.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Nyaris dua tahun ini saya gunakan jasa perbankan syariah sebagai perantara kredit kepemilikan rumah. Selama itu pula saya buktikan janji awal mereka yang menjamin takkan ada penyesuaian setoran cicilan tiap-tiap bulannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sehebat apapun tingkat inflasi ataupun gejolak naik turunnya suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI). &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tak berpengaruh karena perbankan syariah punya instrumen non SBI bernama Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI). &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman awal menggunakan jasa perbankan syariah itu diikuti pilihan serupa saat memutuskan untuk membeli produk-produk investasi lainnya, beberapa waktu kemudian. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Memang belum terlalu bergairah, karena Jakarta Islamic Index (JII) yang menjadi indeks perdagangan syariah di Bursa Efek Jakarta yang mulai jadi Bursa Efek Indonesia sejak Desember 2007 karena bergabung dengan Bursa Efek Surabaya, baru punya 30 emiten. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;JII sendiri hanya salah satu indeks di BEI selain enam indeks lainnya. Masing-masing Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Indeks Sektoral, Indeks LQ45, Indeks Individual, Indeks Papan Utama dan Papan Pengembangan, serta Indeks Kompas 100 yang merupakan 100 saham pilihan Harian &lt;em&gt;Kompas&lt;/em&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Namun, kegairahan diperkirakan bakal meninggi pada tahun-tahun mendatang. Beberapa waktu lalu saya sempatkan berbincang ringan dengan salah seorang pengamat perbankan syariah di Indonesia mengenai soal-soal ini. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Katanya, pada 2009 mendatang diperkirakan akan semakin banyak bank-bank syariah asing yang beroperasi di Indonesia. Itu dengan catatan belum ada regulasi yang diterapkan oleh pemerintah untuk membatasi kehadiran bank-bank tersebut. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Ia menyebutkan, setidaknya dalam waktu dekat akan masuk Malaysian Islamic Bank yang akan bekerjasama dengan Bank Muamalat untuk beroperasi di Indonesia. Selain itu ia juga menyebut beberapa bank asing lain seperti Jordan Bank, Kuwait Financial, dan City Islamic Bank dari Bahrain. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dijelaskannya, dana dari bank-bank asing yang akan masuk ke Indonesia tersebut berkisar antara 50 juta dollar Amerika Serikat (AS) sampai 100 juta dollar AS. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan ini, katanya, semakin menguat seiring dengan semakin mengalirnya Dana Pihak Ketiga (DPK) ke perbankan syariah. Menurutnya, saat ini setiap bulannya terjadi penarikan dana dari perbankan konvensional ke perbankan syariah hingga Rp 1 triliun lebih. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Soalnya, saat ini para pengusaha itu melihat jika menempatkan dananya di perbankan syariah, maka selisih efisiensi investasi (margin efficiency to invest/MEI) lebih besar dibandingkan selisih efisiensi modal (margin efficiency to capital/MEC) yang didapatnya dari perbankan konvensional. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Hal itu masih ditambah lagi dengan mulai mengalirnya DPK di perbankan syariah yang sebelumnya menganggur (iddle) di Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI). Dana-dana menganggur mulai banyak mengalir ke sektor riil, dengan besaran yang signifikan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Soalnya jika terus dibiarkan mengendap di SWBI, di dalamnya masih terkandung apa yang dinamakan dengan &lt;em&gt;Rate of Interest/ROI&lt;/em&gt;. Ini secara bebas bisa diterjemahkan sebagai riba atau bunga. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Bunga yang jadi prinsip dasar mengambil keuntungan dan tak dibolehkan praktiknya dalam sistem keuangan syariah. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, pola kerjasama yang dibangun untuk mengalirkan DPK ke berbagai sektor produksi adalah dengan menerapkan &lt;em&gt;productivity sharing&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;product sharing. &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Selain penempatan DPK di sektor perbankan, perkembangan obligasi syariah dinilai juga akan mulai marak. Pada perkembangannya, obligasi syariah itu juga digunakan untuk kegiatan-kegiatan produktif (production activities) yang akan memacu sektor riil. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Hari ini saya kembali mengunjungi salah satu gerai investasi syariah yang berasa teduh itu. Rasa gerah pun tak perlu menyergap saya saat keluar dari gedung sederhana itu. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Berkah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-2122999754721309640?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/2122999754721309640/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=2122999754721309640&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/2122999754721309640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/2122999754721309640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/02/berkah-syariah.html' title='Berkah Syariah'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R8dhVvepz2I/AAAAAAAAALU/E-45BtNbw2A/s72-c/49.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-109073522009088521</id><published>2008-02-24T07:01:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T15:53:55.660-08:00</updated><title type='text'>Jalan Aturan</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R8GHjPepz0I/AAAAAAAAALE/w0F7T_8woEM/s1600-h/48.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5170562886718312258" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R8GHjPepz0I/AAAAAAAAALE/w0F7T_8woEM/s320/48.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Nyaris dua pekan silam lalu saya didapuk jadi narasumber pendamping di sebuah acara &lt;em&gt;kongkow-kongkow&lt;/em&gt; yang disiarkan salah satu stasiun radio dengan jaringan di sejumlah kota Nusantara. Topiknya lumayan panas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Nasib salah satu kesebelasan sepak bola yang jadi ikon salah satu kota besar di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim ini sudah berminggu-minggu jadi sasaran empuk perhatian luas sejumlah kalangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulanya karena “serangan” sejumlah klub yang merasa memiliki kesebelasan sepak bola yang jadi ikon salah satu kota besar di Inonesia itu terhadap ketua umumnya. Lantaran alasan ketidakpuasan, sang ketua diminta mundur saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawar menawar yang dibumbui aneka manuver terjadi berhari-hari. Menimbulkan analisa dan komantar macam-macam. Seringkali justru malah keluar dari titik awal persoalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling sulit saat varian politik ikut masuk dalam perseteruan. Wajar saja, salah satu poros sepak bola nasional ini hingga tahun lalu masih disuapi oleh asupan dari duit rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dana APBD hingga berbelas-belas miliar yang tandas ludes. Semua demi mendanai perjalanan kesebelasan yang jadi ikon salah satu kota besar di Indonesia tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prestasi yang sangat jeblok jadi titik masuk paling ideal buat menggelar upaya “kudeta” tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicermati ujung pangkalnya, sejatinya persoalan yang timbul mula-mula disebabkan kekhawatiran belaka. Ketakutan soal panggung yang bakal tergerus tatkala era profesional mulai dijalani kesebelasan yang jadi ikon salah satu kota besar di Indonesia itu tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya mungkin perlu djelaskan, niatan PSSI buat menggelar Liga Super pada musim 2008 yang hingga kini belum jelas ujung pangkalnya, telah membuat sejumlah kesebelasan berbenah. Soal Liga Super 2008 yang menurut saya belum siap segala faktor pendukungnya dan akan lebih baik jika ditunda saja mungkin bakal saya paparkan pada lain tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terkecuali persiapan yang digelar kesebelasan yang jadi ikon salah satu kota besar di Indonesia tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi-pagi benar sang ketua umum memaparkan rencananya buat melompat ke era profesional tadi. Dia bertekad bulat buat tak lagi mengemis dana APBD pada tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dicarilah investor yang mau jadi sponsor. Bentuk usaha buat mendatangkan untung pun dirancang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komposisi saham dihitung. Ada yang buat investor, terdapat pula bagian publik. Klub-klub yang sedari awal merasa memiliki kesebelasan yang jadi ikon salah satu kota besar di Indonesia tadi tak dikecualikan dalam penyertaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun rupanya itu dinilai belum cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa memiliki yang dipicu beban sejarah membuat klub-klub yang sedari awal merasa memiliki kesebelasan yang jadi ikon salah satu kota besar di Indonesia tadi tak mau melepas begitu saja rencana buat jadi profesional itu. Belum lagi, ini yang sepertinya jadi faktor terpenting, rasa aman di zona nyaman yang selama bertahun-tahun ada karena gelontoran pasti uang publik dan enggan begitu saja buat dilepaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berminggu-minggu kedua pihak ini berkonflik. Saling adu dan lempar ancaman juga argumen. Membuat banyak orang terpancing pusaran keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah, dalam acara &lt;em&gt;kongkow-kongkow &lt;/em&gt;tadi, hal pertama yang saya ajukan buat pembahasan adalah soal aturan dasarnya. Soal siapakah pemilih sah kesebelasan yang jadi ikon salah satu kota besar di Indonesia tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini penting sebagai dasar pembahasan soal-soal selanjutnya. Ini penting mengingat selama berminggu-minggu lamanya tak ada sentilan, umpatan, makian, ataupun keinginan buat melongok sebentar saja soal aturan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta yang kemudian bulat tersaji adalah kejutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PSSI, lewat kepanjangan tangannya di daerah itu yang membawahi pula kesebelasan yang jadi ikon salah satu kota besar di Indonesia tadi jelas-jelas menyatakan kalau klub-klub penggugat tadi sama sekali tak ada hubungannya dengan kesebelasan yang lagi digoyangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan karena fakta sejarah ada, namun relasi organisasi mestinya sudah hilang sejak empat tahun lalu. Faktanya, kesebelasan yang jadi ikon salah satu kota besar di Indonesia tadi berdiri sendiri dan tak terkait dengan klub-klub tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan yang ada, posisi kesebelasan yang jadi ikon salah satu kota besar di Indonesia tadi malah setara dengan klub-klub yang mau “kudeta” tadi. Setaraf semuanya di bawah perwakilan organisasi formal sepak bola Indonesia yang ada di kota itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, semua pihak pun terbelalak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk organisasi yang punya otoritas di daerah yang membawahi organisasi formal sepak bola Indonesia yang ada di kota itu tadi. Mereka terkejut juga demi menyadari keputusan mereka belum punya dampak ikutan di bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama empat tahun itulah semua pihak berjalan dalam wilayah abu-abu.&lt;br /&gt;Tidak hitam juga tidak putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basisnya hanya satu. Kepentingan yang bermuara pada uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah, ketika muncul riak-riak kecil, dengan mudahnya semua pihak bisa mengklaim kesebelasan yang jadi ikon salah satu kota besar di Indonesia tadi sebagai milik mereka. Semua orang dengan gampang mengail di air keruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segalanya gara-gara aturan yang ada tak pernah dijalankan. Jadilah, saya kembalikan lagi pokok soalnya pada aturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata sang ketua umum kesebelasan yang jadi ikon salah satu kota besar di Indonesia tadi, upaya buat mengembalikan persepsi ideal tadi bakal segera dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klub-klub yang semula merasa paling memiliki kesebelasan yang jadi ikon salah satu kota besar di Indonesia tadi dan sempat mau melakukan “kudeta” lalu mengiyakan posisi mereka sesungguhnya. Tensi tinggi selama beberapa minggu pun mulai turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya kedua kubu itu bersepakat damai. Sang ketua umum kesebelasan yang jadi ikon salah satu kota besar di Indonesia tadi, kembali bersemangat meracik timnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun kompetisi sepak bola Indonesia pada tahun ini belum jelas kapan bakal diputar. Ajang adu prestasi yang menurut saya, memang sebaiknya dihentikan dulu sementara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calon investor kembali dibidik. Segala potensi kelemahan dan kekuatan berikut kesempatan dan ancaman diinventarisir lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun menerawang dan meyakinkan diri sendiri. Bahwa jika memang ada kemauan buat kembali pada aturan, nihilnya pihak yang tersakiti bakal jadi keniscayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aturan membimbing menuju jalan keadilan. Pada titik inilah pentingnya peran pendidikan yang dipahami secara utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa aturan dibuat dan disepakati untuk menciptakan keteraturan. Bukan malah dikangkangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakali. Dilanggar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-109073522009088521?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/109073522009088521/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=109073522009088521&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/109073522009088521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/109073522009088521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/02/jalan-aturan.html' title='Jalan Aturan'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R8GHjPepz0I/AAAAAAAAALE/w0F7T_8woEM/s72-c/48.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-5379207027341409852</id><published>2008-02-23T23:47:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T15:53:55.820-08:00</updated><title type='text'>Citius, Altius, Fortius, Lantas Hapus (?)</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R8EhmfepzzI/AAAAAAAAAK8/g9Id4iKMblc/s1600-h/47.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5170450792366853938" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R8EhmfepzzI/AAAAAAAAAK8/g9Id4iKMblc/s320/47.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Henri Didon (1840-1900), adalah kreator moto Olimpiade &lt;em&gt;Citius, Altius, Fortius&lt;/em&gt; yang berarti lebih cepat, lebih tinggi, dan lebih kuat. Selama lebih dari satu abad, konsep mengukur kecepatan, ketinggian, dan kekuatan yang diciptakan pastor asal Perancis itu telah jadi ukuran bagi hampir setiap atlet di muka bumi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah atlet dari berbagai cabang olahraga sejak itu kemudian terus menorehkan prestasi hingga ke level internasional. Mereka terus berlomba jadi yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terkecuali atlet-atlet dari Indonesia. Tapi, cucuran keringat serta rasa bangga usai tiba di puncak dunia, kemudian berganti perasaan cemas luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumpukan piagam serta piala yang tiba-tiba jadi tidak berharga membuat segala daya dikerahkan untuk bisa sekadar bertahan. Berbagai persoalan yang membelit kehidupan atlet, dimulai ketika seseorang berkeinginan menjadi seorang atlet, berproses menjadi atlet, hingga ketika seseorang telah menjadi atlet itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah menjadi semakin kompleks ketika atlet sudah melewati masa keemasannya, alias ketika waktu pensiunnya telah tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bonus besar yang diharapkan bisa jadi modal mereka berwirausaha amblas tak berbekas. Karena keinginan untuk memulai bisnis justru baru timbul ketika masa keemasan sudah lewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pilihan rasional ketika banyak di antara mereka menuntut agar segera diangkat sebagai pegawai negeri sipil (PNS), karena jaminan hari tua yang sudah pasti. Padahal, formasi sebagai PNS belum tentu tersedia pada setiap periode tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi, banyak terjadi kasus-kasus dimana prestasi justru melorot tatkala dihadapkan pada rutinitas pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan paradigma untuk selalu berorientasi menjadi PNS perlu dilakukan. Tetapi itu juga bukan hal mudah, di tengah pandangan masyarakat umum yang menganggap pilihan sebagai PNS adalah yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isu mutasi atlet ke luar daerah pembinaannya, jadi fenomena menarik yang sedikit tersembul. Motifnya apalagi kalau bukan soal kesejahteraan.&lt;br /&gt;Apalagi buat mereka yang sudah di penghujung karir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, karena ini adalah gelanggang terakhir, maka kompensasi terbaik mesti didapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, KONI sendiri belum seberapa arif menanggapi hal ini. Produk hukum yang tertuang dalam UU No 3/2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional memang sudah ditetapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi melihat prestasi atlet dalam konteks lokal tetap saja jadi acuan bagi banyak sekali KONI daerah serta induk organisasi cabang-cabang olahraga di Indonesia. Keinginan untuk mencipta atlet handal untuk berlaga di pentas internasional, tidak peduli mewakili daerah mana atlet berjuang menjadi yang lebih cepat, lebih tinggi, dan lebih kuat, hampir tidak pernah tercetus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarik menarik kepentingan terus saja terjadi. Satu pihak mengejar kesejahteraan hidup, pihak lain menginginkan nama baiknya sebagai pembina atlet tetap terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para atlet yang kebanyakan berkiprah di dunia amatir itu pun akhirnya banyak yang seperti sosok profesional. Tawar menawar antara kemampuan yang dimiliki dengan ukuran nominal semakin sering terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah praktik yang turut disuburkan pula oleh kehadiran calo atlet yang ingin mereguk keuntungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disodorkanlah konsep industri olahraga yang sudah sangat matang di negara-negara maju. Persoalannya, konsep ini diadopsi secara mentah tanpa melihat masalah di lapangan. Soal-soal mendasar yang terhampar di Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah jadi hal klasik, bahwa mengurusi olahraga di Indonesia kadung dianggap sebagai proyek rugi ketimbang meraup profit. Kemudian, hampir tak ada investor yang secara serius mau menggarap ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atlet sebagai aset mestilah didorong lewat sebuah proses yang mengukur serta menghargai keseluruhan aspeknya sebagai manusia. Dalam hal ini motivasi yang bernuansa psikologis, ketimbang melulu soal pencapaian target prestasi jadi sangat penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesejahteraan mesti jadi sorotan utama yang mesti diperhatikan. Persoalan pendidikan atlet, hingga kemudahan-kemudahan birokrasi saat harus berlaga mewakili nama negara juga harus jadi perhatian utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah ada tawaran menarik dari pemerintah soal pelatihan kewirausahaan bagi para atlet. Tentu setelah itu harus pula dipikirkan soal permodalan serta jaringan pemasaran, agar program ini tidak terkesan hanya sekedar memindahkan masalah semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atlet juga mesti mulai dinilai kinerjanya saat masih dalam tahap pembelajaran serta pertumbuhan. Artinya, proses mesti lebih dihargai ketimbang hasil akhir yang melulu bicara soal medali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perspektif pelanggan, dalam hal ini investor sebagai basis industri olahraga, juga mesti diperhatikan. Bentuknya bisa jadi macam-macam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah konsesi saling menguntungkan untuk menggarap sebuah momen akbar keolahragaan bisa jadi pilihan. Produk baru dengan cepat bisa bermunculan, mendorong atlet menjadi bagian inti di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa lagi? Tentu saja eksekusi strategi-strategi tadi secara terus menerus serta penyelarasan yang akan mencipta sinergi, akan cepat menjadikan impian jadi kenyataan, sekalipun bakal diwarnai banyak kegagalan, karena menjadi atlet terbaik bukan hanya persoalan &lt;em&gt;citius,&lt;/em&gt; &lt;em&gt;altius,&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;fortius&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hanya ini yang jadi ukuran takaran, tak lantas salah jika ditambahi jadi satu konsep lagi. &lt;em&gt;Hapus.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujung soalnya, apalagi kalau bukan pemahaman pada pendidikan. Paham. Pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-5379207027341409852?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/5379207027341409852/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=5379207027341409852&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/5379207027341409852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/5379207027341409852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/02/citius-altius-fortius-lantas-mampus.html' title='Citius, Altius, Fortius, Lantas Hapus (?)'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R8EhmfepzzI/AAAAAAAAAK8/g9Id4iKMblc/s72-c/47.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-6250887588805458659</id><published>2008-02-21T07:15:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T15:53:56.027-08:00</updated><title type='text'>Sandal Pilkadal</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R72YXfepzyI/AAAAAAAAAK0/8QYG150IwuI/s1600-h/46.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5169455476645678882" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R72YXfepzyI/AAAAAAAAAK0/8QYG150IwuI/s320/46.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mesin bensin dengan sistem injeksi elektrik buatan lima tahun lalu itu menderum ringan. Putaran mesin berkapasitas isi silinder 1.800 sentimeter kubiknya saya batasi tak lebih dari 2.000 putaran per menit. Gigi transmisi hanya berkutat di nomor satu hingga urutan dua.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Dari balik kaca jendela depan, di jalan desa dengan lebar tak lebih dari lima meter itu, puluhan orang bersepeda motor menguasai badan jalan. Membuat pengendara lain tak punya kesempatan terbaik untuk mendahului mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk yang punya hajat darurat, karena kecepatan yang diperagakan puluhan orang tadi dari atas motornya tadi sungguh sangat lamban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jagoan-jagoan tengik itu meraung-raungkan mesin yang biaya bahan bakarnya didanai kepentingan mereka menuju ke sebuah pertemuan politik di sebuah tanah lapang desa tersebut. Ada yang berdiri. Ada pula yang sambil iseng mengangkat tingi-tinggi kedua sepasang kaki, dengan bokong yang masih melekat di atas sadel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat pengguna jalan lain terpaksa minggir. Pejalan kaki yang sudah minggir jadi semakin minggir dan merapat ke pagar terdekat. Mengindari setan-setan jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unjuk kekuatan. Mungkin itu yang mau mereka tunjukkan. Tetapi sungguh bagi saya terlihat seperti drama kebodohan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah percik kecil dari kebodohan luar biasa besar yang membingkai utuh potongan kisah dungu para jagoan tengik tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari terakhir ini saya punya kesempatan melihat langsung proses politik di sebuah wilayah kabupaten di Provinsi Jatim. Proses yang akan menentukan siapa jadi pemimpin daerah itu untuk lima tahun ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesta menjijikan para politisi yang sering berlindung di balik topeng istilah pesta rakyat. Pemilihan kepala daerah secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilkadal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unjuk kebodohan yang dipergakan para jagoan tengik tadi hanyalah salah satu eksesnya. Akibat langsung dari niat bulus buat menguasai panggung politik dengan hasil akhir menjamah utuh ranah kekuasaan. Supaya bisa lebih banyak lagi keuntungan didapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar makin hebat lagi pamor kuasa yang bisa menentukan segala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan ini ada empat calon penguasa tersedia. Saya tak mau pakai istilah calon pemimpin, karena kata ini punya konsekuensi yang lebih besar ketimbang sekedar jadi penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempatnya sempat saya ajak buat sekedar ngobrol santai. Buat yang pertama, saya langsung mencecarnya dengan rencana mula-mula yang dimiliknya jika jadi penguasa nantinya. Ia seorang pengusaha yang dalam hajatan para politisi kali ini punya sokongan dana luar biasa besarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sungguh amat &lt;em&gt;nelangsa &lt;/em&gt;melihat banyak calon warga yang bakal dikuasainya kelak punya tingkat pendidikan yang amat memprihatinkan. Jadi, dalam rumah barunya yang didesain bergaya minimalis dengan perabot yang punya roh sama namun sungguh berharga maksimalis, saya cecar ia soal isu tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sebatang rokok yang asapnya terus mengganggu saya sepanjang obrolan, ia hanya katakan sepotong rencana untuk mengadakan balai-balai latihan buat memenuhi kebutuhan praktis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan dunia industri. Sebuah dunia yang lapangan bermainnya saja belum ada. Belum tertata, dan bahkan tidak ada dalam rencananya mula-mula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi saya sentil ia dengan itu. Dengan bersemangat pula ia katakana akan menggandeng investor kaya buat merealisasikan itu semua. Tentu, karena banyak warganya yang jadi petani, tekanan utama perlu diberikan untuk sektor agroindustri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk bagaimana industri pupuk dan obat-obatan buat berjenis-jenis tanaman bisa direkayasa, diproduksi, dan dijual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun saya ingatkan lagi, sebagian besar lahan pada daerah yang akan dikuasainya nanti sudah masuk dalam fase kritis. Terlalu renta akibat sedemikian lama digerojok bahan-bahan kimia buat menambah unsur hara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pancing ia dengan konsep pertanian organik. Ide yang secara tiba-tiba membuatnya bersemangat, karena merasa seperti sedang dapat tepukan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katanya, tentu saja pertanian organik jadi sebuah keharusan. Sebuah jawaban yang membuat saya makin keki, karena baru saja ia katakan buat menggerojok lahan dengan jaminan ketersediaan pada pupuk-pupuk industri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi saat ia katakan mau menggratiskan saja biaya pendidikan hingga tingkat menengah pertama. Kata-kata yang kemudian ia ubah lagi karena menurutnya masih akan sangat tergantung dari dari anggaran yang bakal bisa disediakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu setelah ada kalkulasi politik dengan kaum legislatif dalam urusan pembuatan peraturan-peraturan daerah buat mendukung itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf untuk saya katakan, jika tak ada jawabannya yang bisa membuat saya terpuaskan. Karena ungkapan yang terus melambung jauh ke kanan dan kiri. Melayang ke atas untuk tiba-tiba terhempas ke bawah. Maju tiba-tiba ke depan dan mendadak mundur ke belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh membingungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya bertemu dengan calon penguasa kedua. Ia bekas tentara. Puluhan tahun menjadi serdadu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti filosofi peluru yang melesat tanpa ragu, maka seperti itu pula kira-kira calon penguasa kedua ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang bekas serdadu yang terbukti sukses menjalankan dwi fungsi tentara di masa lalu. Posisi terakhirnya sebagai komisaris utama dan presiden direktur dua perusahaan berbeda membuktikan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calon penguasa yang sudah puluhan tahun melanglang buana keluar dari kampungnya ini merasa sangat perlu mengidentifikasi lagi karakternya. Soalnya banyak orang sudah melupakan siapa dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah, ia demikian bernafsu mendatangi tempat lahirnya. Mendatangi satu-satu orang-orang di wilayah yang sudah berpuluh tahun ditinggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sungkan didatanginya pemilik rumah yang jadi tempatnya menumpang dilahirkan, dan mencoba sekuatnya mengingatkan sang pemilik rumah kalau dirinyalah si anak hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat banyak orang jadi makin heran. Sehingga ia berulangkali mesti menegaskan janji buat menomorsatukan tanah kelahirannya itu jika jadi penguasa kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janji yang dibungkus modus balas budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman pasti soal belati yang pasti berkarat jika tak ada yang merawat. Itu pula yang terus menerus dilakukan calon penguasa ini pada orang-orang yang jadi calon penguasaannya kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tanya kepadanya, masih dengan pertanyaan serupa pada calon penguasa pertama. Soal pemahaman orang-orang terhadap pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi calon penguasa kedua ini hanya punya solusi parsial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menjanjikan soal-soal pertanian yang katanya bisa diretas dengan sangat mudah jika ia berkuasa, lagi-lagi hanya sekedar balai-balai pendidikan dan latihan yang katanya bakal digerakkan. Supaya tercipta banyak tenaga-tenaga terampil yang bisa siap segera dipakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calon penguasa ini juga punya rencana serupa almarhum penguasa orde baru yang terhadap BJ Habibie berpuluh tahun lalu. Memanggil pulang orang-orang berpendidikan dan berkualitas asal daerah itu supaya mau jadi motor pembangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bola mata saya berhenti berputar. Tidakkah ia sadar bahwa dunia kini tengah bergerak cepat dengan logika modal yang tak mengenal batas wilayah identitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi, jawabannya melambung jauh ke kanan dan kiri. Melayang ke atas untuk tiba-tiba terhempas ke bawah. Maju tiba-tiba ke depan dan mendadak mundur ke belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh membingungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu secara iseng saya tanya bagaimana soal peran tentara dalam relasi kuasa dengan dirinya kelak. Hanya jawaban diplomatis yang bisa diberikan, dengan menegaskan kalau dirinya hanyalah pensiunan tentara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan lagi jadi tentara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga pastikan banyak investor bisa diundang. Tentu setelah ada kalkulasi politik dengan kaum legislatif dalam urusan pembuatan peraturan-peraturan daerah buat mendukung itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pindah ke calon penguasa nomor tiga. Calon yang ini punya hubungan sangat khusus dengan orde sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Birokrat tulen, yang didukung pengalaman puluhan tahun di bawah organisasi pohon besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon yang kabarnya sangat rindang dan nyaman bagi siapa saja yang bernaung di bawahnya dengan sulur akar menyebar ke segala arah dan terkadang menghisap habis unsur hara yang jadi keperluan pohon-pohon lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calon yang ini didukung tim dengan intelejensia berpolitik (baca membodohi orang lain) yang sangat mumpuni. Pengalaman puluhan tahun yang didukung sulur akar menyebar ke segala arah dan terkadang menghisap habis unsur hara yang jadi keperluan pohon-pohon lainnya di berbagai tempat tadi jadi dukungan utamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sekalipun calon penguasa nomor tiga ini sama sekali tak punya kelebihan kecerdasan, di mata para pendukungnya ia tetap jadi insan paling cerdas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tanya padanya soal politik aliran dan aliran politik yang pasti mewarnai masa kekuasaannya kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi, jawabannya melambung jauh ke kanan dan kiri. Melayang ke atas untuk tiba-tiba terhempas ke bawah. Maju tiba-tiba ke depan dan mendadak mundur ke belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh membingungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya tanyakan soal pemahaman pendidikan. Dengan bersemangat ia janjikan bakal banyak orang yang dikirim buat tugas belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban yang kemudian ia ralat sendiri karena katanya masih sangat tergantung dari anggaran yang bakal bisa disediakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu setelah ada kalkulasi politik dengan kaum legislatif dalam urusan pembuatan peraturan-peraturan daerah buat mendukung itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya saya sudah agak malas buat berdiskusi dengan calon penguasa keempat. Namun saya paksakan juga buat bertemu dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calon penguasa yang keempat dan juga punya latar belakang sebaga pengusaha ini langsung mengajukan rencana buat mendirikan saja sebuah universitas di daerah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu ia katakan demi mendengar cecaran saya yang terus menerus soal buruknya pemahaman orang-orang pada pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tak ada penjelasan yang runtut soal bagaimana perhatian terhadap kualitas itu bakal diberikan. Soal yang berkait erat dengan pemahaman pendidikan itu nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya ada janji politik buat meningkatkan kesejahteraan para guru. Sebuah janji yang tentu baru bisa diwujudkan setelah ada kepastian soal naiknya anggaran di bidang pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ia pun dengan sangat yakin bakal banjir investor yang datang buat menggairahkan industri pertanian di daerah itu. Tapi saat itu ia pasti sedang lupa lupa kalau perlu kalkulasi politik dengan kaum legislatif dalam urusan pembuatan peraturan-peraturan daerah buat mendukung itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi, jawabannya melambung jauh ke kanan dan kiri. Melayang ke atas untuk tiba-tiba terhempas ke bawah. Maju tiba-tiba ke depan dan mendadak mundur ke belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh membingungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi potensi konflik horisontal, seperti yang baru saja saya temukan saat kampanye salah satu calon. Layaknya orang-orang yang tak paham pendidikan dan bagaimana membingkai perbedaan dalam sebuah lukisan utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir saja pecah konflik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu terjadi tatkala ada penguasa lokal di salah satu desa yang menolak lapangan di desanya dipakai buat kampanye salah satu di antara empat calon penguasa tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasannya sepele, sang penguasa lokal tadi bukanlah pendukung salah satu calon penguasa yang mau kampanye tadi. Ia pendukung setia calon penguasa yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi ini terjadi gara-gara pemahaman yang nihil soal pendidikan. Ujung-ujungnya hampir tak ada orang yang mau menerima perbedaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya calon rakyatnya, tetapi juga calon penguasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi, di antara empat calon penguasa tadi rata-rata berangkat lewat dukungan mesin-mesin poltik yang lagi-lagi berlindung di atas nama rakyat kebanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu pula, ada sokongan dana dari sejumlah pemodal yang pasti berharap banyak imbal budi yang bisa dipanen kelak saat jagonya jadi pemenang tarung kekuasaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasti juga, takkan ada lagi prioritas diberikan bagi rakyat kebanyakan saat kekuasaan sudah dalam genggaman, seperti yang tertuang dalam janji politik yang disemburkan hebat dari mulut berbisa saat masa kampanye dan upaya merenggut hati dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prioritas pertama perhatian dan kepentingan tentu saja akan dibayarkan bagi kaum pemilik modal dan penyandang dana dan dukungan sebelum calon penguasa tadi benar-benar jadi penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya bagaimana upaya lebih dulu yang dilakukan adalah mengembalikan modal yang terlanjur keluar tadi. Barulah, jika ada sisa waktu dan dana, kadangkala berlagak jadi pahlawan kesiangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah bagi saya, proses pilkadal tak lebih dari sekedar analogi para kadal yang sedang berganti sandal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calon-calon penguasa picik yang bak sandal dan perlu diganti secara periodik supaya bisa dipakai para kadal buat menginjak-injak rakyat kebanyakan. Selalu dan masih saja terus begitu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyedihkan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-6250887588805458659?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/6250887588805458659/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=6250887588805458659&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/6250887588805458659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/6250887588805458659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/02/sandal-pilkadal.html' title='Sandal Pilkadal'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R72YXfepzyI/AAAAAAAAAK0/8QYG150IwuI/s72-c/46.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-4285035834004920243</id><published>2008-02-15T19:15:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T15:53:56.141-08:00</updated><title type='text'>Bunuh Diri</title><content type='html'>&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5167412433717415698" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R7ZWOvepzxI/AAAAAAAAAKs/CN-wx2DHQro/s320/1.bmp" border="0" /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Banyak orang lalu-lalang di depan blok rumah saya dua pagi lalu. Gara-gara diburu janji, saya tak acuhkan hal tak biasa itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Saya baru paham beberapa jam kemudian kalau sibuknya orang berlalu lalang itu karena ada tetangga saya yang baru tewas. Ia memilih cara tragis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata ia tak kuat menanggung kenyataan ditinggal istri lebih dulu ke alam baka. Pasangan hidup yang lebih dulu terenggut nyawanya karena jadi korban kecelakaan maut lalu lintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetangga saya itu pilih metode antik. Malam sebelum tewas, ia masukan sepeda motornya ke dalam kamar. Mesin penyejuk udara dinyalakan, bersamaan dengan deruman mesin bensin motornya. Kamar ditutup dan beberapa pil ditenggak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paginya, orang-orang ramai berkerumun. Kata beberapa tetangga saya yang kebetulan tak sedang diburu janji pada pagi itu, komplek perumahan yang kami tinggali sontak jadi pusat perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang berseragam. Pihak-pihak yang sibuk dengan urusan dan kepentingan sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyaris dua pekan sebelum peristiwa itu, saya temukan pula fakta mengiris kalbu di depan mata. Seorang pria muda tewas mengenaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi karena bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pilih kereta api sebagai algojonya. Saya lewat di tempat kejadian hanya berselang tak lebih dari 20 menit usai keputusan buat membuang nyawa itu dilaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kartu tanda pengenal yang saya temukan, saya tahu bahwa pria muda itu baru saja genap menembus usia kepala dua. Ia pun tercatat sebagai pekerja sebuah kelompok usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seragam yang mengidentifikasi ia sebagai karyawan salah satu perusahaan terkemuka juga masih melekat padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petunjuk utama yang membuat saya yakin ia bunuh diri adalah sepeda motor miliknya. Tunggangan roda dua keluaran baru itu masih terparkir rapi di salah satu sisi perlintasan kereta api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi saya buang kemungkinan ia sedang alpa ketika menyeberangi perlintasan gulita di malam buta itu. Juga asumsi jika saat kereta api melintas ia sedang menuntaskan salah satu hajat utamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena petunjuk kasat mata di lokasi kejadian membimbing saya pada kesimpulan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta tersaji utuh di depan mata. Apa yang tak bisa saya gali lebih dalam adalah motivasi sesungguhnya para pengambil keputusan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata istri saya, cita-cita mereka apa &lt;em&gt;sih&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua masih berupa asumsi. Tak sanggup menahan beban sendiri. Tak kuasa mendapati kenyataan jauhnya kesenjangan antara harapan dan kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, ada literatur Sigmund Freud dan Emile Durkheim yang mengupas soal bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat pisau bedah psikoanalisis, Freud punya pendapat bunuh diri sejatinya adalah bentuk perlawanan seseorang ke dalam dirinya sendiri.&lt;br /&gt;Dalam hal ini, kata Freud, orang-orang yang bunuh diri sebetulnya sedang dalam upaya untuk membuhuh bayangan benci terhadap orang tua mereka yang bersemayam dalam diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Durkheim punya analisa yang diklasifikasi jadi tiga. Adalah bunuh diri altruistik, egoistis, dan anomik yang dipandangnya jadi pembeda motivasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beber Durkheim, bunuh diri altruistik terkait tuntutan tradisi. Harakiri di Jepang adalah contohnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunuh diri egois terkait dengan kegagalan sesorang untuk menyatu dalam masyarakat. Kata Durkheim, ini kerap melanda orang-orang yang kesepian dan merasa seperti ditinggalkan oleh dunia yang terus melaju cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan bunuh diri anomik terjadi karena ada gangguan keseimbangan proses penyatuan sesorang dengan masyarakat. Ada sebuah krisis kepribadian. Misalnya terjadi ketika seseorang tiba-tiba tercerabut dari zona nyamannya selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau ketika pukulan hebat menerpa seseorang dalam hidup. Saat pukulan itu menimpa di tengah percepatan perputaran bola dunia yang cenderung mengakibatan kegelisahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia kekinian adalah dunia yang diklasifikasi Durkheim sebagai anomik tadi. Penuh anomali. Cenderung menyebabkan kegelisahan akibat kegagalan seseorang untuk menyatu dalam sistem besar yang bergerak cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bunuh diri dijadikan solusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi saya masih bertanya-tanya terus dalam hati, Mengapa mereka memilih cara bunuh diri. Buat meretas masalah dan berharap bersua solusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan mereka yang bunuh diri secara sendiri tak bisa saya pahami. Apalagi mereka yang sampai mengajak anggota keluarga dan komunitasnya dalam prosesi bunuh diri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh saya tak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi mereka yang bunuh diri dengan tujuan untuk membunuh orang lain. Bom bunuh diri jadi nyatanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sungguh tak paham. Heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa orang bunuh diri terus jadi misteri dalam hati. Ada surat wasiat ditinggalkan. Berharap bisa dijadikan petunjuk dan pegangan buat mereka yang ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetap saja saya heran.&lt;br /&gt;Mengapa mesti bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah menjadi hidup dan berkehidupan adalah hakikat manusia. Saya berulangkali menyaksikan berjenis tanaman dan aneka spesies hewan berjuang hebat mempertahankan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semut dan lebah yang terorganisasi hebat dan terus bekerja tanpa henti siang malam. Pohon rambutan dan cempaka yang sesekali meranggas demi bertahan hidup dan hanya meregang nyawa di saat-saat terakhirnya karena usia yang memang sudah renta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tak pernah bunuh diri. Hewan dan tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih rendahkah martabat dan kedudukan manusia dibandingkan tanaman dan hewan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-4285035834004920243?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/4285035834004920243/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=4285035834004920243&amp;isPopup=true' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/4285035834004920243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/4285035834004920243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/02/bunuh-diri.html' title='Bunuh Diri'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R7ZWOvepzxI/AAAAAAAAAKs/CN-wx2DHQro/s72-c/1.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-7357096520741869426</id><published>2008-02-13T18:17:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T15:53:56.261-08:00</updated><title type='text'>Terbuang Sayang</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R7OlU_epzwI/AAAAAAAAAKk/DLNMXYY3yWk/s1600-h/45.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5166654977580060418" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R7OlU_epzwI/AAAAAAAAAKk/DLNMXYY3yWk/s320/45.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sejumlah pemahat batu alam yang berjejer di sepanjang kawasan Trowulan, Mojokerto akhir-akhir ini sedang bekerja dalam diam. Mereka tetap giat, namun diam. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tenggelam dalam kesenyapan lesunya pasar akibat minimnya orderan pada wilayah kerja yang di zaman dulu hiruk pikuk karena jadi pusat Kerajaan Majapahit itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Saya sempatkan mampir di salah satu gerai pahat yang ada di kawasan itu. Nama pemiliknya Ribut Sumiyono. Tetapi ia sungguh tidak sedang punya nafsu untuk ribut-ribut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi, ia bekerja dalam diam. Meskipun tetap giat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengusaha seni pahat patung batu yang punya gerai bernama “Selo Adji” di salah satu sisi Jalan Raya Jatisumber, Dusun Jatisumber, Desa Wates Umpak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto itu tengah bingung memutar otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak, jika jumlah pesanan patung yang mampir semakin sedikit dalam beberapa tahun terakhir. Jumlah perajin yang bekerja padanya pun terpaksa diciutkan. Dari jumlah 25 orang, kini menjadi hanya 11 orang saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patung-patung itu sendiri kebanyakan memiliki pangsa pasar di luar negeri, seperti ke benua Eropa dan Amerika. Untuk pasar lokal, sejumlah pelaku industri pariwisata seperti para pengusaha hotel dan villa kerap jadi penyerap terbesar produk-produk patung batu yang kualitas pahatannya terbilang sangat halus itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribut menyebutkan, sejak jumlah pesanan meledak pada tahun 1998, jumlah pesanan mengalami penurunan drastis sejak tragedi bom Bali terjadi pada 2002 silam. Sejak saat itulah, jumlah pesanan belum pernah lagi tercatat dalam angka tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari terkekeh, Ribut bertutur jika ia lebih suka nilai tukar dollar Amerika Serikat terhadap rupiah kala itu. Katanya, jumlah yang bisa mencapai hingga Rp 14 ribu untuk tiap satu dollar Amerika Serikat sungguh membuatnya bisa berbahagia plus sedikit berbangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bidang usaha yang digelutinya memang sangat rentan terhadap isu keamanan. Ribut menyebut, tak kurang dari 50 kelompok perajin yang secara rata-rata memiliki 20-25 orang pekerja untuk tiap kelompoknya itu, kini praktis hanya sekedar menunggu pembeli datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiadaan akses terhadap pasar jadi sebab utama lesunya salah satu insdustri kerajinan rakyat itu kini. Kata Ribut, selama ini tidak ada perhatian ataupun kegiatan yang dilakukan instansi pemerintahan yang berkepentingan terhadap industri tersebut dalam mengatasi soal yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribut juga belum mengetahui sejauh mana efektivitas pemanfaatan teknologi informasi yang hanya dipergunakan pemerintah daerah sambil lalu itu terhadap peningkatan pesanan. Padahal yang dibutuhkan bukan sekedar implementasi kebijakan bernuansa proyek berbau crash program seperti itu, melainkan kebijakan menyeluruh yang berpihak pada kepentingan pelaku usaha yang akhirnya akan berdampak pada peningkatan pendapatan daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal lagi, Ribut sama sekali belum pernah menggunakan akses ke lembaga perbankan untuk beroleh kucuran kredit. Selama ini, usaha itu dibangunnya dari nilai nol rupiah. Dari mula-mula hanya jadi pegawai rendahan pada gerai pahat serupa milik orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal sama dialami pula oleh Suwojo dan Ibnu, pengelola gerai bernama Wisnu Murti Art di Jalan Raya Wringin Lawang, Jatipasar, Trowulan, Mojokerto, Jatim, yang tak punya akses pada pasar. Kesibukan di gerai itu kini hanya sekedar menyelesaikan bentuk-bentuk sederhana dari bahan baku yang sudah ada, tanpa kesibukan berarti menyelesaikan pesanan yang memang belum ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiadaan sentuhan tangan pemerintah terhadap persoalan tersebut juga mewujud runtut dengan tidak adanya inisiatif dari kalangan perajin untuk mengentaskan persoalannya sendiri. Sekalipun sangat rentan dipermainkan pihak ketiga dalam soal kesepakatan harga, di kelompok-kelompok perajin itu belum ada satupun kelompok besar, perkumpulan, atau semacam paguyuban yang menaungi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, perkumpulan besar ini bisa melindungi dan memperjuangkan kepentingan para perajin tersebut. Sebut saja soal standar harga layak yang mestinya bisa dinikmati seluruh perajin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini belum lagi jika bicara kepentingan konsumen, soal standar kualitas mutu produk yang mestinya bisa diperoleh. Padahal, jika dirunut lagi setidaknya wilayah di sekitar Jatisumber sudah sejak tahun 1970 an jadi sentra penghasil patung batu. Untuk bahan bakunya didatangkan dari sejumlah daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Ribut, untuk jenis batu hitam ia mendatangkannya dari wilayah Gunung Kelud. Sedangkan untuk jenis batu hijau, didatangkan dari Blitar dan Pacitan. Adapun jenis batu putih, diambil dari wilayah Wonosari dan Pacitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan batu putih harganya labih mahal. Bentuk patung juga tak bisa besar, karena bahan dasar batu putihnya sendiri kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga patung jadi berkisar antara Rp 200 ribu hingga Rp 20 juta. Semuanya bergantung pada kualitas kerja dan kerumitan desain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala bentuk patung bisa dikerjakan. Asalkan ada kesepakatan pasti soal bentuk, kualitas, dan harga. Sayangnya, kemampuan luar biasa itu saat ini belum bisa dimaksimalkan seluruhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbuang. Sayang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-7357096520741869426?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/7357096520741869426/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=7357096520741869426&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/7357096520741869426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/7357096520741869426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/02/terbuang-sayang.html' title='Terbuang Sayang'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R7OlU_epzwI/AAAAAAAAAKk/DLNMXYY3yWk/s72-c/45.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-1491839079961595441</id><published>2008-02-13T06:15:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T15:53:56.895-08:00</updated><title type='text'>Guru Hidup</title><content type='html'>&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5166469220244508322" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R7L8YfepzqI/AAAAAAAAAJ0/c5X46NP_4yA/s320/ata19.jpg" border="0" /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sekedar ingin berbagi, beberapa di antara sekian banyak guru hidup yang jadi tempat belajar saya.&lt;/span&gt; &lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R7L9PvepzrI/AAAAAAAAAJ8/Eeve9iJFLvE/s1600-h/ata23.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5166470169432280754" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R7L9PvepzrI/AAAAAAAAAJ8/Eeve9iJFLvE/s320/ata23.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R7L9PvepzrI/AAAAAAAAAJ8/Eeve9iJFLvE/s1600-h/ata23.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R7L_fPepzuI/AAAAAAAAAKU/FhDqGzmLZiU/s1600-h/ata24.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5166472634743508706" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R7L_fPepzuI/AAAAAAAAAKU/FhDqGzmLZiU/s320/ata24.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R7L__PepzvI/AAAAAAAAAKc/DlmNn_Pj7HI/s1600-h/ata21.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5166473184499322610" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R7L__PepzvI/AAAAAAAAAKc/DlmNn_Pj7HI/s320/ata21.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R7L9zPepzsI/AAAAAAAAAKE/p2HzaPdwj24/s1600-h/ata20.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5166470779317636802" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R7L9zPepzsI/AAAAAAAAAKE/p2HzaPdwj24/s320/ata20.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R7L-wfepztI/AAAAAAAAAKM/DxXmko9Aayo/s1600-h/ata22.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5166471831584624338" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R7L-wfepztI/AAAAAAAAAKM/DxXmko9Aayo/s320/ata22.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Menunggu untuk segera berkumpul lagi. Secepatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-1491839079961595441?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/1491839079961595441/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=1491839079961595441&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/1491839079961595441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/1491839079961595441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/02/guru-hidup.html' title='Guru Hidup'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R7L8YfepzqI/AAAAAAAAAJ0/c5X46NP_4yA/s72-c/ata19.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-908598276988617762</id><published>2008-02-11T23:08:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T15:53:57.101-08:00</updated><title type='text'>Luka Jakarta</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R7FJKvepzpI/AAAAAAAAAJs/ib7-hgUNNO0/s1600-h/43.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165990696463224466" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R7FJKvepzpI/AAAAAAAAAJs/ib7-hgUNNO0/s320/43.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pandangan mata saya menatap lurus ujung sayap yang ditekuk milik pesawat Airbus A320. Bagian yang disebut &lt;em&gt;winglet&lt;/em&gt; pada salah satu spesies buatan konsorsium Eropa Airbus Industries itu punya fungsi utama buat menghemat bahan bakar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Cara kerja &lt;em&gt;winglet&lt;/em&gt; adalah dengan menjadi alat handal menembus &lt;em&gt;vorteks&lt;/em&gt;, yang secara sederhana merupakan penghambat laju pesawat di udara. &lt;em&gt;Vorteks&lt;/em&gt; ada karena perbedaan tekanan udara antara penampang atas dan bawah bagian sayap-sayap pesawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan &lt;em&gt;winglet&lt;/em&gt;, tak perlu ada akselerasi mesin berlebihan yang berarti membesarnya kucuran bahan bakar saat pesawat menghadapi &lt;em&gt;vorteks&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Winglet &lt;/em&gt;adalah pisau. Alat sederhana yang hanya berupa lekukan di ujung sayap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun akibatnya sungguh tidak sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan &lt;em&gt;winglet&lt;/em&gt;, lebih jauh jarak bisa ditempuh, lebih murah biaya perawatan mesin yang dikeluarkan, dan pastinya lebih banyak orang dan barang bisa terangkut dalam pesawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ujung &lt;em&gt;winglet&lt;/em&gt;, mata saya menembus lurus ke batas horison. Menikmati indahnya pagi dengan jarak ribuan meter dari muka air laut. Di batas paling bawah, dalam hitungan menit akan segera saya masuki wilayah ibukota negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu hanya berselang sehari ditutupnya Bandara Internasional Soekarno Hatta, Jakarta, setelah lagi-lagi banjir yang makin hari makin parah terulang kembali. Pertunjukan kolosal yang tragis jutaan kaki kubik debit air yang enggan mengalah dari kuasa manusia yang serakah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak mobil masih tergolek tak berdaya di sepanjang tol bandara. Seebagian besar adalah angkutan taksi serupa yang sedang saya tumpangi. Kata seorang sopir taksi kepada saya, mereka itulah yang terjebak banjir dan terpaksa membiarkan mobil tunggangannya berendam dalam kubangan bercampur air laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian di antaranya adalah sopir-sopir angkutan umum, yang sama-sama tak berdayanya seperti mobil tunggangannya yang kebanjiran. Apakah setelah banjir surut masalah mereka pun susut? Tidak juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata sopir taksi berperawakan mungil yang mengantar saya tadi, setidaknya sopir-sopir angkutan umum tadi mesti membayar hingga Rp 5 juta yang diangsur dari potongan pendapatan mereka tiap-tiap bulannya. Itu sebagai biaya tambahan ongkos rekondisi mobil-mobil tunggangan yang mengalami mati suri usai dihajar pertunjukan kolosal yang tragis jutaan kaki kubik debit air yang enggan mengalah dari kuasa manusia yang serakah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soalnya tentu tak ada perusahaan yang mau menangggung rugi sendiri.&lt;br /&gt;Tak ada istilah &lt;em&gt;force majeure&lt;/em&gt; dalam dunia banjir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan-jangan, angsuran banjir kali ini belum lagi lunas, bulan depan sudah datang lagi banjir yang lebih dahysat. Semua dianggap jadi bagian rutinitas yang seolah tak bisa diretas ujung pangkalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal tak ada istilah &lt;em&gt;force majeure&lt;/em&gt; dalama dunia banjir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah. Sepertinya banyak manusia Jakarta kini makin tumpul saja otaknya.&lt;br /&gt;Menganggap apa-apa yang mereka rasakan, alami, dan lakukan merupakan bagian dari nasib dan takdir yang seolah tak bisa diubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lidah banyak orang seolah kelu tatkala banyak pejabat sontoloyo berlindung atas nama bencana yang merupakan kehendak penguasa semesta. Tiarap di atas kidung doa sembari berharap agar kejadian serupa takkan terulang di masa-masa berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mereka semua lupa berusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang abai tatkala kebiasaan membuang sampah sembarangan jadi hal jamak dikerjakan. Tak ada yang peduli saat ludah berserakan di seluruh pelosok kota. Siapa yang mau perhatikan ketika banyak mayat tikus bergelimpangan di ruas-ruas jalan utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu semua disengaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tiarap di atas kidung doa sembari berharap agar kejadian serupa takkan terulang di masa-masa berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mereka semua lupa berusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lihat makin banyak bangunan-bangunan megah berdiri sombong di tengah-tengah miskinnya akses terhadap ruang-ruang publik dan tempat bersemayamnya debit air. Tenggelam dalam kesombongan sendiri, karena toh akhirnya banyak di antara bagungan-bangunan megah itu yang mesti rela kosong melompong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali waktu saya mantapkan pegangan jemari di lingkar kemudi. Mencoba waspada sembari melirik kaca spion kanan dan kiri. Semua rambu dan tata aturan saya penuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa daya, saya hanya jadi binatang jalang di antara kerumunan setan. Saat berperilaku sopan di jalan jadi barang haram. Ketika kaca spion yang saya awasi bolak-balik justru jadi sasaran empuk hantaman pengemudi-pengemudi tak tahu diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saling serobot saling sikut, jadi jamak dan bukan barang terlarang. Saat tiba-tiba ada satu spesies &lt;em&gt;bajaj &lt;/em&gt;tua beroda tiga yang tiba-tiba mendesak ruang sempit saya di antara himpitan bus kota, pengemudinya hanya mengerling pada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ujung sepelemparan mata saya ada satu unit &lt;em&gt;hot hatch&lt;/em&gt; Peugeot 206 yang beken di ajang reli dunia lagi terjebak di jalur &lt;em&gt;busway&lt;/em&gt;. Pengemudinya tak menyangka, jalur sombong yang dipaksakan membelah macetnya ibukota dan dengan percaya diri dilewatinya itu, ternyata belum selesai pengerjaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah ia terjebak di tengah-tengahnya. Tak bisa melewati &lt;em&gt;separator&lt;/em&gt;, mustahil untuk mundur, apalagi maju terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melambaikan tangan pada pengemudinya lewat kaca jendela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan raya di saya depan tiba-tiba ditutup. Ada dua kubu suporter sepak bola sedang berkelahi dan saling amuk. Dari perkembangan selanjutnya yang saya tahu ada satu nyawa yang meregang dan menemui penciptanya di tengah-tengah peristiwa sia-sia dan tanpa makna itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang saya rasakan saat itu sungguh bikin sesak di dada. Ingin rasanya saya mengajak salah satu pentolan kelompok suporter itu untuk berkelahi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan ditutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat perjalanan saya sebagai penjemput rombongan dari bandara ke kawasan selatan Jakarta harus memakan waktu tak kurang lima jam lamanya. Membuat salah seorang anggota keluarga saya harus merasakan dampak parah gara-gara serangan dadakan penyakit degeneratif di esok harinya. Ingin rasanya saya mengajak salah satu pentolan kelompok suporter itu untuk berkelahi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan tiba-tiba mengguyur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama, hanya sekitar lima belas menit. Apa daya, tiba-tiba saja di depan saja sudah menghadang genangan sekitar setengah meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan merayap, memaksa mesin bekerja lebih keras. Kadangkala ditingkahi suara-suara aneh dari belakang sistem gas buang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya lihat makin banyak anak-anak kecil berserakan di pinggir-pinggir jalan dan setiap perempatan. Mereka dieksploitasi. Dijadikan tameng orang-orang dewasa tak tahu diri yang menjadikan anak-anak kecil itu umpan buat mengail duit recehan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politisi dan pejabat sontoloyo ramai-ramai memanfaatkan semua isu dan kekacauan ini buat mengatrol pamor. Diliput dan diperhatikan kanan-kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memanipulasi data dan omongan bahkan pikiran supaya supaya terkenal.&lt;br /&gt;Berjanji macam-macam buat menuntaskan itu semua persoalan. Memberikan harapan semu pada orang-orang yang kebetulan mereka tahu dengan persis, takkan berani melawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau setidaknya mempertanyakan soal nasibnya, soal haknya dengan lebih kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujung-ujungnya kucuran duit. Entah darimana asalnya, pokoknya uang dan diakui industri perbankan. Bisa diinvestasikan dan dibuat alat melanggengkan umur kekuasaan. Syukur-syukur bisa dijadikan praktik sempurna pencucian uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu berulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumpukan sampah makin menggerus sempitnya jalan raya. Tak ada lagi pengemudi dan pengguna jalan yang mau peduli. Mereka semua memakan habis daya hidup kota. Setengah mati saya coba parkir di tengah jahatnya penetrasi semua kebusukan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pelankan laju kendaraan ketika sekonyong konyong saya tangkap keceriaan bocah-bocah usai sekolah yang melintas di tengah jalan. Sorot mata mereka masih menyimpan banyak harapan. Setumpuk impian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akankah mereka saya, anda, dan kita rela sia-siakan. Terus larut dalam serakan sampah-sampah busuk ibukota. Tenggelam dan jadi bagian buruk serta ruwetnya sistem tak berujung pangkal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata saya menatap lurus &lt;em&gt;winglet &lt;/em&gt;Airbus A320. Pesawat efisien yang beken bagi maskapai penerbangan dengan konsep &lt;em&gt;low cost carrier&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Winglet&lt;/em&gt; yang handal menembus hambatan berupa &lt;em&gt;vorteks&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Perangkat sederhana yang tak rumit tapi berdampak besar terhadap keseluruhan sistem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat bersamaan, makin banyak politisi dan pejabat sontoloyo berkoar soal aneka perkakas nan rumit buat meretas persoalan Jakarta. Saling beradu argumentasi dan membuat rakyat kebanyakan yang kebetulan tak paham esensi pendidikan makin melongo seperti bego.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah banyak politisi dan pejabat sontoloyo itu pintar dengan gelar doktornya, seakan mereka tak ada tandingannya. Sepertinya uang menjadi inti segala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya yang mereka punya dan terus mereka pikirkan untuk punya dan menambahnya. Entah dengan jalan lurus atau bulus. Soal nurani dan hati, saya kok meragukan mereka memilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, tak ada satupun perkakas rumit yang mereka ajukan tadi benar-bener menyentuh akar persoalan. Tak pernah ada yang bicara pentingnya pemahaman terhadap pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah perkakas sederhana yang tak rumit tapi berdampak besar terhadap keseluruhan sistem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan. Paham.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-908598276988617762?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/908598276988617762/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=908598276988617762&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/908598276988617762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/908598276988617762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/02/luka-jakarta.html' title='Luka Jakarta'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R7FJKvepzpI/AAAAAAAAAJs/ib7-hgUNNO0/s72-c/43.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-1040010478014476993</id><published>2008-02-11T03:33:00.001-08:00</published><updated>2008-11-13T15:53:57.252-08:00</updated><title type='text'>Siapa Manusia</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R7AynPepzoI/AAAAAAAAAJg/NNi2rKcZtE4/s1600-h/42.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165684422345346690" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R7AynPepzoI/AAAAAAAAAJg/NNi2rKcZtE4/s320/42.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Awal bulan lalu saya melayat dan mengucapkan salam duka pada keluarga almarhum Njoo Kim Bie. Njoo Kim Bie meninggal dalam usia 80 tahun di Rumah Sakit Katolik St. Vincentius A Paulo, atau yang dikenal dengan RKZ (Rooms Katholiek Ziekenhuis) Surabaya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ia tutup usia pada 7 Januari lalu, persis pukul 22.45. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Njoo Kim Bie adalah atlet bulutangkis Indonesia yang jadi salah satu pengukir pertama nama Indonesia sebagai juara dan pengerek perdana Merah Putih ke puncak tiang bendera di pentas Piala Thomas 1958, Singapura. Lalu di tahun 1961, saat kejuaraan puncak bulu tangkis di kelompok pria yang pialanya disumbang oleh Sir George Alan Thomas pada 1939 itu diadakan di Jakarta, Njoo Kim Bie kembali mengantarkan Merah Putih ke puncak. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Njoo Kim Bie akhirnya menyerah setelah berjuang melawan kelainan pembuluh darah pada otak (aneurisma) yang menderanya sejak tiga tahun terakhir, sebelum menjalar jadi infeksi paru-paru. Njoo Kim Bie meninggalkan dua putri, empat cucu, dan lima cicit pada akhir hayatnya. Istrinya sudah lebih dulu wafat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Njoo Kim Bie yang saat jayanya berpasangan dengan Tan King Gwan terkenal dengan aksi smes digdayanya. Itu wajar, mengingat Njoo Kim Bie adalah sosok dengan postur tinggi besar yang ideal. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Atlet bulutangkis seangkatan Ferry Sonnevile dan Lie Poo Djian itu juga merajai ajang Malaysia Open dan Indonesia Open antara periode 1959-1963. Njoo Kim Bie juga tercatat sebagai pemain sepak bola di kelas utama POR Tiong Hwa di era 1950an. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Semasa hidupnya, Njoo Kim Bie juga punya nama asimilasi Koesbianto. Sebuah kebijakan rezim orde baru soal pembauran yang sejatinya hanyalah pengarahan hubungan antar-etnis yang berat sebelah. Kebijakan yang menginginkan hanya satu etnis saja yang diharapkan melebur dalam komunitas masyarakat etnis lainnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Nama asimilasi yang ditolak untuk dipakai Njoo Kim Bie. Kata sejawat karibnya, Njoo Kim Bie punya argumentasi tersendiri untuk itu. Pendapat Njoo bahwa deretan abjad Njoo Kim Bie yang diberikan orang tuanya pastilah menyimpan makna tersendiri. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Makna khusus yang tak serta merta bisa digantikan oleh penyederhanaan dalam satu kata singkat. Koesbianto. Saya setuju. Kawan karibnya tadi meneruskan ceritanya pada saya. Bakat luar biasa hebat dalam menepok bulu yang ditunjang postur ideal pada Njoo Kim Bie, rupa-rupanya tidak berhasil mulus pada kesempatan pertama. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Keinginan buat membela Merah Putih di awal-awal sejarah yang harus terhalang gara-gara kebijakan soal asimilasi tadi. Kebijakan yang dalam praktik di lapangan mewujud jadi pemberlakuan kebijakan diskriminatif di bidang politik dan budaya. Semuanya ditujukan supaya ada "keseimbangan" dengan kekuatan ekonomi bagi orang-orang yang dibebani untuk mengikuti kebijakan asimilasi tadi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kekuatan yang dalam perspektif orde baru memang ditujukan sebagai motor utama penghela pembangunan. Dalam cerita sejawat Njoo Kim Bie tadi kepada saya, harus ada masa penantian cukup bagi Njoo sebelum ia benar-benar diakui, dipercaya, dicap, dan distempel sebagai Indonesia. Sebuah kisah yang saya terlalu amat sering mendengar, membaca, dan merasakannya. Semua demi satu kata tujuan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Asimilasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mengapa bisa begitu. Mungkin kira-kira begini ceritanya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ada beberapa kata kunci yang perlu diingat dalam pembahasan ini. Di antaranya seperti orde lama, komunis, RRC, orde baru, bahaya laten, &lt;em&gt;parno&lt;/em&gt;. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Saat orde baru berkuasa, dengan Soeharto sebagai lokomotifnya, ada kekhawatiran tersendiri bahwa orang-orang yang dibebani untuk mengikuti kebijakan asimilasi tadi akan cenderung memiliki orientasi politik ke negeri leluhur. Dalam hal ini, RRC dengan sistem politik berasas komunis, dipandang sebagai bahaya laten yang mesti dijauhi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Cabut daya hidupnya semenjak dari akarnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Hal itu mewujud dalam kecurigaan-kecurigaan yang dibangun berdasarkan asumsi dan prasangka. Rezim orde baru menjadi sangat &lt;em&gt;parno&lt;/em&gt;, ketakutan jika orang-orang yang dibebani untuk mengikuti kebijakan asimilasi tadi akan punya orientasi politik yang serupa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Karena itulah sejak jauh-jauh hari tanpa perlu memandang latar belakang profesi, pendidikan, atau apapun lainnya, segala akses politik bagi orang-orang yang dibebani untuk mengikuti kebijakan asimilasi tadi segera ditutup. Paling tidak dibonsai. Wujudnya kemudian yang paling kentara dan diresmikan jadi sebuah kebijakan, ya asimilasi tadi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sebagai kompensasinya, ada akses luar biasa besar di lain ladang yang ditopang etos kerja maksimal orang-orang yang dibebani untuk mengikuti kebijakan asimilasi tadi. Tentu ya itu tadi, pembukaan akses ekonomi supaya jadi mesin utama kebijakan politik yang digariskan. Agar "seimbang." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Itu wujud resmi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pada bentuk-bentuk yang tidak resmi, rasa-rasanya terlalu banyak praktik kelam yang jadi torehan buruk sejarah kemanusiaan soal itu terjadi di negeri ini. Gara-gara asimilasi tadi, teramat banyak sahabat-sahabat saya semasa mengecap seragam putih-biru pada masa lima belas tahun silam, harus merasakan keganasan tetangga-tetangga mereka sendiri ketika amuk massa pecah, Mei 1998 lalu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; Karena asimilasi tadi, sungguh tercipta batas dan tembok maya yang tak kasat mata dalam berbagai upaya interaksi budaya. Akibat asimilasi tadi, sungguh tak terhitung sahabat-sahabat saya yang hingga hari ini demikian sulit menembus tembok kokoh bernama superioritas ekonomi yang tegak megah bak menara gading. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sahabat-sahabat saya itu hingga kini hanya sanggup memikirkan bagaimana caranya memanjat menara gading superioritas ekonomi itu. Belum, belum sampai pada tahapan memikirikan cara membuat menara-menara yang lain. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sungguh, didasari kebijakan asimilasi tadi saya seringkali sedih demi melihat banyak kenyataan betapa pembauran yang diharapkan orde baru dulu justru sedang dalam pementasan puncak makna kegagalannya. Saat dimana saya saksikan dengan mata telanjang dan demikian konfrontatif. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kenyataan bahwa kini banyak sekali kumpulan-kumpulan sosial yang dibangun dalam sebuah wadah, hanya atas dasar-dasar kesamaan tertentu yang demikian naif dan menihilkan hakikat manusia sebagai makhluk yang sangat kompleks. Seolah tak ada lagi rasa percaya yang bisa diberikan dan diterima ketika bangunan sosial itu disusun dari berbagai macam rupa, rona, rasa, dan raga. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Saya lihat itu ketika mengantar istri dan anak saya ke sejumlah pusat perbelanjaan. Saya saksikan itu ketika memberikan materi pengajaran di sejumlah lembaga pendidikan. Saya buktikan itu saat mengunjungi berbagai kompleks perumahan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sayapun bisa dengan mudah membuktikan ini semua sekarang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Semua karena pembauran yang salah konsep dan niat sejak awalannya. Pada hal yang lebih luas lagi, itu mewujud pada penerapan soal pemberlakuan SBKRI bagi orang-orang yang dibebani untuk mengikuti kebijakan asimilasi tadi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tak terkecuali buat Njoo Kim Bie. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sebuah kebijakan yang berupa dokumen sebagai bukti bahwa seseorang itu benar-benar diakui ke-Indonesiannya. Tak peduli betapa tinggi prestasi yang sudah diberikan bagi Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Jika peraih prestasi adalah orang-orang yang dibebani untuk mengikuti kebijakan asimilasi tadi, SBKRI jadi harga mati. Sebuah kebijakan teknis yang jika merujuk pada sejarah awalanya berasal dari kebijakan ordonansi di zaman Belanda. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tatkala ada empat golongan warga negara yang dibedakan dalam urusan-urusan soal pengurusan catatan sipil. Empat golongan yang dibedakan dalam ordonansi pada zaman Belanda itu masing-adalah mereka yang keturunan Eropa, Tionghoa, pribumi Kristen, dan pribumi Islam. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bayangkan betapa rumit dan &lt;em&gt;amit-amitnya&lt;/em&gt;, tatkala ada konsep berupa kelas-kelas manusia tersendiri yang tak masuk akal dan diadopsi, setidaknya dalam pemahaman ruang pikir, hingga kini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sistem inilah yang dijadikan dasar wajibnya SBKRI bagi orang-orang yang dibebani untuk mengikuti kebijakan asimilasi tadi. SBKRI lalu meluas perannnya dan jadi terkait saat mau mengurus akta kelahiran, KTP, paspor, kartu keluarga, hingga sertifikat dari proses jual beli tanah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tahun 2006 lalu, Indonesia memang sudah punya undang-undang baru soal ini. Namanya Undang-undang (UU) No 12 tentang Kewarganegaraan, yang diresmikan 1 Agustus 2006. Namun tidak lantas gara-gara ini SBKRI langsung mati. Hmmm, ini akan saya bahas pada lain tulisan lain waktu nanti. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sekarang saya sedang berangan-angan dalam sepi. Sampai kapan segala prasangka ini akan lekang. Lintang pukang bersama asumsi-asumsi busuk berfondasikan diskriminasi yang menghancurkan inti kesetaraan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Njoo Kim Bie akhirnya dibaringkan pada peti mati putihnya. Tidak seperti istrinya yang memilih dikremasi, Njoo Kim Bie meminta jasadnya dikubur. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Satu set jas yang dipakainya adalah pakaian kebesaran dengan identitas milik PBSI. Organisasi bulu tangkis Indonesia yang jadi lahan mengabdinya hingga ajal menjemput. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pada dada kirinya tersembul lambang organisasi itu. Bagi saya, hanya ada satu jenis manusia dalam hidup ini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Manusia.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-1040010478014476993?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/1040010478014476993/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=1040010478014476993&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/1040010478014476993'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/1040010478014476993'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/02/siapa-manusia_11.html' title='Siapa Manusia'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R7AynPepzoI/AAAAAAAAAJg/NNi2rKcZtE4/s72-c/42.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-5149508329188969185</id><published>2008-02-04T02:38:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T15:53:57.503-08:00</updated><title type='text'>Tulus Murni</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R6b7RfY0WkI/AAAAAAAAAJY/MB54BmSmFng/s1600-h/41.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163090300728793666" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R6b7RfY0WkI/AAAAAAAAAJY/MB54BmSmFng/s320/41.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sudah satu tahun lebih tujuh bulan ini saya punya anak lelaki. Selama waktu itu pula saya banyak sekali pelajari pemahaman-pemahaman baru. Pengetahuan yang sepenuhnya belum bisa saya pahami.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Akhir minggu ini, setelah terpisah di lain kota selama satu minggu, saya bisa bercengkerama lagi dengannya. &lt;em&gt;Yeah,&lt;/em&gt; apa yang bisa saya akui disini selain perasaan bahagia yang membuncah. Rasa kangen yang terpuaskan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya ia pun merasakan hal serupa. Anak lelaki saya yang mulai rajin menirukan setiap suara yang mampir di telinganya itu tak mau melepaskan diri dari gendongan saya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Padahal ia biasanya demikian gesit. Berlari kian kemari. Menggoda siapa saja. Membutuhkan upaya estra buat sekedar menggendongnya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kali ini ia berbeda. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Selama dalam gendongan itu, di antara tutur kalimat yang belum genap, ia seperti bercerita kepada saya. Cerita yang belum bisa saya pahami utuh. Kata-kata yang hanya bisa saya rasakan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Badannya yang bersuhu hangat semakin didekapkan pada dada saya. Kepalanya dilekatkan pada pertemuan antara pangkal leher dan batas dagu saya.&lt;br /&gt;Ia teruskan kisahnya. Cerita yang belum bisa saya pahami utuh. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama, dua orang bocah perempuan cilik tiba. Anak yang satu, saya perkirakan berusia sekitar tiga tahun. Sedangkan yang lain, tak lebih dari lima tahun. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Anak saya baru pertama kali bersua dengan mereka. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Saya biarkan anak saya masuk dalam dunianya. Dunia mereka bertiga. Tangan mungil kedua bocah perempuan cilik tadi dicium oleh anak saya. Salam perkenalan dan sebuah pertunjukan rasa hormat pada yang dirasanya lebih berusia. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Lima menit pertama, saya melihat masih ada canggung di antara mereka. Sejak menit keenam hingga entah selama berapa jam mereka bermain, apa yang saya lihat hanya keceriaan khas anak-anak. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Mereka saling bekerjasama. Mereka saling menjaga. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan tak jauh dari tempat pertemuan ketiga bocah ini, ada sebuah bangunan taman kanak-kanak. Bocah tertua berinisiatif membimbing anak saya ke sejumlah wahana permainan itu. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya diamkan saja mereka.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Toh, inisiatif itu dipegangnya teguh hingga akhir. Bocah perempuan itu tak melepaskan pengawasannya. Termasuk ketika tiba-tiba anak saya berlari keluar bangunan taman kanak-kanak itu demi mengejar seekor kucing dan memuaskan rasa penasarannya pada mobil-mobil yang lewat. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Mereka temukan cara mereka sendiri untuk saling menjaga. Berinteraksi. Bekerjasama. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Lama berselang, rintik hujan akhirnya memisahkan mereka. Anak saya pun kembali dalam pelukan saya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Bukan sekali dua kali saya temukan keajaiban serupa. Kali lain saya temukan anak saya sedang bersikeras mempertahankan haknya dari serbuan teman sebayanya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Berebut soal siapa yang paling pantas jadi pemilik suatu permainan. Saling adu kuat soal pendapat masing-masing. Teriakan-teriakan hingga tangisan bisa saja ditemui dalam proses tadi. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Jangan pisahkan mereka. Biarkan saja sebagaimana adanya. Karena percayalah, lima menit kemudian mereka akan berlaku seperti layaknya sahabat yang terpisah puluhan tahun. Main bersama lagi. Tertawa berbarengan lagi. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tanpa dendam. Tanpa luka. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Satu pelajaran yang pemahaman saya terhadapnya belum saya kuasai utuh. Baru sebagian yang bisa saya mengerti, dengan bagian lain yang belum bisa saya identifikasi dan pahami. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kali lain saya juga sering dibuat takjub. Betapa perasaan murni anak-anak yang terpancar dari sorot jernih matanya sungguh bukan kisah kiasan. Nurani yang memancar tulus dan sungguh bisa membedakan, siapa-siapa saja yang berniat bagus dan siapa yang punya rencana bulus. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Itu benar terjadi. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Anak saya termasuk yang bisa dengan mudahnya membedakan apakah seseorang itu punya niat yang tulus atau sebaliknya. Membuat saya terkadang merasa tak enak sendiri, saat ada sejumlah orang yang terang-terangan ditolaknya untuk mendekat. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sementara ada sebagian besar lainnya yang justru dengan gembira disambutnya. Siapapun orangnya. Darimanapun asalnya. Tak peduli apakah baru kenal atau sudah bersamanya semenjak kali pertama ia merasai nafas di bumi. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Ia tahu. Ia sungguh tak bisa dibohongi. Ia paham. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang tulus. Siapa yang bulus.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Murni.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-5149508329188969185?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/5149508329188969185/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=5149508329188969185&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/5149508329188969185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/5149508329188969185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/02/tulus-murni.html' title='Tulus Murni'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R6b7RfY0WkI/AAAAAAAAAJY/MB54BmSmFng/s72-c/41.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-5649347801831510019</id><published>2008-02-03T10:45:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T15:53:57.642-08:00</updated><title type='text'>Bajak Pajak</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R6YOYPY0WjI/AAAAAAAAAJQ/eNvrkEAczyA/s1600-h/39.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5162829832437127730" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R6YOYPY0WjI/AAAAAAAAAJQ/eNvrkEAczyA/s320/39.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sudahkah pemain-pemain bola di Indonesia, yang katanya profesional itu, jadi wajib pajak. Jangan dulu jadi wajib pajak yang baik &lt;em&gt;lah&lt;/em&gt;. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tetapi, sudahkan mereka jadi wajib pajak saja?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan ini layak diajukan, terutama mengingat asupan terbesar bagi daya hidup klub-klub sepak bola di Indonesia adalah gelontoran dana APBD setiap tahunnya. Menjadi layak diselidiki, terutama karena tim sekelas Persik Kediri yang adalah kampiun Liga Djarum Indonesia XII/2006 saja, ternyata tidak ada pemainnya yang membayar pajak penghasilan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Saya belum tahu fakta lanjutan mantan raksasa ini di musim 2007. Soalnya piala liga di musim ini baru akan diperebutkan di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, pada 9 Januari nanti.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Persik Kediri sudah tersingkir di gelaran babak delapan besar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tetapi Persija Jakarta, Persipura Jayapura, PSMS Medan, dan Sriwijaya FC yang masih mesti melakoni laga semifinal tiga hari sebelum final layak disoroti komitmennya soal ini. Empat tim yang semuanya mengemis dana APBD hingga musim ini.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah pemain-pemain, pelatih, dan sejumlah pengurus yang disuapi dana APBD di klub-klub itu tadi jadi wajib pajak. Pernahkah mereka semua membayar pajak penghasilannya. Besaran penghasilan yang mungkin bisa sedikit saya beri gambarkan, mencapai nilai puluhan juta rupiah buat pesepakbola dengan kelas pemain nasional. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Itu didapat pada tiap-tiap bulannya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Saya kembali pada data yang saya punya soal Persik di musim 2006 lalu. Coba dibayangkan, dalam hal kewajiban bayar membayar pajak ini, manajemen Persik hanya membayar sejumlah Rp 4 juta, yang dikategorikan sebagai pajak hiburan dan disetor tiap-tiap kali laga kandang dilakukan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Itupun baru mulai dilakukan semenjak ditetapkannya anggaran untuk musim 2007 bagi mereka, yang untuk sementara disepakati pada bilangan Rp 15 miliar. Tahun-tahun sebelumnya, tidak pernah ada pajak serupa yang dibayarkan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Padahal ada duit paling tidak Rp 150 juta hasil penjualan tiket pertandingan. Uang sejumlah itu tak pernah masuk kas Pemkot Kediri. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Perhitungan pajak hiburan sejak tahun anggaran 2007 itu dimulai karena ada kaitannya dengan perubahan pos anggaran yang sekarang dikategorikan lewat upaya akal-akalan supaya masuk ke anggaran subsidi. Sebelumnya, anggaran bagi Persik yang dikeluarkan lewat bagian keuangan masuk dalam anggaran keuangan berupa dana bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akal-akalan yang tak berbudi ini dilakukan sejak dikeluarkannya Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 13 Tahun 2006 tentang pedoman pengelolaan keuangan daerah pos itu diubah. Ini mengingat salah satu syarat bantuan sosial yang tercantum pada pasal 45 Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 itu berbunyi bahwa bantuan sosial tidak diberikan secara terus menerus/tidak berulang setiap tahun anggaran, selektif, dan memiliki kejelasan peruntukan penggunaannya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, akal-akalan tak berbudi itu pun masih punya celah menganga. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Pasal 41 Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 berbunyi bahwa subsidi digunakan untuk menganggarkan bantuan biaya produksi kepada perusahaan/lembaga tertentu agar harga jual produksi/jasa yang dihasilkan dapat dijangkau oleh masyarakat banyak. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Nah, dari sini saja sudah bisa diperdebatkan, apakah tontonan laga sepak bola yang “dihasilkan” Persik Kediri termasuk pada “produksi” atau “jasa” yang dihasilkan sebuah “perusahaan” atau “lembaga tertentu.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Lalu kita ke Persebaya Surabaya. Dalam salinan Laporan Pertanggungjawaban Dana APBD 2006, tidak disebutkan adanya pengeluaran untuk membayar pajak penghasilan tersebut. Pada bagian pajak yang dibayarkan, hanya disebutkan pajak untuk mobil dan motor. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Bayangkan. Rasakan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sementara pada rincian kontrak dan gaji pemain, hanya disebutkan total nilai kontrak, uang muka, serta gaji yang dibayar per bulan. Tanpa rincian sedikitpun, soal bagaimana kewajiban pajak penghasilan itu mesti dibayarkan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Para pemain, justru lebih merasa jadi bulan-bulanan sejumlah pihak yang lebih dahulu “memajaki” mereka secara gila-gilaan, sebelum kantor pajak memakai kewenangan tersebut. Sebagian besar pemain, apalagi pemain asing yang masih lugu dan agak-agak pemalu, banyak jadi korban sistem potongan gila-gilaan yang besarannya bisa mencapai 60 persen buat agen pemain bersangkutan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sistem “potongan” yang memang tidak jelas ini seperti menghantui, terutama bagi para pemain pemula yang belum punya banyak jam terbang. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Maka, alih-alih masuk kas negara untuk pembangunan masyarakat banyak, lagi-lagi hanya segelintir orang dengan etika rendah saja yang bakal punya manfaat atas uang, yang sekali lagi berasal dari rakyat kebanyakan itu! &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Saya kemudian bengong, demi mendapati struk gaji saya punya beberapa penjelasan soal potongan-potongan pajak yang mesti saya bayarkan kepada negara. Saya tidak digaji oleh negara, dan seumur hidup belum pernah saya disuapi duit dari dana APBD. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Lawan!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-5649347801831510019?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/5649347801831510019/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=5649347801831510019&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/5649347801831510019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/5649347801831510019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/02/bajak-pajak.html' title='Bajak Pajak'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R6YOYPY0WjI/AAAAAAAAAJQ/eNvrkEAczyA/s72-c/39.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-6692235112728578621</id><published>2008-02-02T22:55:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T15:53:57.769-08:00</updated><title type='text'>Himpitan Tekanan</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R6Vl9vY0WhI/AAAAAAAAAIw/7tMiRoZtdZY/s1600-h/37.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5162644659217127954" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R6Vl9vY0WhI/AAAAAAAAAIw/7tMiRoZtdZY/s320/37.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Beberapa orang lelaki dewasa berbadan tegap dengan raut muka tegas mendatangi kamar milik salah seorang tokoh masyarakat, tempat saya menginap ketika waktu subuh belum lagi genap. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Saat itu saya tengah bermalam di Pulau Raas, Madura. Pulau terpencil yang hanya bisa dicapai dari Pelabuhan Dungkek di ujung timur Kabupaten Sumenep, Pulau Madura, Provinsi Jawa Timur dengan waktu tempuh sekitar empat jam pelayaran dengan kapal-kapal kayu renta. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Namun waktu tempuh sekitar empat jam tadi jika gelombang laut berada dalam batas normal. Artinya, jika sensasi naik perahu-perahu tadi sudah melebihi perasaan saat naik wahana &lt;em&gt;kora-kora&lt;/em&gt; di Dunia Fantasi, Jakarta, maka waktu tempuh bisa semakin molor luar biasa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pasalnya, kisah-kisah mengenai perjalanan perahu-perahu tadi hingga ke perairan Australia saat badai tiba, sungguh cerita yang tak jarang terjadi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pintu kayu jati dengan pernis khusus pada satu di antara sangat sedikit rumah bagus dalam wilayah pulau terpencil itu berderik halus. Pemilik rumah memberi tahu, sebuah praktik kecurangan di tengah laut yang saya harus tahu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sebuah kain sarung bertenun yang disampirkan di atas sajadah, yang dipinjamkan pemilik rumah kepada saya, langsung saya kenakan. Tanpa cuci muka dan kumur-kumur, saya ikuti derap cepat langkah sejumlah laki-laki berbadan tegap dengan raut muka tegas tadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Melewati dinding-dinding kusam. Melaju terus di antara wajah-wajah kuyu yang hanya diterangi lampu temaram dari daya listrik hasil gerakan mesin diesel yang dijatah kerjanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kami sampai di tepian pantai. Ada puluhan kapal kecil yang sandar, atau lebih tepatnya sengaja disandarkan. Bukan karena pemiliknya sengaja memilih waktu istirahat. Tetapi dipaksa dengan sengaja untuk beristirahat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tidak karena nelayan pengelola kapal-kapal kecil dan renta itu sedang sakit. Namun mereka memang sedang dipaksa menjadi sakit. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Setidaknya itu bisa saya lihat dari profil keluarga mereka. Anak-anak yang mesti rela mengecap pendidikan seadanya. Benar-benar hanya seadanya dari realitas fisik yang sebetulnya tidak ada.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tidak ada, karena bangunan fisik sekolah yang ada umumnya menunjukkan ketiadaan. Tembok yang jebol. Atap yang hilang. Bangku dan kursi yang lenyap. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tenaga pengajar yang raib.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Saya dekatkan tubuh saya semakin ke pinggir bibir pantai. Dalam remang-remang cahaya menjelang fajar datang, sejauh mata saya memandang ada cahaya benderang yang terpancar dari kapal super besar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kata sejumlah laki-laki berbadan tegap dengan raut muka tegas yang mendatangi pintu kamar saya tadi, itulah praktik yang selama ini membuat mereka lunglai. Kelakuan yang membikin sendi-sendi hidup mereka jadi linu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Cahaya benderang tadi diproduksi dari lampu merkuri. Daya sorot kuatnya menarik perhatian berjenis-jenis ikan dari segala macam kelompok usia buat naik ke permukaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Masuk dalam perangkap. Tanpa seleksi. Mana ikan-ikan yang sudah senior dan layak ditangkap. Mana ikan-ikan yang masih yunior dan harusnya jadi pelapis dulu dalam mata rantai makanan ekosistem di bawah laut sana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;J&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;ika sempat mengetahui soal metode penangkapan ikan dengan pukat harimau, maka kira-kira metode penggunaan lampu merkuri punya hasil akhir yang mirip. Sekalipun lampu merkuri tidak menerjang habis terumbu karang, seperti yang dilakukan pukat harimau, tetap saja tak ada klasifikasi saat lampu merkuri beroperasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Semuanya disikat. Semuanya diembat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Parahnya lagi, itu dilakukan nyaris terang-terangan. Dalam wilayah perairan yang harusnya jadi kedaulatan nelayan-pemilik perahu-perahu kecil dan renta tadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dikerjakan dengan sangat rapi dan terencana. Oleh pemilik kapal-kapal besar yang tak memikirkan apa yang sedang terjadi pada penduduk pula-pulau di sekitarnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kapal-kapal yang seringkali menaikkan bendera negara lain, yang hampir tak satupun orang-orang di pulau itu mengenalinya. Karena sepanjang hayat, hanya Merah Putih yang mereka tahu sebagai bendera. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pengetahuan yang didapat dari warisan tutur dari mulut ke mulut. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bukan bangku sekolah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Secara sistematis dan terencana, penduduk tanpa daya di pulau-pulau terpencil itu sedang mengalami apa yang dinamakan dengan perenggutan kedaulatan.Kedaulatan yang mestinya bisa dimiliki. Supaya keluarga mereka bisa merdeka dalam arti sesungguhnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Agar pendidikan yang harusnya dipahami sebagai modal dasar meretas kemiskinan bisa dilangsungkan dengan sempurna.Tanpa tembok sekolah yang jebol. Tanpa atap bangunan sekolah yang hilang. Dengan bangku dan kursi yang lengkap.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dalam temaram cahaya di pinggir batuan, seorang laki-laki yang jadi perwakilan kumpulan berbadan tegap dengan raut muka tegas tadi berkata pada saya. Bahwa jika ini terus menerus terjadi, jelasnya akan ada perlawanan yang dilakukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pastinya dengan kekerasan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Saya terhenyak. Mustahil rasanya jika saya mencoba tenangkan batinnya saat itu. Hanya sedikit mencoba berempati padanya dan semua laki-laki berbadan tegap beraut muka tegas yang hadir disitu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Orang-orang yang jadi satu-satunya ujung tombak dan harapan bagi keluarga masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kami kembali lagi susuri jalan-jalan kecil berpasir dan terjal berbatu. Melewati dinding-dinding kusam. Melaju terus di antara wajah-wajah kuyu yang hanya diterangi lampu temaram dari daya listrik hasil gerakan mesin diesel yang dijatah kerjanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Saya sampai kembali dalam kamar milik salah seorang tokoh masyarakat, tempat saya menginap tadi. Sejenak saya diam dan tepekur. Menunggu datangnya nyaringnya panggilan bagi hati, di saat pertama bagi embun terakhir melepaskan kesederhanaannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kali ini waktu subuh sudah genap.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-6692235112728578621?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/6692235112728578621/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=6692235112728578621&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/6692235112728578621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/6692235112728578621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/02/himpitan-tekanan.html' title='Himpitan Tekanan'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R6Vl9vY0WhI/AAAAAAAAAIw/7tMiRoZtdZY/s72-c/37.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-6148739155509833980</id><published>2008-02-01T09:17:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T15:53:57.859-08:00</updated><title type='text'>Pilihan Keputusan</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R6NgGvY0WaI/AAAAAAAAAHw/OU9q9-P96-8/s1600-h/35.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5162075266812762530" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R6NgGvY0WaI/AAAAAAAAAHw/OU9q9-P96-8/s320/35.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Namanya Nienke van der Peet. Saya bertemu dengan perempuan berkebangsaan Belanda itu pada suatu kegiatan di sebuah dusun kecil, di Kabupaten Kediri, Jawa Timur beberapa waktu silam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Saya tak sempat ngobrol banyak dengannya. Hanya bertegur sapa sebentar, karena Nienke saat itu tengah sibuk jadi tutor bermain bagi bocah-bocah kecil. Mereka bersenda gurau di sebuah tanah lapang pada tengah-tengah kebun jagung yang ada di dusun itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tutor, karena permainan-permainan itu sejatinya punya tujuan jadi medium pengajaran. Nilai-nilai dasar seperti pentingnya kerjasama, saling hormat serta percaya, dan pengutamaan untuk menggunakan logika dalam memecahkan persoalan, yang diberikan bukan lewat ucapan. Pengajaran lewat contoh nyata.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Menyenangkan, karena dibungkus dalam permainan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Saya cuma mengamati gerak-gerik Nienke dalam kerumunan dari kejauhan. Sembari sesekali menjepretkan &lt;em&gt;shutter&lt;/em&gt; kamera ke arah kumpulan permainan itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Satu dua jepretan menghasilkan fokus lumayan tajam ke titik perhatian kegiatannya. Saya amati dari jendela bidik. Lalu saya ulas lagi hasil fokus itu lewat layar kristal cair di belakang badan kamera. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Hasilnya sama. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Nienke tampak tak bisa dibedakan dari anak-anak kecil yang mengerumuninya. Ia tak bisa diidentifikasi utuh dari keceriaan bocah-bocah cilik yang bermain bersamanya. Mereka tampak serupa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dari sudut pandang itu semua, Nienke tampak sama dengan kanak-kanak yang saling bercengkerama dengannya. Sudut pandang sosial yang mengaduk-aduk emosi saya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Jangan lihat Nienke dari sudut pandang fisik. Karena dengan rambut pirangnya ia tentu akan tampak sangat berbeda. Postur tinggi besarnya pastilah akan langsung memberikan kesan bahwa perbedaan itu demikian kentara. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Belum lagi tutur bahasanya, yang tak diragukan lagi akan semakin mempertajam jurang perbedaan itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Jangan lihat dari situ.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Jadi saya teruskan kegiatan menjepret &lt;em&gt;shutter&lt;/em&gt; kamera dengan sudut pandang sosial soal Nienke, yang saya pilih. Makin banyak foto terekam. Makin jelas lukisannya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Gambaran utuh yang juga terefleksi dari raut gembira bocah-bocah cilik di salah satu dusun terpencil itu. Padahal, dari cerita beberapa orang di dusun itu, Nienke beserta beberapa orang rekannya baru saja usai memperbaiki saluran air.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Yah, saya memang melihat ada jalur air baru yang dibangun dengan susunan bata dan batu, beserta campuran semen dan pasir yang baru saja kering di sekitar lokasi bermain tadi. Sebagai tambahan, bangunan buat melancarkan aliran air tadi tidak berwujud seadanya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Jangan bayangkan rupanya seperti hasil garapan proyek-proyek oleh kontraktor lokal yang menang tender dari sejumlah instansi pemerintahan. Hasil garapan yang rapuh dan renta. Bukan seperti itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bangunan untuk aliran air garapan Nienke beserta teman-temannya ini demikian kokoh. Tersusun rapi dalam bentuk memanjangnya, dengan penyelesaian akhir yang digarap sempurna. Saya sungguh terpana.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sebelum bertemu Nienke di tanah lapang dusun itu, saya berdiskusi banyak hal dengan rekannya. Namanya Wendy Wouters. Perempuan berambut &lt;em&gt;kriwil &lt;/em&gt;dengan gaya bicara lugas dan tegas ini juga sama-sama berasal dari Belanda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mereka berdua punya dedikasi yang sama di dusun itu. Perbedaannya hanya pada usia. Juga kenyataan bahwa Nienke masih kuliah, dan Wendy yang sudah bekerja sebagai guru taman kanak-kanak serta pengajar kelas senam pada waktu sisa yang dimilikinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tapi dua-duanya punya etos kerja keras. Memberikan yang terbaik sesuai kemampuannya. Pada bidangnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Saya bisa pastikan itu ketika Wendy bercerita betapa keras hidup yang dijalaninya, selain apa-apa yang sudah dikerjakannya secara kasatmata di dusun tersebut. Betapa ia harus bekerja pada dua tempat berbeda, demi memenuhi tanggung jawab membayar aneka tagihan tiap-tiap bulannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dua tempat kerja yang dicapainya dengan mengayuh sepeda. Mencoba bertahan di sebuah negeri yang sepertiga wilayahnya berada di bawah permukaan laut. Belum lagi ancaman banjir gara-gara wilayah itu dilewati tiga sungai besar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kenyataan yang membuat harga tanah di negara itu jadi sangat tidak rasional. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Fakta yang membuat Wendy tinggal di sebuah flat dan “bertumpuk-tumpuk” dengan orang lain. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Seperti banyak orang lain di negara Kincir Angin berpenduduk 16 juta jiwa, yang total luas wilayah negaranya masih lebih kecil dari luas Provinsi Jawa Timur itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Jadilah Wendy sangat heran luar biasa demi menyaksikan banyak Jaguar dan Toyota Alphard hingga Ferrari &lt;em&gt;wira-wiri&lt;/em&gt; di jalanan Kota Surabaya. Tapi ia pun tak kalah takjubnya, saat melihat kenyataan &lt;em&gt;jomplang&lt;/em&gt;nya taraf hidup di dusun yang kini dihampirinya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Saat kami &lt;em&gt;hiking &lt;/em&gt;di salah satu bukit di dusun itu, Wendy dan kawan-kawannya dari Belanda juga tak kunjung merasa percaya. Perbedaan nilai tukar mata uang yang tiba-tiba mendapuk mereka pada sebuah realitas baru. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Menjadi kaya, dalam arti punya kedaulatan dari sisi ekonomi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Atau setidaknya memiliki uang dalam jumlah yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya saat uang milik mereka dikonversikan dalam rupiah. Perbedaaan nilai tukar yang membuat Wendy, Nienke, dan kawan-kawan mereka merasa ikut pula sebagai pemilik Jaguar dan Toyota Alphard hingga Ferrari, yang &lt;em&gt;sliweran&lt;/em&gt; di jalan-jalan Kota Surabaya tadi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Di tengah nafasnya yang makin tersengal-sengal akibat saya paksa naik ke bukit dengan sudut curam, Wendy berkisah soal pengalamannya mengajar di dusun itu. Bagaimana ia dengan dedikasinya merasakan, banyak potensi dan bakat luar biasa yang terpendam dan terus begitu di dusun itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sayangnya, kata Wendy lagi, semua berjalan seperti dalam rutinitas lingkar setan. Antara kemiskinan dan buruknya pemahaman pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kata Wendy, hal ini membuat murid-murid dengan bakat dan potensi luar biasa tadi tak pernah bisa meretas jalan buat bebas dari kungkungan kemelaratan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Akses yang sulit, karena letak sekolah yang sangat jauh, kerap dijadikan alasan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Alasan yang turun temurun dan dianggap jadi keniscayaan. Alasan yang lantas dikuatkan oleh sistem kepercayaan. Sebuah sistem pemahaman yang lagi-lagi tak diterima utuh akibat buruknya pengertian pada pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Lagipula tak pernah ada contoh bulat yang hadir di dusun itu. Bahwa jadi orang terdidik pasti bisa meningkatkan taraf hidup. Pasti bisa memutarbalikkan realitas sosial dan punya kehidupan ekonomi yang mapan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Belum ada. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Itulah lingkaran setannya, kata Wendy yang punya tato bergambar kupu-kupu mungil di bagian punggungnya. Ia pun tak kalah heran, mengapa tak disediakan saja terlebih dahulu akses pendidikan itu tadi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Toh, banyak mutiara yang nyata-nyata belum tergosok di dusun itu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Untuk sesaat, lensa kamera saya menangkap ekspresi bingung di wajah Nienke.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ekspresi yang hadir, kemungkinan ketika ada kekhawatiran yang tiba-tiba terlintas dalam ruang pikirnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bahwa ia tak bisa ada di dusun itu berlama-lama. Bahwa pada akhirnya, ia tak bisa lagi berkarya bersama anak-anak itu semua. Bahwa akan seperti apa lagi jadinya bangunan sosial di dusun itu nanti. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bahwa ekspresi serupa yang juga hadir di wajah Wendy, saat kami sama-sama sampai di puncak bukit terjal itu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Peduli kini. Nanti. Pilihan. Keputusan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-6148739155509833980?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/6148739155509833980/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=6148739155509833980&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/6148739155509833980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/6148739155509833980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/02/nienke-dan-wendy.html' title='Pilihan Keputusan'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R6NgGvY0WaI/AAAAAAAAAHw/OU9q9-P96-8/s72-c/35.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-1481227829328863445</id><published>2008-01-31T09:34:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T15:53:58.239-08:00</updated><title type='text'>Tontonan Hiburan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5161696111394838898" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R6IHQ_Y0WXI/AAAAAAAAAHY/UWMmQadMltw/s320/32.jpg" border="0" /&gt;Barusan, secara tak sengaja, ada teman saya kasih ide buat menulis soal ini. Saya pun padu padankan tulisan ini dengan komentar yang sempat saya berikan buat tulisan karya Ian Badawi pada salah satu blog, beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, ini tulisan akan berputar pada urut-urutan soal logika dalam realitas industri. Lebih menjurus lagi kenyataan di dunia hiburan. Kenyataan tontonan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon diper-&lt;em&gt;sori&lt;/em&gt; apabila ini permulaan tulisan masih berputar pada mantan Presiden Soeharto yang wafat 27 januari lalu.&lt;br /&gt;Begini duduk perkaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata teman saya itu tadi, media di Indonesia (baca televisi) sekarang ini sudah pintar mengaduk-aduk emosi penonton. Katanya, sembari saya pinjam bahasanya, itu bisa dilihat saat tayangan di seputar wafatnya Soeharto disertai "lagu sedih dan efek-efek &lt;em&gt;slow motion&lt;/em&gt; (serta) &lt;em&gt;black and white&lt;/em&gt; (juga) &lt;em&gt;blur &lt;/em&gt;gak jelas, bisa membuat penonton melupakan kemarahan dan kesedihan saat (kerusuhan) Mei 1998."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tragedi sosial yang, katanya lagi, &lt;em&gt;jreng-jreng&lt;/em&gt; membimbing kita semakin jelas menuju krisis ekonomi. Resesi yang memuncak sejak indikasinya tercium jelas setahun sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat itu, seluruh negeri seperti sedang mengalami efek bius dosis tinggi. Hampir semua larut dalam kesedihan massal secara berlebihan. Semua secara berlebihan. Mulai hari berkabung nasional tujuh hari berturut-turut hingga gelar sebagai pahlawan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situ, saya beberkan jika pertama-tama sekali apa yang terjadi pada realitas itu adalah sebuah contoh nyata dari bias kognitif bernama &lt;em&gt;halo effect&lt;/em&gt;. Bias yang terjadi ketika sosok Soeharto yang populer dan atraktif itu dinilai punya kepribadian dan kemampuan yang diatas "rata-rata" kebanyakan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bias akibat karakteristik yang mula-mula kita lihat pada seseorang akhirnya jadi persepsi dan pemahaman kita terhadap karakteristik-karakteristik selanjutnya. Bias kognitif yang terjadi gara-gara kita menginginkan segala sesuatu itu sesuai dengan apa yang kita harapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan kenyataannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan yang terjadi pada orang-orang untuk melihat sesosok lain di luar pribadinya sebagai pribadi yang baik atau buruk semata. Bukan pada kenyataan bahwa setiap orang pasti tersusun atas berbagai karateristik yang kompleks. Sesuatu yang pasti melibatkan konsep baik-buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah-olah kebanyakan orang tidak ingat lagi bahwa selain kebaikan, manusia juga tersusun atas unsur keburukan. Inilah bias kognitif bernama &lt;em&gt;halo effect&lt;/em&gt; tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kasus di seputar wafatnya Soeharto tadi, kata-kata teman saya soal “lagu sedih dan efek-efek &lt;em&gt;slow motion&lt;/em&gt; (serta) &lt;em&gt;black and white&lt;/em&gt; (juga) &lt;em&gt;blur&lt;/em&gt; gak jelas, bisa membuat penonton melupakan kemarahan dan kesedihan saat (kerusuhan) Mei 1998,” yang dipanggungkan media (televisi) menjadi faktor utamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor utama berupa “karakteristik yang mula-mula kita lihat pada seseorang akhirnya jadi persepsi dan pemahaman kita terhadap karakteristik-karakteristik selanjutnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas di televisi inilah yang banyak orang melihatnya, setelah nyaris sepuluh tahun orde reformasi digulirkan, sebagai “karakteristik yang mula-mula kita lihat pada seseorang akhirnya jadi persepsi dan pemahaman kita terhadap karakteristik-karakteristik selanjutnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada masa “kekosongan kekuasaan” selama rentang itu. Membuat banyak orang menaruh harap. Sehingga saat “realitas” yang ditunjukkan media (televisi) soal seputar kematian Soeharto, inilah yang jadi “karakteristik yang mula-mula kita lihat pada seseorang akhirnya jadi persepsi dan pemahaman kita terhadap karakteristik-karakteristik selanjutnya” itu tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa kata realitas tadi saya berikan tanda kutip (“”)? Baiklah, di bawah ini kutipan yang saya &lt;em&gt;copas&lt;/em&gt; dengan perubahan seperlunya, dari komentar saya sendiri pada artikel buah pikir Ian Badawi, yang saya terangkan di muka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira lima tahun lalu saat saya masih jadi tenaga lepas untuk sebuah usaha penerbitan buku, bertemulah saya dengan realitas yang waktu itu cukup membikin saya terkejut. Terkejut bukan karena saya lemah jantung, melainkan kenyataan serupa yang biasa saya temukan dalam bahan-bahan bacaan, kali ini tersaji utuh di depan indera penglihatan. Juga bisa saya dengar, saya baui, sembari menahan sesak di dada yang saya rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu ada seorang artis cilik tersohor, yang tentu sekarang sudah besar, bercerita soal hidupnya kepada saya. Atas nama etika, saya tak bisa menyebutkan identitasnya. Jelasnya, ia tinggal bersama neneknya di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua orang tuanya tetap tinggal di tanah kelahiran mereka. Sepanjang cerita ada nuansa janggal yang saya rasa. Ia tak seperti kebanyakan anak-anak lainnya. Ia memang ceria dan seperti tanpa dosa. Namun saya merasa, ada tembok besar di kanan-kirinya, yang menjaga supaya ia tetap ceria dan tanpa dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi itu tembok artifisial belaka. Jadilah sepanjang cerita kami berdua, praktis tak tercipta leluasa. Tidak seperti suasana yang terbangun ketika saya dan anak-anak kecil lain saat kami bercengkerama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara dandanannya, jangan bayangkan ia seperti dalam konsep anak-anak kecil tetangga atau bocah-bocah lain di keluarga besar kita. Karena rupanya lebih mirip orang dewasa. Lengkap dengan riasan tebal yang menutupi sekujur mukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakaiannya pun jauh dari rasa bahagia yang biasa hinggap pada anak-anak seusianya. Semuanya seperti serba terpaksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kepada saya, lagi-lagi ia mengaku bahwa dirinya sangat gembira melakoni itu semua. Neneknya, hampir mau melakukan apa saja demi kesuksesan cucunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadwal kerja hingga dini hari pun bukan soal yang perlu diperdebatkan. Soalnya sang cucu dituntut lengkap. Bisa nyanyi. Pandai lenggak lenggok dan menari. Juga mesti bisa beraksi saat syuting di depan kamera televisi dan sorotan lampu beribu &lt;em&gt;watt&lt;/em&gt;. Bahkan hingga dini hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah watak industrialisasi. Terutama jika bicara pasar hiburan yang sarat dominasi kapitalisasi.&lt;br /&gt;Ia punya logikanya sendiri, sebagai prasyarat dan syarat demi kelanggengannya. Kejayaannya. Semuanya dikomodifikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya ini meminggirkan hakikat manusia dalam kutub bernama komersialisasi. Bahkan lihatlah saat bulan suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penetrasi industrialisasi tetap tak bisa dihindari. Tontonlah televisi. Banjir sekali mata acara yang seperti membuat agama masuk dalam jerat ketat industrialisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soalnya saat semua hal masuk dalam realitas pasar hiburan, semua hal itulah yang menyesuaikan diri dengan realitas pasar hiburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada rating. Ada prime time. Ada slot iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk agama, saat masuk dalam realitas pasar hiburan, mau tak mau harus ikut logika dan realitas yang berlaku dalam pasar hiburan. Maka lihatlah betapa menjamurnya dominasi program televisi yang menjadikan dakwah hanya sebagai basa-basi. Jadilah agama harus rela tersubordinasi dalam pasar hiburan yang jadi inti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, inilah industrialisasi. Melahirkan anak kandung bernama budaya konsumtif yang dirumuskan dalam &lt;em&gt;Collin’s Dictionary of Sociology&lt;/em&gt; sebagai kekuasaan kultural dalam masyarakat kapitalis modern yang berorientasi kepada pemasaran dan pemakaian barang dan jasa pelayanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau juga bisa diartikan sebagai budaya yang membedakan status dan membagi pangsa pasar dari masyarakat modern saat cita rasa individu tidak hanya merefleksikan lokasi-lokasi sosial, seperti jender, umur, pekerjaan, etnis, dan sebagainya. Tetapi juga merefleksikan nilai-nilai sosial dan gaya hidup individu para konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logika pasar hiburan adalah bagaimana menjadikan segala rupa ihwal yang masuk ke dalamnya sebagai komoditas yang laku dan bisa dijual. Jika tidak, harap minggir. Segala ihwal demi menyematkan predikat layak jual tadi pun dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada fenomena sosial yang terjadi di seputar wafatnya Soeharto, saya temukan lagi “realitas” serupa. Saya katakan pada teman saya tadi yang punya dugaan dengan asas praduga bersalahnya, soal pembenaran teori konspirasi agar tayangan-tayangan di seputar wafatnya Soeharto memang dibuat indah dan agung sesuai pesanan, bahwa sejatinya ini hanyalah sekedar realitas pasar hiburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa dengan semua tontonan di seputar wafatnya Soeharto itu, yang juga membuatnya kesal karena mengganggu program-program acara lain yang biasa disaksikannya di televisi, adalah sosok Soeharto yang sebenarnya justru sedang terpinggirkan dari realitas sesgungguhnya. Dalam “realitas” itu, sosok Soeharto justru sedang termarjinalisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sejatinya, apapun yang masuk dalam realitas pasar hiburan pasti butuh banyak penyesuaian. Termasuk wafatnya Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga hakikat Soeharto sebagai manusia seutuhnya justru sedang terpinggirkan dalam kutub yang bernama komersialisasi. Sehingga lagi, ketika masuk dalam realitas pasar hiburan tadi, Soeharto harus rela diiringi "lagu sedih dan efek-efek &lt;em&gt;slow motion&lt;/em&gt; (serta) &lt;em&gt;black and white&lt;/em&gt; (juga) &lt;em&gt;blur&lt;/em&gt; gak jelas, bisa membuat penonton melupakan kemarahan dan kesedihan saat (kerusuhan) Mei 1998,” persis seperti kata-kata teman saya tadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Begitulah.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-1481227829328863445?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/1481227829328863445/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=1481227829328863445&amp;isPopup=true' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/1481227829328863445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/1481227829328863445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/01/tontonan-hiburan.html' title='Tontonan Hiburan'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R6IHQ_Y0WXI/AAAAAAAAAHY/UWMmQadMltw/s72-c/32.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-3121481334190840879</id><published>2008-01-29T18:22:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T15:53:58.364-08:00</updated><title type='text'>Bento Soeharto</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R5_h4PY0WWI/AAAAAAAAAHQ/zdWYkYSC-Sg/s1600-h/31.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5161092054309427554" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R5_h4PY0WWI/AAAAAAAAAHQ/zdWYkYSC-Sg/s320/31.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Awalnya saya malas untuk ikut-ikutan menulis soal mantan Presiden Soeharto yang tutup usia 27 januari lalu. Toh, akhirnya saya tergelitik demi menyaksikan respon banyak orang yang dalam pandangan saya, meminjam bahasa J Kristiadi, sedang memperlihatkan praktik &lt;em&gt;mikul&lt;/em&gt; (ke) &lt;em&gt;dhuwur&lt;/em&gt; (en), &lt;em&gt;mendhem&lt;/em&gt; (ke) &lt;em&gt;jero&lt;/em&gt; (n).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan Jawa yang jika dipopulerkan artinya, berikut imbuhan di dalam kurungnya, kira-kira bunyinya seperti “amat sangat terlalu menjunjung tinggi-tinggi (jasa) dan mengubur dengan terlalu sangat dalam-dalam (salah)” Soeharto.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kenapa bisa begitu. Apakah bangsa ini sudah menjadi bangsa pelupa, atau meminjam ungkapan M Fadjroel Rachman soal bangsa &lt;em&gt;halalbihalal&lt;/em&gt;. Saya melihatnya ini lebih pada persoalan momentum.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Nyaris sepuluh tahun lalu, Soeharto mundur di tengah derasnya cacian di tengah-tengah resesi ekonomi yang berkepanjangan. Sepuluh tahun berlalu, nyaris tak ada perubahan berarti yang dirasakan rakyat kebanyakan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Orde reformasi kehilangan momentumnya. Perubahan sangat luar biasa seperti kebebasan berpendapat dan kembalinya tentara ke barak tidak dilihat orang kebanyakan sebagai kemajuan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Justru yang banyak kemudian terlihat dan bikin kecewa perasaan adalah antrean orang beli minyak tanah. Bahkan sekedar mau beli tempe dan tahu saja jadi masuk daftar tak mampu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh tahun berlalu, banyak rakyat kebanyakan merindukan lagi memori “indah” mereka soal hidup di bumi Nusantara. Ketika harga seliter bensin masih setara dengan mungkin, karena saya tidak merokok, sebatang sigaret kretek produk unggulan perusahaan multinasional Philip Morris hari ini. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Ingatan mendalam soal penghormatan negara-negara lain terhadap kesuksesan pembangunan di bumi pertiwi. Ketika swasembada beras dan fundamental ekonomi sepertinya baik-baik saja. Semuanya membuncah lagi.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Semua masih ditambah dengan betapa bombastisnya perhatian media massa sejak Soeharto masuk rumah sakit (lagi). Nostalgia dan simpati berbaur dan mengaduk aduk emosi.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Agaknya inilah yang menjelaskan mengapa banyak orang berbondong-bondong menangis di pinggir jalan saat mantan pemimpin itu diarak ke peristirahatan terakhirnya. Banyak orang yang terhipnotis dan masuk dalam fase &lt;em&gt;trance &lt;/em&gt;saat tak lagi mampu menahan luapan emosi kesedihannya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Lantas banyak pula yang seperti buru-buru setuju supaya segala ihwal soal Soeharto ditutup saja pada bab puncaknya. Tidak usah diteruskan pada bagian penutup dan daftar pustakanya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Lupakan saja betapa semua fundamen ekonomi yang seolah megah tadi dibangun dari hasil utang yang luar biasa, dan parahnya kebocoran disana-sini. Ingkari saja betapa mahalnya ongkos sosial yang mesti dibayar demi mengejar stabilitas kemananan dan ketertiban supaya pembanguan ekonomi bisa berjalan tadi.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Berapa banyak nyawa yang harus meregang dan hidup yang harus tersia-siakan akibat tertutupnya akses ke berbagai bidang. Semua hal yang bisa dengan mudah terjadi hanya dengan cap hitam. Subversif. Tanpa pengadilan, tanpa keadilan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Banyak kawan saya berargumen, karena Soeharto sudah meninggal, maka sudahlah. Maksudnya, lupakanlah segala salah dan dosanya. Pendamlah dalam-dalam memori buruknya dan angkatlah tinggi-tinggi jasa baiknya. &lt;em&gt;Mikul dhuwur, mendhem jer&lt;/em&gt;o tadi&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Itu memang ajaran yang arif, jika belum ditambahi imbuhan di dalam kurung, dan saya pun tidak mengambil posisi menentangnya. Saya setuju. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tetapi saya juga sepakat dengan pendapat Emha Ainun Nadjib dalam soal ini, yang kira-kira berujar bahwa memberikan maaf tentu adalah persoalan yang bisa saja dilakukan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Namun kata Cak Nun lagi, bagaimana mau memberikan maaf, jika kesalahannya secara pasti saja belum pernah diketahui. Atas kesalahan apa dan ketidakbenaran yang mana ketika maaf itu harus diberikan. Semuanya masih sangat gelap.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kata Cak Nun, dalam hal ini proses peradilan memang harus jalan terus, demi mengungkap ujung pangkal kebenarannya. Sekalipun kebenaran punya nilai yang relatif. Jangan-jangan dari proses hukum itu Soeharto malah tidak bersalah, sehingga memang tak perlu ada prosesi pemberian maaf itu tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini perlu. Penting sebagai landasan kita melangkah lagi ke depan. Supaya kita tahu mana yang salah, bagaimana bisa salah sehingga tak perlu lagi terjadi hal-hal seperti itu nantinya. Jangan lagi-lagi kita gagal menemukan gagasan soal kebenaran mengenai itu, sebagai bekal melaju ke depan.&lt;br /&gt;Dalam hal ini suara-suara keras untuk meminta penghentian proses hukum bisa dipetakan jelas siapa pelaku dan apa motivasinya. Kroni semasa orde baru berjaya yang banyak mengorupsi harta negara buat biaya pembangunan jadi pihak-pihak yang paling santer mengampanyekan soal pengampunan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motivasinya sangat jelas. Proses hukum berhenti, posisi kroni pun bebas lagi dari segala tuntutan ikutan di belakangnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Selama 31 tahun berkuasa secara &lt;em&gt;de jure&lt;/em&gt; karena mengawali kuasa sebagai penjabat presiden pada 12 maret 1967 dan mulai jadi presiden sejak 27 maret 1968, bukan 32 tahun seperti banyak anggapan orang, Soeharto dengan sempurna menunjukkan wajah kekuasaan yang sesungguhnya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Soeharto dengan sempurna jadi bukti teori Lord Acton bahwa, kekuasaan cenderung untuk menjadi korup dan kekuasaan yang mutlak cenderung untuk korupsi secara absolut (power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Karena sejak awal saya dedikasikan &lt;em&gt;blog&lt;/em&gt; ini ini sebagai kisah nyata pengalaman pribadi, tak akan saya singgung berbagai fakta menyedihkan soal pisau kekuasaan Soeharto yang bisa dengan mudah menebas siapa saja penentangnya. Perilaku kekerasan yang dipraktikan sebagai ongkos pembayar “stabilitas pembangunan.”&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Soalnya jelas, saya tidak merasakan secara langsung berbagai peristiwa menyedihkan soal represi tentara yang berlangsung mulai ujung Sumatera hingga pojok Papua. Saya hanya mau berbagi pengalaman saya sejak kecil menjadi dewasa kini.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Bahwa benar, saya merasakan akibat-akibat pembangunan yang nyata. Tak ada kebutuhan dasar saya yang tercederai semenjak kecil hingga kini. Bahkan saya pun bisa ongkang-ongkang kaki saat menikmati TMII. Sebuah proyek “keluarga” yang sempat jadi tentangan serius pada masanya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tetapi bukankah memang itu yang jadi kewajiban seorang pemimpin. Itu sudah tugas. Bukan persoalan berpretasi atau tidak berhasil.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tambah lagi, semua itu saya peroleh karena akses yang dekat, sebab saya lahir dan besar di Jakarta. Pusat segalanya. Apakah orang lain merasakan seperti yang saya alami? Tentu tidak. Lantas apakah ini yang disebut pemerataan? Pasti tidak.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Lalu, jika saya rasakan lagi, ternyata apa-apa yang saya dapatkan semasa Soeharto berkuasa semestinya bisa lebih daripada itu. Agar tak banyak melebar, saya hanya akan bicarakan soal pendidikan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Pola dasar sistem ajar yang secara sistematis dan amat meyakinkan terbukti telah dan sedang merusak mental bangsa saat ini. Saya juga baru-baru saja tersadar, bahwa pendidikan yang saya terima sejak mula-mula memang ditujukan buat menyeragamkan semua isi kepala manusia di negeri ini. Supaya tidak ada yang berlaku subversif.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Gambar pemandangan alam yang bertema pegunungan adalah contoh konkretnya. Dari ujung timur hingga ujung barat Nusantara isi otak kanan anak-anak dibuat seragam. Sepasang gambar gunung, jalan aspal yang ada di bawah dan menuju tengah gunung, petak-petak sawah di pinggir kanan atau kiri, matahari, dan awan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sebuah keberuntungan untuk menemukan secercah kreativitas, ketika ada serombongan gambar burung terbang di antara awan. Suatu upaya sebelum burung-burung tadi dituduh sebagai subversif.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Itu nyata.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi pembonsaian sejak dini, buat menihilkan daya kritis-analitis. Tak ada metode belajar yang mengedepankan observasi dan diskusi supaya terjadi proses utuh menjalani mata rantai tesis-antitesis-sintesis. Semua proses belajar berlangsung dalam ruang-ruang kelas yang diam dan kaku. Satu arah.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang diajukan pun harus dalam koridor. Bahkan, dalam soal-soal yang dikerjakan, cara yang ditempuh harus persis serupa versi guru pengajar. Jika cara yang ditempuh salah, sekalipun jawaban akhir menunjukkan kebenaran, pasti yang ada teguran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu subversif nak.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada guru yang bijaksana dan mengerti bagaimana semestinya memperlakukan manusia, itu bisa dihitung dalam bilangan kecil. Sisanya, sekedar menjalankaan perintah atasan. Tanpa keinginan berinovasi dan bergerak maju sebagai hakikat jadi makhluk berakal.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Beruntung, saya dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang sangat demokratis. Menghargai perbedaan pendapat. Mengedepankan pengetahuan. Sehingga sejak tingkat sekolah dasar, saya selalu jadi “rekan” berimbang sejumlah guru dalam adu argumentasi. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ujung-ujungnya tetap saja ada cap hitam pada saya oleh mereka yang berhasil diinfiltrasi kebijakan penyeragaman tadi. Tukang protes. Subversif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun pengakuan itu selalu datang tiap-tiap akhir caturwulan pada setiap jenjang kelas yang saya lewati. Nilai teratas di kelas yang tak bisa dimanipulasi.&lt;br /&gt;Sayangnya, tak banyak orang yang punya atmosfer keluarga seperti saya. Sehingga, metode ajar yang diterima dari sekolah dan lingkungan yang juga banyak menerima pengaruh “seragam” orde baru, bulat-bulat membentuk karakter hidup mereka. Hingga hari ini.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dampaknya sangat jahat bagi kehidupan kita sekarang. Siapa yang bisa bertanggung jawab soal apatisnya generasi saya sekarang. Siapa yang bisa mengacungkan jari dan memberi solusi soal betapa banyaknya rekan saya yang tak bisa banyak membuktikan potensi dirinya dan berbuat yang terbaik, setidaknya bagi dirinya sendiri. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Siapa yang mau peduli betapa banyak rekan saya yang belum-belum sudah merasa rendah diri, inferior, ketika harus menghadapi dan berhadapan dengan orang-orang lain bangsa dan negara. Siapa yang bisa menjelaskan kepada saya mengapa banyak sekali rekan-rekan saya yang tenggelam dalam jeram keputusasaan. Siapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ada lagi suara yang melulu setuju dari anggota dewan, konsep dan arah pembangunan di daerah yang tak jelas, kasus-kasus korupsi yang dilakukan secara berjamaah sehingga hasil korupsi dianggap jadi rezeki, hingga sikap apatis dan tak mau peduli soal berbagai hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi perkara remeh temeh seperti hobi buang sampah sembarangan, sekalipun dalam banyak forum mengaku sebagai warga yang paling nasionalis. Mencintai Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Jadi, siapa bilang orde baru tak punya warisan buruk dan jahat bagi generasi saya? Generasi yang lahir di mula-mula tahun 1980 lalu, saat Indonesia lagi "jaya-jayanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, satu hal utama jadi pendorong saya menulis ini adalah kata-kata pengusaha Setiawan Djodi beberapa hari lalu, soal lagu Bento dalam album Swami bersama Iwan Fals di tahun 1989. Soal lirik Bento yang memang menggambarkan kejahatan dinasti orde baru.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tambah lagi, seorang rekan saya kemarin mengingatkan bahwa saat Soeharto wafat 27 januari lalu, orang-orang di seluruh dunia lagi memperingati hari yang didedikasikan buat menghormati korban holocaust, yang didasari bahwa pada tanggal itulah seluruh tawanan di kamp konsentrasi Auschwitz dibebaskan. Peringatan tiap tahun yang dimulai sejak 2005 supaya tiap orang di bumi ingat soal kejahatan genosida, supaya jadi memori buruk yang mestinya jangan diulangi lagi. Nah, saya sudah mulai &lt;em&gt;ngelantur&lt;/em&gt;. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Saya sertakan saja sedikit kutipan beserta sambungan alamat ke situsnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;“in 2005, the (united nations) General Assembly designated 27 January (notice the date), the anniversary of the liberation of the Auschwitz death camp, as an annual International Day of Commemoration to honour the victims of the Holocaust, and urged Member States to develop educational programmes to instill the memory of the tragedy in future generations.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.un.org/apps/news/story.asp?NewsID=25418&amp;amp;Cr=Holocaust&amp;amp;Cr1="&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;http://www.un.org/apps/news/story.asp?NewsID=25418&amp;amp;Cr=Holocaust&amp;amp;Cr1=&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-3121481334190840879?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/3121481334190840879/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=3121481334190840879&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/3121481334190840879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/3121481334190840879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/01/bento-soeharto.html' title='Bento Soeharto'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R5_h4PY0WWI/AAAAAAAAAHQ/zdWYkYSC-Sg/s72-c/31.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-6495297388795521362</id><published>2008-01-28T08:44:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T15:53:58.702-08:00</updated><title type='text'>Rakyat Sekarat</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R54IaPY0WRI/AAAAAAAAAGo/pSkBR-pfw1Y/s1600-h/30.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5160571469913413906" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R54IaPY0WRI/AAAAAAAAAGo/pSkBR-pfw1Y/s320/30.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Selama ini hampir-hampir tidak pernah ada gejolak di tengah masyarakat saat klub-klub sepak bola di Indonesia mengajukan dana besar dari kas APBD untuk mendanai kepentingan mereka selama satu musim kompetisi. Ribut-ribut kecil, paling hanya terjadi di tingkatan wakil rakyat, untuk kemudian selesai setelah tercapainya kesepakatan besaran dana yang bakal dikucurkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Polanya selalu serupa. Tiap tahun berulang, hanya besaran permintaan yang tidak pernah berulang karena hampir selalu dipastikan akan naik fantastis. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Rupa-rupanya sikap masyarakat yang cuek ini dipahami betul sebagai berkah yang mesti dipelihara, tentu oleh pihak-pihak yang berkepentingan dana itu memuncak tiap tahunnya. Dalam bahasa yang lugas, esais Jakob Sumardjo merangkum tesis sejarawan Australia, MC Ricklefs, soal bagaimana rakyat di Indonesia hanya menjadi bulan-bulanan para pemimpinnya, yang sejak 1950 hanya mempertontonkan kisah kegagalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2008 ini, salah satu poros utama kekuatan sepak bola Indonesia yang lagi luntur pamornya, Persebaya Surabaya , memang tak lagi pakai dana APBD. Ketua Umum Persebaya Arif Afandi, yang juga punya jabatan sebagai Wakil Walikota Surabaya pagi-pagi sudah berikrar tegas. Persebaya mau jadi pionir supaya segera punya investor, dan ogah mengemis duit rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya sekedar mengimplementasikan aturan Mendagri tetang larangan pakai dana APBD di musim ini. Perbaikan yang jadi tuntutan bagi tim-tim peserta Liga Super 2008, yang jika jadi dilaksanakan tak lebih hanya sekedar upaya pemaksaan kehendak yang seperti mengulang-ulang episode kebodohan kompetisi sepi makna itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balik lagi pada cuek bebeknya rakyat kebanyakan, yang saya nilai bermuara pada mampetnya pemahaman pada pendidikan. Hingga tahun 2007 lalu, anggaran Persebaya Surabaya pada musim kompetisi ditetapkan naik Rp 7,5 miliar menjadi Rp 17,5 miliar dari Rp 10 miliar setahun sebelumnya, lolos nyaris tanpa hambatan. Sekalipun dana itu di bawah kalkulasi hampir Rp 21 miliar yang diajukan, ditambah “hanya” Rp 15,5 miliar yang boleh digunakan bagi kepentingan tim dengan sisanya bagi kepentingan pembinaan klub-klub anggota Persebaya, tidak ada ribut-ribut menghebohkan yang menyertainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Proposal Program Kerja Tahun 2007, disebutkan pengeluaran terbanyak untuk pemain dan pelatih mencapai Rp 14,99 miliar. Jumlah ini naik lebih dua kali lipat dibandingkan anggaran untuk pengeluaran serupa terbanyak tahun sebelumnya mencapai Rp 6,316 miliar yang tercermin pada Laporan Pertanggungjawaban Dana APBD 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menariknya, pengeluaran terbanyak kedua untuk akomodasi dan transportasi selama kompetisi pada musim 2007 justru menurun dibandingkan musim sebelumnya, saat Persebaya berkubang di divisi satu. Pada Laporan Pertanggungjawaban Dana APBD 2006, disebutkan pengeluaran untuk itu mencapai Rp 2,89 miliar, atau masih lebih besar dibandingkan anggaran tahun ini pada Proposal Program Kerja Tahun 2007 yang turun menjadi Rp 1,96 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim 2006, Persebaya digelontor uang publik Rp 10 miliar, tidak kurang Rp 3 miliar tambahan diperoleh lewat jasa baik sejumlah sponsor. Beberapa yang bisa disebutkan sejumlah Rp 450 juta dari produsen kopi Kapal Api dan Rp 150 juta dari produsen rokok Lintang Enam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari jumlah itu, persyaratan audit yang diwajibkan dalam Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 memang dilakukan terhadap dana Rp 10 miliar yang adalah uang publik. Akan tetapi, akuntan publik yang diserahi tugas belum melakukan audit atas pengeluaran pada November dan Desember 2006, karena pengajuan anggaran yang semestinya didasarkan pada hasil audit telah dilakukan manajemen Persebaya sejak bulan Oktober 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang bersamaan, anggaran bagi pengadaan buku untuk sekolah dan perpustakaan hanya dijatah Rp 3,34 miliar. Insentif untuk peningkatan kesejahteraan guru di Kota Surabaya juga tidak pernah dipenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan. Rasakan. Inilah yang bikin saya terus menerus dihimpit dendam luar biasa tatkala banyak orang foya-foya pakai duit rakyat untuk kompetisi yang tak pernah jelas arahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu bersamaan di sudut yang berbeda, banyak saudara saya mengemis dan menangis hanya sekedar untuk bisa mencicipi gerbang sekolah. Sebuah hak mendasar yang semestinya dijamin pemerintah. Tapi lihatlah kalkulasi dan alokasi anggarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, saya akan memburu mereka semua yang berkhianat pada kepercayaan yang telah dibebankan oleh rakyat. Tanggung jawab moral yang mesti digugat buktinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masyarakat tidak perduli karena mereka merasa tidak dirugikan. Dalam hal ini kan justru negara yang dirugikan,” tutur anggota DPRD Kota Kediri, Achmad Salis, dengan nada gemas. Kegemasan Salis di antaranya karena hampir-hampir tidak ada upaya untuk menuntut kerugian itu dari pemerintah daerah, yang dalam hal ini mewakili negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegemasan Salis karena sebagai wakil rakyat yang masih tajam nuraninya, ia paham di tengah naiknya pengajuan anggaran bagi Persik Kediri, yang juga kekuatan utama sepak bola Indonesia, terdapat keganjilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan karen kenaikan pengajuan anggaran menjadi Rp 12 miliar pada tahun 2006 lalu dari Rp 3,6 miliar yang diajukan setahun sebelumnya. Bukan pula kenaikan setelah Perubahan Anggaran Keuangan (PAK), ketika nilai pengajuan anggaran tahun 2006 disetujui menjadi Rp 22 miliar dari Rp 6,1 miliar yang disetujui setelah PAK setahun sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga bukan kenyatan bahwa pengajuan anggaran sementara, sebelum PAK, yang kini disetujui bagi Persik Kediri senilai Rp 15 miliar. Akan tetapi fakta bahwa pada saat yang bersamaan, anggaran jaminan kesehatan bagi warga kurang mampu justru turun drastis nyaris Rp 1 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selain (anggaran jaminan kesehatan bagi warga kurang mampu) itu sebetulnya masih ada lagi yang juga mencolok. Yang jelas, saat anggaran-anggaran lain turun, anggaran bagi Persik justru naik,” kata Salis. Contoh kecil disebutnya lagi, yang kali ini berupa sulitnya pemenuhan kebutuhan untuk pembelian alat-alat kesehatan, yang untuk periode November 2005 baru pada penghujung 2006 baru mulai terindikasi realisasi pemenuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegemasan itu semakin bertambah saat melongok kembali dana bagi Persik yang berasal dari APBD II, yang berarti murni dari Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pada tahun 2006, dari total PAD Rp 49 miliar, Rp 30,245 miliar di antaranya disumbangkan dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gambiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena seluruh pendapatan RSUD Gambiran dikembalikan lagi, setelah dicatatkan sebagai PAD, maka menjadi pertanyaan menggelitik dari pos mana Persik Kediri mendapatkan dana untuk mengarungi kompetisi musim itu, yang mencapai Rp 22 miliar. Jika diasumsikan total PAD setelah dikurangi pendapatan RSUD Gambiran hanya sebesar Rp 19 miliar, lantas pos apa saja yang kemudian digunakan untuk membiayai sisa pengeluaran bagi Persik Kediri yang nyaris Rp 3 miliar itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, paling mudah memang “menyunat” saja alokasi tertentu bagi rakyat banyak, seperti terlihat pada ilustrasi mengenai anggaran jaminan kesehatan bagi warga kurang mampu yang turun drastis. Karena memang ada apatisme luar biasa, yang di antara sebabnya karena pengetahuan yang kurang, di tengah masyarakat dalam menyikapi penyimpangan seperti ini. Lagi-lagi soal pemahaman pada pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salis berkisah, betapa sejumlah masyarakat justru lebih rela anggaran bagi klub kebanggaannya naik setiap tahun, karena lebih baik ketimbang dikorupsi secara “konvensional.” Dalam bahasa yang sederhana, Salis merumuskan bahwa perjuangan untuk itu laksana sekeranjang kebenaran yang berhadapan dengan segudang kebathilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sendiri secara pribadi berprinsip tidak ada masalah dengan pembinaan olahraga, dan malah mendukungnya. Akan tetapi, sebelum semua itu dijalankan, persolan dasar berupa akses masyarakat luas terhadap pendidikan dan kesehatan mesti dijamin terlebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berupa alasan seperti, alat promosi daerah, ikon pemersatu masyarakat, dan segala rupa latar belakang artifisial selama ini sukses membius masyarakat banyak. Padahal, dunia sepak bola di Indonesia merupakan dunia multi kepentingan yang didalamnya termasuk pada kepentingan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa untuk kepentingan mengumpulkan massa atau kumpulkan duit, atau juga ada kepentingan sebagai mata pencaharian bagi para kroni,” tutur Salis. Itu jika bicara klub divisi utama, pada divisi satu ke bawah kondisinya bisa makin parah karena minimnya kontrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamat sepak bola dari Jatim, Andi Slamet menyebut, klub-klub di divisi satu ke bawah yang seharusnya menjadi pemasok pemain bagi klub divisi utama justru banyak mengontrak bekas pemain divisi utama. Demikian pula fenomena di klub-klub divisi utama asal Jatim yang cenderung memilih pemain jadi dibandingkan memanfaatkan hasil binaan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka kebanyakan tidak memikirkan prograam nasional untuk membentuk timnas yang kuat. Ini sama dengan indikasi formalin (pada pengawetan makanan) yang mau hasil instan tetapi hasilnya penyakit,” sebutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, grafik antara kepentingan politik dan pembinaan prestasi bisa digambarkan seperti orang yang menaiki gunung dan menuruni gunung pada sisi yang lain. Kondisi ini, imbuh Andi, berjalan semakin parah dari tahun ke tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyusupnya kepentingan penyandang dana yang berbau politis, disebut Andi tidak perlu terjadi seandainya diperuntukkan secara jelas. Kucuran dana APBD yang harus habis untuk satu musim kompetisi, untuk kemudian dinaikkan besarannya pada musim selanjutnya memang jadi biang keladinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andi memaparkan, seharusnya kucuran dana APBD itu dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana sepak bola, termasuk menyiapkan infrastruktur industrinya. “Tetapi kalau disini kan (dana APBD) itu adalah persoalan hidup matinya klub,” ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, menjamurnya jumlah klub akibat popularitas sepak bola tidak bisa dibendung. Akhirnya, banyak pemain muda tidak beroleh pembinaan maksimal akibat rendahnya kuantitas serta kualitas fasilitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada orang-orang “punya nyali” yang berada di balik pertunjukan masif drama lapangan hijau di Jatim. Berdasarkan data yang dikemukakan Ketua Pengprov PSSI Jatim Haruna Soemitro, dari 38 wilayah kabupaten/kota di Jatim itu hanya Nganjuk yang kesebelasannya dikelola oleh kalangan pengusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selebihnya, dipimpin oleh para penguasa pemerintahan setempat. Tentu pertimbangan untuk menjatuhkan pilihan pada sepak bola, sekalipun sebagian besar unsur pimpinan daerah itu awam sepak bola, dilandaskan atas kalkulasi cerdas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai cabang olahraga yang punya popularitas tinggi, tentu sepak bola jadi mekanisme redistribusi aset paling sesuai kepada rakyat jelata. Inilah panggung paling ideal bagi para pejabat daerah manapun untuk meraih simpati seluas-luasnya, dengan tujuan akhir melanggengkan kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguasa yang terus asyik masyuk dalam ekstase relasi kuasa dengan mengamini eksploitasi terhadap kebodohan dan kemiskinan rakyat kebanyakan. Sungguh, saya akan buru anda semua.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-6495297388795521362?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/6495297388795521362/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=6495297388795521362&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/6495297388795521362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/6495297388795521362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/01/rakyat-sekarat.html' title='Rakyat Sekarat'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R54IaPY0WRI/AAAAAAAAAGo/pSkBR-pfw1Y/s72-c/30.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-1295990755498023313</id><published>2008-01-27T12:15:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T15:53:58.884-08:00</updated><title type='text'>Reuni Lagi</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R5zm0PY0WQI/AAAAAAAAAGc/26hnNyQ4-JY/s1600-h/29.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5160253058217957634" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R5zm0PY0WQI/AAAAAAAAAGc/26hnNyQ4-JY/s320/29.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kata-kata Albert Camus yang saya baca suatu ketika soal makna persahabatan sungguh mampu membuat saya membenamkan diri dalam renungan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Filsuf asal Perancis yang dianugerahi Nobel sastra pada 1957 itu kira-kira berujar begini “persahabatan terkadang berakhir dalam cinta, tapi cinta dalam persahabatan takkan pernah berakhir.” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Pendapat filsuf yang kerap diidentikan dengan aliran &lt;em&gt;ekstensional&lt;/em&gt; dengan postulat bahwa dengan hilangnya kekuatan transedental maka bebas pula seorang manusia yang menjadikan ia berkuasa dan bertanggung jawab sepenuhnya. Anggapan soal identifikasi itu yang selalu ditolaknya, sehingga menjadikan Camus lebih lekat dengan filosofi &lt;em&gt;absurdisme&lt;/em&gt; soal bagaimana upaya manusia untuk mencari arti di alam semesta ini bakal menemui kegagalan, karena sejatinya tak pernah ada arti yang benar-benar bisa dicari hubungannya, setidaknya dalam nilai-nilai kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Absurd. Pada Camus, &lt;em&gt;absurdisme&lt;/em&gt; mewujud jadi dualisme ide. Soal hitam-putih, baik-jahat, kanan-kiri. Semuanya untuk memberikan tekanan supaya banyak orang mengapresiasi soal-soal kehidupan dan menghargai kebahagiaan. Bukan malah merayakan kejahatan dan hal-hal buruk di lembah hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti salah satu kata-katanya yang saya kutip di muka tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja saya ikut konferensi digital dalam jejaring dunia maya. Pesertanya hanya empat. Saya dan tiga sahabat yang saya kenal sedari SMA. Dalam hal ini aplikasi &lt;em&gt;yahoo messenger&lt;/em&gt; yang punya peran besar memediasi kepentingan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, kami saling berbagi kabar terakhir. Soal kami atau soal siapa saja yang layak diobrolkan. Semuanya pasti diwarnai canda gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya saya perlu sedikit beri latar. Obrolan kami berempat pada waktu-waktu tertentu bisa berkembang jadi lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, dan seterusnya. Bergantung pada siapa-siapa yang bisa, tertarik, dan sempat buat ngobrol soal macam-macam hal bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini (akan saya bahas dalam lain tulisan) karena, sedari SMA memang tak ada batas ataupun sekat pergaulan dalam lingkungan kami. Siapapun bisa masuk dan pegang kendali. Soalnya memang tak ada tokoh sentral. Semuanya bisa jadi pemimpin dan pegang kontrol, sekaligus jadi pengikut dan mengamini keputusan paga saat yang bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelasnya lagi, semua orang punya hak yang sama untuk dihina dan menghina. Yah, ini memang salah satu produk budaya kota besar, Jakarta, tempat kami semua rata-rata dibesarkan. Kota dimana semua kebudayaan bisa melebur jadi satu (melting pot), sekalipun percikan di sejumlah titik kota kerapkali masih kami rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sekali lagi, rasa-rasanya saya belum pernah merasakan percikan serupa itu hadir dalam komunitas kami. Bukannya mau mencoba unggul sendiri dan menonjolkan diri kami, namun jika ada selisih paham, paling mentok hanya sekedar urusan yang lumrah terjadi di periode umur itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Periode umur yang kata seorang ahli perkembangan kemampuan kognitif, Jean Piaget, merupakan periode paling puncak dan terakhir dalam tahap pertumbuhan formal. Karena itulah, seorang sahabat saya yang lain dan termasuk yang juga saya kenal sedari SMA, punya teori menarik soal periode usia remaja yang dulu sama-sama kami jalani dengan ceria itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata salah seorang sahabat saya yang masih keturunan Timur Tengah itu, jika mau melihat seperti apa cermin dewasa seseorang, cukup perhatikan jejak rekamnya semasa SMA. Beberapa tahun kemudian, saya beberapa kali membuktikan kesahihan terorinya itu, meskipun terdapat juga bias di sana-sini yang menurut saya wajar saja dalam sebuah pengamatan gejala sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa ini sudah ada pola pikir yang jelas dalam menghadapi dan mengantisipasi masalah. Karena itu pula, banyak ide dan imajinasi yang harus bisa terpuaskan saat menjalani periode usia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kasus kami (agaknya ini juga perlu saya eleborasi dalam tulisan lain), ada kelompok &lt;em&gt;cheerleaders &lt;/em&gt;bentukan yang kami sahihkan dan merajalela di berbagai panggung ibukota. Jika bayangan orang kebanyakan soal sosok pemandu sorak yang melulu harus perempuan, maka persepsi itu sedikit kami redefinisi. Kenapa sedikit, ya, karena definisi yang berubah hanya dari soal perubahan kata “perempuan” menjadi “laki-laki.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal peran maupun segala identitas sosial yang melekat dalam istilah pemandu sorak tadi tetap pada pemahaman awalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebagian fragmen kisah di masa-masa tersebut. Seolah semua hal bisa dan harus dikejar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminjam sebuah kalimat dari Christina Aguilera yang kira-kira pernah ngomong begini, “gue selalu pengen album gue sendiri dirilis sebelum gue lulus dari SMA.” (I always wanted to have my own album released before I graduated from high school). Kira-kira itu kalimat diucapkan sembari menunjukkan tampang &lt;em&gt;mupeng&lt;/em&gt;. Maka kira-kira begitulah letupan emosi kami buat menggapai segala ide yang membuncah di dada dan menggejolak terus di kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balik lagi dalam obrolan via jejaring teknologi digital tadi, seorang sahabat saya yang sedari dulu tertarik pada ide soal bagaimana logika modal menemukan pelabuhan idealnya bercerita soal warung sate yang mau dibukanya. Ceritanya, awal bulan depan bakal ada &lt;em&gt;soft opening&lt;/em&gt; rumah makan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah kami berencana berkumpul di tempat itu. Saya sendiri sebelum tahu ada rencana itu, sudah punya gagasan sendiri yang nyaris pasti soal kepulangan ke Jakarta pada hari-hari pertama di bulan Februari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana pernikahan yang insya Allah akan dijalani salah seorang adik perempuan saya jadi pembenar utama rencana mudik tersebut. Sebagai saudara kandungnya, sudah barang tentu peristiwa bersejarah itu tak mau saya lewatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali lagi soal rencana kumpul-kumpul kami di warung sate milik salah seorang sahabat saya tadi. Rencana yang sayangnya bukan hal mudah diwujudkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal kepentingan utama yang kini sudah jadi beda-beda di antara masing-masing kami. Terutama sekali itu jadi masalahnya, karena masing-masing dari kami kini sudah punya urusan sendiri-sendiri. Belum lagi jika bicara soal jarak dan waktu yang jadi salah satu penghalang besarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yeah, rencana ini memang baru sebatas kami diskusikan. Reuni lagi. Setelah beberapa waktu terpisah jarak dalam waktu yang panjang. Saya pun tak tahu pasti, siapa saja di antara kami yang bisa ikut serta dan saling bertemu muka nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama mengobrol, satu di antara kami minta diri. Akhirnya obrolan itu bubar dengan sendirinya. Lama juga saya tepekur lagi memahami absurditas ala Albert Camus tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Friendship often ends in love, but love in friendship - never." (Albert Camus, 1913-1960)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-1295990755498023313?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/1295990755498023313/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=1295990755498023313&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/1295990755498023313'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/1295990755498023313'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/01/reuni-lagi.html' title='Reuni Lagi'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R5zm0PY0WQI/AAAAAAAAAGc/26hnNyQ4-JY/s72-c/29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-4155790014562482765</id><published>2008-01-25T09:27:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T15:53:59.087-08:00</updated><title type='text'>Supakan Ariya</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R5odjvY0WPI/AAAAAAAAAGQ/4YIaNZOg4xQ/s1600-h/mam@suvarnabhumi.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5159468822959511794" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R5odjvY0WPI/AAAAAAAAAGQ/4YIaNZOg4xQ/s320/mam%40suvarnabhumi.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Satu troli besar berisikan barang-barang bawaan saya sorong kesana kemari dalam lorong-lorong di Bandara Suvarnabhumi, Racha Thewa, Bang Phli, Provinsi Samut Prakan, Thailand. Saya bukan sedang bingung cari gerai buat &lt;em&gt;check in&lt;/em&gt; atau melacak lokasi loket imigrasi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Hari itu saya sedang mencari tiket penerbangan paling cepat ke Jakarta, setelah pesawat yang semestinya saya tumpangi dengan pongahnya meninggalkan saya. Hmmm, ini terjadi bukan karena kesalahan maskapai penerbangan itu, juga bukan gara-gara keteledoran saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepatnya ini terjadi karena kelengahan seseorang yang mestinya membawa tiket saya untuk kembali ke Jakarta, ternyata malah melupakan tanggung jawabnya. Tiket itu rupanya masih tertinggal di Jakarta. Jadilah, saya &lt;em&gt;luntang-luntung&lt;/em&gt; mencari setitik harapan di siang bolong itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah, ada beberapa orang yang punya informasi berharga buat saya. Juga dibantu petunjuk-petunjuk umum yang tertera jelas di beberapa lokasi. Sampailah saya di salah satu gerai maskapai penerbangan yang terkenal gara-gara sistem operasional dengan konsep &lt;em&gt;low cost&lt;/em&gt; yang ujung-ujungnya berakibat jadi tiket &lt;em&gt;low fare&lt;/em&gt; bagi konsumen seperti saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah jadwal penerbangan paling cepat yang bisa saya temukan. Tapi itupun masih harus saya tunggu dalam waktu delapan jam ke depan. Tak mengapa, mungkin saja ada hikmahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah aktivitas putar-putar bandara dengan luas terminal 563.000 meter persegi dan menara kontrol 132,2 meter, yang menjadikan Suvarnabhumi sebagai bandara dengan luas terminal terbesar kedua dan menara kontrol tertinggi nomor satu di dunia itu segera saya akrabi. Jepret sana, potret sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun mulai naik turun eskalator berkali-kali. Sebuah upaya menangkap aura bandara baru yang dibuka secara resmi 28 September 2006 sebagai pengganti Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand yang dibuka sejak 27 Maret 1914 silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil nyata yang segera saya tuai adalah letih. Maka saya putuskan buat sekedar duduk di sebuah bangku panjang yang terdapat di lantai dua bandara yang punya konstruksi &lt;em&gt;runway &lt;/em&gt;paralel (masing-masing dengan lebar 60 meter serta panjang 4000 meter dan 3.700 meter) dan &lt;em&gt;taxiway&lt;/em&gt; paralel yang juga sempat mengalami kerusakan serius itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam. Soalnya hanya satu dua orang yang menemani saya duduk. Itu pun tak terjadi dalam durasi lama. Rata-rata hanya lima menit. Untuk kemudian beranjak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya ada seorang perempuan muda yang duduk terpisah jarak hanya satu setengah meter dari posisi saya yang sedari tadi tekun dalam pandangan lurusnya ke depan. Kami berada di bagian kursi panjang yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertarik buat sekedar mengobrol, saya sapa dirinya. Sempat pula ia menyangka saya sebagai orang Thai, sebelum saya pastikan kepadanya kalau saya warga negara pengekspor pesawat ke negaranya sejak bertahun-tahun lalu. Juga setelah ia yakin dengan pasti mekanisme yang dulu sempat terjadi dari alur ekspor-impor itu adalah pembayaran dengan skema imbal dagang lewat hubungan antar pemerintah (government to government) dengan komoditas beras ketan yang negara saya terima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami langsung telibat perbincangan hangat. Fokusnya soal pengembangan pendidikan di negara-negara berkembang. Lebih menohok lagi di kawasan seputar Asia Tenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, mungkin perlu saya ceritakan siapa rekan mengobrol saya yang dari kartu namanya tertera ejaan Supakan Ariya sebagai pengenal namanya. Dari usianya, ia hanya satu tahun di atas saya yang saat ini baru menjejak umur lewat satu tahun dari batasan seperempat abad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di usia begitu muda, ia rupanya sudah punya posisi puncak pada salah satu perusahaan kimia berskala internasional. Belakangan saya tahu lagi, ia berencana untuk melakukan “ekspansi” dengan mundur dari pekerjaannya selama ini, demi mencari tantangan profesional yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar belakang pendidikannya relatif bagus. Ia keluaran sebuah lembaga pendidikan tinggi di belahan barat dunia. Karena itulah, segala ide yang dicerapnya bisa dengan mudah dideskripsikannya dan diterangkannya dengan lugas kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada tiga bahasa yang dikuasainya. Selain bahasa Thai, ia juga jago berbicara dalam bahasa Mandarin dan tentu saja mahir berbahasa Inggris. Lewat tata bahasa terakhir inilah kami saling bertukar pemahaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katanya kepada saya, ia terlahir sebagai anak tunggal. Sebetulnya ia punya seorang suadara laki-laki. Tetapi itu adalah saudara tiri yang berbeda orang tua dengan sepasang orang tuanya kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena saudara tiri laki-lakinya itulah ia berada di bangku panjang itu dan tengah mengobrol bersama saya. Ia rupanya tengah menunggu kedatangan saudara tiri laki-lakinya itu, yang juga menempuh pendidikan tinggi di lain negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada fokus obrolan yang kami perbincangkan. Tak pula saya menyangka, ternyata ide yang membenam di dalam kepalanya punya kesamaan dengan mimpi-mimpi yang selama ini saya punya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal pendidikan. Tentang bagaimana hak dasar itu mestinya bisa diperoleh dengan mudah dan murah. Akses maksimal yang harus dibuka untuk penduduk di seluruh negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbincangan akhirnya sampai pada konstelasi politik di masing-masing negara. Soal-soal mengenai kekuasaan yang sangat memengaruhi kebijakan fokus soal yang tengah kami diskusikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anasir-anasir politik yang selalu saja berkawan karib dengan kepentingan buat merengkuh kuasa. Mengeduk keuntungan. Menihilkan nurani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama saja profilnya di tiap-tiap negara, terutama pada konteks negara-negara berkembang di kawasan Asia Tenggara yang sedang kami bicarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okelah, sesekali perbincangan memang masuk pula wilayah yang pop. Perbincangan seputar mengapa logika kapitalis selalu saja punya berbagai bias di dalamnya. Hingga hal itu pula yang merasukinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal-soal yang membuatnya punya kesimpulan bahwa perempuan-perempuan asal Vietnam lebih memiliki aura eksotis dan wanita-wanita dari China yang disebutnya punya kulit yang lebih bagus. Semuanya jika dibandingkan dengan “kenyataan-kenyataan” serupa yang ditemuinya pada bangsa-bangsa lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah topik bicara yang saya rasa perlu waktu lama buat membedahnya, karena saya rasa ini berarti pula ada upaya saya buat mendekonstruksi ruang paham pikirnya. Bahwa apa yang disebutnya di muka, sejatinya hanyalah upaya penguasaan yang sangat sistematis dari skenario besar tata dagang dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skenario yang akhirnya mendikte selera banyak sekali budaya di dunia, jika tak mau dikatakan semua. Sebuah kenyataan miris yang bisa ditangkap justru setelah elemen-elemen lokal pada berbagai budaya tadi lelap tergerus oleh selera global yang diatur sempurna oleh logika pikir pemilik modal besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah, untuk sementara saya hanya &lt;em&gt;mesam mesem&lt;/em&gt; saja demi menanggapi betapa dengan semangatnya bercerita itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu waktu lama buat mengembalikan fokus diskusi yang tengah memanas tadi. Sampai akhirnya saya meyakinkan padanya, jika semua mimpi ideal soal pendidikan tadi takkan bisa digapai jika terus-terusan berharap pada kesadaran pemerintah dan orang lain untuk memulainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata saya kepadanya, yang mulai &lt;em&gt;manggut-manggut&lt;/em&gt; tanda setuju, ini semestinya dimulai dari diri sendiri. Saya yakinkan, kalau orang-orang seperti kita pun bisa memulai gerakan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakukan. Berikan. Apa yang jadi kemampuan kita sementara ini. Tak usah menunggu untuk sampai di puncak sebelum mulai mencicil mimpi-mimpi ideal kita. Tak perlu menunggu hal ideal terjadi sebelum mulai menjadikan sesuatu hal lainnya menjadi ideal pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telepon genggamnya berdering nyaring. Ia pun minta diri, karena yang ditunggunya sudah tiba. Saya pun kembali pada aktivitas semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dorong-dorong troli ke kanan dan kiri. Berharap masa penantian delapan jam segera saya lalui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-4155790014562482765?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/4155790014562482765/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=4155790014562482765&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/4155790014562482765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/4155790014562482765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/01/supakan-ariya.html' title='Supakan Ariya'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R5odjvY0WPI/AAAAAAAAAGQ/4YIaNZOg4xQ/s72-c/mam%40suvarnabhumi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-8080256356572303806</id><published>2008-01-24T07:22:00.001-08:00</published><updated>2008-11-13T15:53:59.206-08:00</updated><title type='text'>Lisensi Mengemudi</title><content type='html'>&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5159065160458197202" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R5iubfY0WNI/AAAAAAAAAGA/EGPVpCsDAD4/s320/28.jpg" border="0" /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Penunjuk waktu digital di dashboard Isuzu D Max berkelir perak yang saya kendarai menunjukkan sudah 30 menit lewat dari jam empat pagi. Pagi buta itu saya sedang dalam perjalanan dari Provinsi Nakhon Ratchasima (Korat) ke Provinsi Chonburi, Thailand. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pattaya yang terkenal dengan wisata pantai, apalagi hiburan di malam harinya, adalah titik yang mau saya sambangi di Provinsi Chonburi itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Di tengah lamat-lamat suara yang keluar dari sistem audio terintegrasi dengan nyanyian artis Thailand yang nyerempet-nyerempet &lt;em&gt;cempreng&lt;/em&gt; dalam ukuran saya, tiba-tiba kampas rem mobil bongsor berkapasitas mesin diesel 2.500 cc itu mesti rela saya siksa. Berdecit, karena tanpa dinyana ada sepasukan polisi lalu lintas dalam temaram cahaya, dua di antaranya bawa senjata laras panjang, yang lagi merazia tiap-tiap pengemudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berkali-kali pengalaman kena razia polisi di malam atau pagi buta, baru kali ini jantung saya &lt;em&gt;gondal gandul&lt;/em&gt; luar biasa. Bukannya kenapa-kenapa, karena memang baru kali ini secara nekat saya sopiri kendaraan tanpa punya lisensi resmi internasional buat mengemudikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang hidup, saya baru punya lisensi mengemudi dengan huruf kapital A dan C di pojok kanan atas. Dua-duanya saya bikin di Sidoarjo. Tempat saya, istri, dan anak saya tinggal selama dua tahun terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan yang membawa konsekuensi seluruh dokumen resmi yang menyatakan identitas kepunyaan saya harus berubah, dari yang semula berlogo monumen nasional di Jakarta menjadi tanda tangan beberap pejabat di Kabupaten Sidoarjo. Termasuk lisensi buat mengemudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri belum pernah sempat punya lisensi mengemudi yang diakui di berbagai negara. Tak ada secuilpun dokumen izin yang mengamini kelakuan nekat saya mengemudi mobil bak terbuka berkabin ganda di pagi buta itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, jantung saya makin &lt;em&gt;gondal gandul&lt;/em&gt; luar biasa. Setelah dicegat razia tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okelah, sebelumnya saya perlu cerita dulu latar belakang kelakuan nekat saya itu. Sama sekali bukan upaya saya untuk bela diri. Semata-mata hanya usaha buat mengajak kita semua melihat seluruh soal dan peristiwa dari aneka sudut saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Aot Samrid, pemilik Isuzu D Max yang punya kantung udara SRS ganda buat mencegah pengemudi dan penumpang depan cedera parah jika terjadi benturan frontal itu, yang jadi alasan saya nekat. Pria paruh baya yang lebih saya akrabi dengan panggilan Sam itu menyewakan mobilnya untuk dipakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharian penuh di hari sebelum pagi buta itu, Sam menyopiri saya dan teman-teman saya, yang membayari biaya sewa mobil itu karena sejatinya saya tidak mengeluarkan sepeserpun uang untuk biaya sewanya, kesana kemari mengelilingi Korat. Pagi-pagi buta itu, Sam sempat pula menyopiri kami lagi dengan rute Korat-Pattaya dengan waktu tempuh rata-rata lima jam yang belum diakrabinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama hampir satu jam Sam pegang kendali di balik kemudi. Selama itu pula saya yang duduk di kabin belakang, karena kursi penumpang depan diisi kawan saya yeng terlelap, cemas dan sedikit waswas. Sebagai manusia juga, saya tahu persis bahwa Sam pasti sangat letih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caranya mempertahankan kesadaran dengan perlahan mengikuti nyanyian artis Thailand yang nyerempet-nyerempet &lt;em&gt;cempreng&lt;/em&gt; dalam ukuran saya, dari sistem audio yang terintegrasi makin membikin saya yakin. Sam sedang diserang kantuk.&lt;br /&gt;Kawan saya yang duduk di sebelah adalah orang yang pertama-tama mengambil alih lingkar kemudi. Tak sampai lima menit, ia meminggirkan lagi mobil rakyat dengan fasilitas ABS dan EDB terintergrasi itu. Disebut mobil rakyat karena di Thailand mobil jenis ini dikenai tarif pajak lebih murah dan harga bahan bakar yang lebih murah dibandingkan jenis mobil lain semisal sedan atau minibus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya kawan saya mengalami keletihan serupa. Jadilah ia dan saya bertukar tempat duduk. Setelah yakin sabuk pengaman terkunci rapi, pedal gas pun langsung saya bejek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan di atas aspal mulus dengan bidang jalan sangat lebar itu saya sangat terbantu oleh tata lampu mobil diesel senyap yang pakai sistem proyektor bernama “ellipsoid” itu. Fungsinya untuk meningkatkan daya terang dan meningkatkan jarak pandang pengemudi untuk obyek-obyek yang jauh sungguh berguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk ketika tiba-tiba saya menangkap sosok petugas-petugas berseragam di pagi buta tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada sesi pemeriksaan bernama razia tadi. Seorang petugas langsung menghampiri kaca jendela sebelah kanan tempat pengemudi, karena Thailand juga pakai sistem lalu lintas dengan kemudi di kanan yang serupa Indonesia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petugas itu menghampiri saya, saya yang kemudian dengan kikuk menekan tombol pembuka kaca elektris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muka saya tegang. Seperti biasa, pada situasi model-model begini, telapak tangan dan kaki saya langsung dibasahi keringat. Sebuah akibat langsung perintah dari miliaran sel otak lewat yang sukses menghantarkan pesan “bahaya” lewat jaringan &lt;em&gt;dendrite&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;axon&lt;/em&gt;, setelah sebelumnya menerima informasi yang masuk dari lima indera saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara ini saya merasa tidak punya indera keenam, jadinya semua respon saya selama ini &lt;em&gt;ya&lt;/em&gt; pasti diproses setelah info dari lima indera itu diterima miliaran&lt;em&gt; neuron&lt;/em&gt; di kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam terjaga dari istirahatnya. Dalam bahasa Thai, dia menjelaskan kalau saya dan rekan-rekan kerja saya sedang dalam tugas resmi. Sebuah acara olahraga setingkat Asia Tenggara yang kami semua harus menginformasikannya pada orang-orang di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soalnya Indonesia kan bagian dari Asia Tenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetap saja, petugas itu minta lisensi mengemudi saya. Walaupun tak sampai menggertak, saya tahu dia sedikit memaksa. Jadilah saya buka pintu dan merogoh kantung belakang sebelah kanan celana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai disitu saya tiba-tiba teringat cerita sahabat saya sedari SMA. Ia cerita, kalau temannya pernah “lolos” dari razia serupa itu di sebuah negara, hanya dengan menunjukkan surat izin mengemudi (SIM) dari Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi upaya “gila” itu mensyaratkan penggunaan SIM dengan aksara C di pojok kanannya. Artinya hanya SIM untuk mengendarai motor di Indonesia yang bisa dipergunakan. Semuanya sambil dilengkapi kalimat “C is for car.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang kira-kira, secara nekat saya coba. Maka, di bawah temaram cahaya saya keluarkan SIM C &lt;em&gt;made in&lt;/em&gt; Sidoarjo itu. Sambil saya katakan “mantra” sakti tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIM C saya segera berpindah tangan. Petugas berbadan tegap itu membawa lisensi mengemudi seukuran kartu kredit berbahan plastik tadi ke depan lampu mobil. Sambil dibolak-balik, ia bertanya dalam tata bahasa pergaulan internasional yang patah-patah, “international license?” Begitulah petugas beraut muka tegas itu bertanya kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan semangat membara, saya jawab dengan satu kata saja “yes.” Tentu sambil saya ulangi hingga beberapa kali “mantra” nan sakti tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dibolak-balik lagi selama beberapa kali, lisensi mengemudi yang saya bikin di Sidoarjo itu kembali berpindah tangan. Petugas berbadan tegap itu dengan beberapa kali kata “ok” yang keluar dari mulutnya, mempersilahkan saya untuk kembali meneruskan perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIM C &lt;em&gt;made in&lt;/em&gt; Sidoarjo itu pun kembali lagi ke salah satu ruang di dalam dompet kulit halus pemberian istri saya. Lingkar kemudi saya akrabi lagi. Tak banyak yang bisa saya katakan, selain sedikit &lt;em&gt;cekikikan &lt;/em&gt;sambil kembali menekan perlahan pedal gas supaya perjalanan bisa diteruskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi bukan upaya bela diri jika saya tulis kisah ini. Sebetulnya saya pun &lt;em&gt;kepingin&lt;/em&gt; meminta maaf kepada petugas-petugas tadi jika bertemu kembali, yang bisa saja dihukum atasannya karena kenekatan saya, pada kisah tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pikiran panjang soal kemungkinan gangguan pada keselamatan yang lebih jadi kepedulian saya. Bahwa, keputusan radikal yang kadang menuntut kenekatan memang mesti diambil. Tepat jam tujuh pagi, kami berempat sampai di gerbang Pattaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-8080256356572303806?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/8080256356572303806/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=8080256356572303806&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/8080256356572303806'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/8080256356572303806'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/01/lisensi-mengemudi.html' title='Lisensi Mengemudi'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R5iubfY0WNI/AAAAAAAAAGA/EGPVpCsDAD4/s72-c/28.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-3593370949227708279</id><published>2008-01-11T07:54:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T15:53:59.301-08:00</updated><title type='text'>orang kaya bodoh</title><content type='html'>&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5154255455129057698" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R4eYByyWOaI/AAAAAAAAAF4/HCIOYueh4MI/s320/27.jpg" border="0" /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Percayakah anda jika saya katakan sebagian besar orang kaya di Indonesia tidak cerdas. Banyak OKB alias “orang kaya bodoh.” &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Artinya, proses mereka menjadi kaya dan punya banyak harta tidak mengandalkan pada pemahaman utuh soal ilmu pengetahuan. Bolehlah jika di antara mereka banyak pula yang berpendidikan tinggi. Tapi soal pemahaman dari kandungan filosofi berbagai ilmu yang dipelajari, sungguh nihil sekali.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tentu saya tidak sedang asal bicara. Mari sama-sama lihat contohnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Wuussss. Satu unit Bayerische Motoren Werke (BMW) seri tiga yang punya garis desain sportif kuat keluaran terbaru, mengasapi muka saya pada suatu sore. Mobil bikinan Jerman yang seringkali dipelesetkan kepanjangannya sebagai Bring More Women itu melesat beribawa melewati sepeda motor yang saya kendarai.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tertarik lekukan bodi barunya yang lebih aduhai ketimbang keluaran tahun sebelumnya, saya mencoba mendekat. Hanya berhasil merapat selama beberapa detik, saya dikejutkan ulah penumpangnya yang tiba-tiba membuka jendela kacanya yang digerakkan secara elektronik.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Mekanisme elektronis produk-produk mobil BMW yang namanya diresmikan pertama kali pada 1917 oleh Gustav Otto dan Karl Rapp itu terbilang rumit. Lanjutannya terbawa pada harga suku cadang dan biaya perbaikan yang membubung. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Bisa saja sih &lt;em&gt;bi-em&lt;/em&gt; tadi diserahkan pada sejumlah pebengkel tanpa lisensi. Namun garansi pabrik bisa langsung gugur, dengan kemungkinan besar kerusakan awal tadi merembet jauh kepada mekanisme lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Balik lagi ke BMW seri tiga keluaran anyar yang tiba-tiba wuusss di depan saya tadi. Selagi setengah kaca jendelanya terbuka, tanpa saya duga ada “wuusss” kedua hampir mampir ke muka saya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Mau marah, kaca jendela tadi buru-buru tertutup lagi. Mau diam saja ya gondok alang kepalang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak, jika “wusss” kedua yang dilempar lewat kaca jendela tadi berupa sampah anorganik. Serupa plastik, karena saya pun tak yakin itu plastik. Kesal. Tentu saja rasa itu buru-buru membuncah di dada.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Padahal slogan BMW sempat dikumandangkan bekas gubernur Betawi, Wiyogo Atmodarminto. Supaya warganya makin Bersih, Manusiawi, berWibawa. Sayangnya kali ini, slogan BMW itu kabur cepat dibawa BMW seri tiga keluaran baru yang saya tak yakin warna catnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita mirip-mirip begini saya alami berkali-kali. Kadang-kadang saya tidak sedang diasapi BMW ketika itu terjadi. Bisa jadi yang melakukannya pengendara atau penumpang berbagai rupa SUV aneka merek yang masuk kelas premium.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Modusnya sama. Jenis sampahnya berupa-rupa. Mulai kulit pisang hingga puntung rokok.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tapi semua pelakunya punya kesamaan. Sama-sama bodoh.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kali lain saya temukan banyak sekali selokan tergenang hebat. Aneka sampah menumpuk disana.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya saluran buangan air kotor itu termangu malas di depan jejeran rumah-rumah megah. Kalau saya punya uang seratus juta rupiah pun, dan nekat menebus satu unit saja dari jejeran rumah disitu, niscaya anjing penjaga rupa-rupa jenis seperti &lt;em&gt;terrier, hound,&lt;/em&gt; hingga &lt;em&gt;doberman&lt;/em&gt; adalah yang paling pertama memburu saya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Ah, inilah lagi potret gagal soal pemahaman pendidikan yang belum bulat. Jadi lingkaran setan, karena banyak pula yang belum berpendidikan punya anggapan utuh kalau pendidikan tadi tak bisa mengangkat nasib.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilihat kebanyakan memang jejeran orang kaya bodoh yang seenak perutnya memamerkan hartanya, dan mempertontonkan kedunguannya. Jadilah persepsi itu tak lekang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tak usah jadi pintar dan memahami ilmu kalau hanya ingin kaya. Cari jalan pintas saja. Buang saja sampah itu sembarangan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Banjir? Kan ada bantuan dari pemerintah. Pemerintah pun setali tiga uang pemahamannya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Banjir? Kan berarti ada proyek. Kalau mendidik banyak orang supaya mereka pintar dan punya pemahaman utuh terhadap ilmu? Tunggu dulu. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Bisa dijadikan proyek tidak? Ada untungnya &lt;em&gt;nggak&lt;/em&gt;? &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kalo &lt;em&gt;nggak &lt;/em&gt;ya jangan deh. Ntar kalau tambah banyak orang yang pintar dan paham ilmu, susah dong &lt;em&gt;ngadalin&lt;/em&gt; orang-orang itu lagi. Nggak bisa dong “serangan fajar” lagi kalau pas hajatan politik digelar.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Ah BMW, kini banyak pula di antara badut-badut itu yang menumpang kenyamanan padamu. Padahal kau lebih nikmat dikemudikan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;yah, apa saya bilang &lt;em&gt;kan&lt;/em&gt;. memang bodoh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-3593370949227708279?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/3593370949227708279/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=3593370949227708279&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/3593370949227708279'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/3593370949227708279'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2008/01/orang-kaya-bodoh.html' title='orang kaya bodoh'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R4eYByyWOaI/AAAAAAAAAF4/HCIOYueh4MI/s72-c/27.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-6786515568244391</id><published>2007-12-06T08:11:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T15:53:59.490-08:00</updated><title type='text'>Persaingan Ikan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140897024676925010" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R1gimza7DlI/AAAAAAAAAFw/pZLqBjUZBn0/s320/26.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Departemen Kelautan dan Perikanan RI akan memberlakukan blanko surat izin penangkapan ikan (SIPI) baru pada 2008. Dengan alasan SIPI lama mudah ditiru karena hanya seberkas dokumen kertas, Perum Percetakan Uang Republik Indonesia atau Peruri pun dilibatkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Tujuannya apalagi kalau bukan menihilkan upaya pemalsuan SIPI lama. Teknologi cetak hologram dan tanda air (watermark) yang sudah dikuasai Perum Peruri jadi jaminan sulitnya SIPI baru dipalsukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIPI perlu sebagai identitas bagi pengusaha penangkap ikan ataupun nelayan. Di dalamnya ada aturan soal pelabuahn pangkalan, pelabuhan muat atau singgah, dan daerah tangkapan yang diperbolehkan bagi setiap pemegang SIPI dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bukan itu kekhawatiran Subatin (43), nelayan pemilik kapal tangkap bermotor "Jaka Umbara"_berkapasitas 12 ton yang saya temui selagi beroperasi di Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong, Kecamatan Paciran, Lamongan, Jatim. Bukan soal cerita kalau "pencuri selalu lebih maju dari jagoannya," karena Subatin juga belum mafhum soal rencana penerbitan SIPI baru tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, Subatin lebih khawatir soal masuknya nelayan-nelayan yang semestinya tidak beroperasi di Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong itu. Kata Subatin, sejumlah nelayan yang semestinya mendaratkan ikan di pelabuhan Perikanan Pantai, Muncar, Banyuwangi, Bali, dan Madura juga kerap datang ke Brondong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itulah repotnya. Mereka kerap menjatuhkan harga ikan disini," kata Subatin yang juga biasa beroperasi hingga ke Pulau Masalembo, di ujung Paparan Sunda yang wilayah di sekitarnya punya julukan “Segitiga Bermuda Indonesia,” dengan kapalnya yang bermesin Yanmar berkapasitas 300 PK (paardekracht, daya kuda) itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar pengingat, wilayah  di sekitaran Pulau Masalembo kerap disorot tajam gara-gara aneka rupa kasus kecelakaan transportasi laut dan udara yang kerap terjadi. Pesawat Boeing 737-400 AdamAir KI 574 dengan registrasi PK-KKW jurusan Jakarta-Surabaya-Manado yang 102 penumpang dan awaknya dinyatakan hilang tak berbekas pada pembuka tahun 2007 ini, tercatat sudah hilang kontak saat berada di atas perairan Masalembo. Begitu juga dengan kecelakaan KM Senopati Nusantara dan KM Tampomas yang terjadi di wilayah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada Subatin yang tampak cuek bebek dengan segala ihwal fenomena misterius di sekitaran wilayah laut yang jadi jalur pelayarannya, ia menyebutkan bahwa “persaingan” antara ikan-ikan yang didapatkan para nelayan di Brondong dengan nelayan-nelayan lain yang semestinya tidak mendaratkan ikan di tempat itu memang sedemikian tajam. “Untunglah, sampai hari ini kami belum pernah berkonflik,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, potensi api konflik itu tetaplah ada. Karena selain kapal antar pulau, terdapat pula sekitar 2.000 kapal nelayan di wilayah Brondong dan 2.000 kapal lainnya yang masuk wilayah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu ini belum menghitung kapal-kapal penangkap ikan besar yang biasanya memanfaatkan lampu merkuri di malam hari untuk memancing ikan-ikan dari berbagai jenis dan umur untuk naik ke permukaan. Metode yang menihilkan unsur “pembinaan prestasi” karena bibit-bibit ikan muda-mudi juga terpaksa ikut terjaring dan mati tadi banyak jadi favorit pengusaha ikan tangkap yang ingin segera untung besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena melibatkan modal lumayan besar, tak banyak nelayan mampu mengejarnya. Kebanyakan nelayan yang kecil-kecil seringkali harus gigit jari gara-gara kapal-kapal besar dengan jumawa merkurinya merampas terjang ikan-ikan di perairan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapal yang dimiliki Subatin termasuk kategori kapal penangkap ikan antar pulau yang jumlahnya di seluruh Brondong hanya 72 unit di antara ribuan kapal penangkap ikan lainnya yang tidak punya "trayek" antar pulau.  "Tahun lalu jumlahnya masih 100 unit. Tetapi karena tekanan harga dan kenaikan bahan bakar sekarang turun," papar Subatin yang juga sebagai Sekretaris Paguyuban Nelayan Gendong (antar pulau) itu tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, paguyuban itu pun belum mampu membendung masuknya nelayan-nelayan dari luar daerah yang disebutkan tadi. Subatin menyebutkan, peran paguyuban yang didirikan sejak 10 tahun lalu itu hanya sekedar tempat menjalin kekompakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Misalnya ketika saya di Pulau Masalembo kehabisan uang, maka teman-teman dari paguyuban bisa meminjamkan dulu, begitu sebaliknya," papar Subatin yang baru saja tiba usai melaut bersama 12 anak buah kapalnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsentrasi terbesar paguyuban itu memang baru sebatas pemenuhan kebutuhan finansial sesama anggota dengan mengandalkan satu rasa satu itu tadi dan belum menyentuh urusan kebijakan. Paling mentok, paguyuban itu menyediakan jaminan kesehatan bagi ABK yang sakit, yang uangnya ditanggung bersama hasil iuran Rp 20 ribu setiap kapal yang mengambil balok es untuk melaut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak, jika untuk sekali melaut dengan durasi sekitar lima hari, Rp 14,5 juta mesti dipasrahkan sebagai biaya operasional. Di dalamnya termasuk biaya solar sekitar 500 liter untuk menempuh 340 mil laut jarak pergi pulang dari Brondong-Pulau Masalembo-Brondong, biaya makan, es balok, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Pengeluaran untuk kapal seharga Rp 100 juta jadi sepadan jika hasil pembelian dari tengkulak mampu menutupi biaya operasional. Jika tidak, maka sistem bagi hasil yang diterapkan bersama ABK kemungkinan besar tiak banyak manfaatnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supari, tengkulak yang sedang membongkar muatan Kapal Motor Mahardhika yang baru saja mencari ikan di sekitar di sekitar Pulau Mamburit, Kalimantan Selatan mengatakan jika satu kilogram ikan tongkol saat ini dibelinya seharga Rp 4.000 dari para penangkap ikan. “Nanti mungkin lakunya bisa sekitar Rp 7000,” katanya soal harga yang bisa didapatnya dari hasil pelelangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa menutup biaya dan untung jika harga bagus dan tangkapan banyak. Kalau tidak, ya rugi lah,” kata Subatin demi harapan tangkapan melimpah dan harga sempurna. Sembari membatin dalam hati, Subatin kemungkinan besar terus berharap persaingan tak sehat antar nelayan bisa dihindari, dan ikan-ikan yang dicari tetap lestari.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3479263742152345305-6786515568244391?l=ingkirinaldi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/feeds/6786515568244391/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3479263742152345305&amp;postID=6786515568244391&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/6786515568244391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3479263742152345305/posts/default/6786515568244391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ingkirinaldi.blogspot.com/2007/12/persaingan-ikan.html' title='Persaingan Ikan'/><author><name>ingki-rinaldi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03179126870666347076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DKJXWbghI6c/SD7opIOVWcI/AAAAAAAAAOY/2fXTBKCsWjk/S220/Picture+2810.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R1gimza7DlI/AAAAAAAAAFw/pZLqBjUZBn0/s72-c/26.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3479263742152345305.post-1082185374199182322</id><published>2007-12-05T07:30:00.000-08:00</published><updated>2010-01-15T10:29:08.572-08:00</updated><title type='text'>Pesantren (Harusnya Dianggap) Keren</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140512822672428610" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DKJXWbghI6c/R1bFLTa7DkI/AAAAAAAAAFo/0ynFYJ2eDys/s320/20070809INK5.jpg" border="0" /&gt;Almarhum KH Hasyim Asy’ari belajar silat sekitar delapan bulan pada masa-masa awal pendirian Pondok Pesantren (PP) Tebuireng. Gurunya adalah Kyai Saleh Benda, Kyai Abdullah Pangurangan, Kyai Syamsuri Wanatara, Kyai Abdul Jamil Buntet, dan Kyai Saleh Benda Kerep dari Cirebon. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Bukan tanpa alasan, karena Dusun Tebuireng masa itu adalah sarang perjudian, pelacuran, perampokan, dan banyak perbuatan jahat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi perlu, karena santri-santri awal KH Hasyim Asy’ari yang tak kurang dari 28 orang, kerap harus menghadapi ancaman serangan celurit dan pedang yang bisa saja menghujam bacok di malam buta ke dinding anyaman bambu bekas warung pelacuran yang dibeli KH Hasyim Asy’ari sebagai cikal bakal pondokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dirasa cukup, salah satu pahlawan nasional ini pun percaya diri melakukan ronda sendirian demi menjaga keselamatan santrinya. Aneka cobaan dilalui dan sedikit banyak ilmu kanuragan yang dituntut KH Hasyim Asy’ari, atas izin Allah SWT, membantunya mengatasi aneka gangguan jahat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah awal PP Tebuireng yang berhasil gemilang mengubah kawasan yang dalam persepsi banyak orang adalah “sampah” itu terus lestari hingga kini, dalam usianya yang ke-108 tahun pada 5 Agustus lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu saya bertemu KH Irvan Yusuf, mantan Sekretaris Pondok Pesantren (PP) Tebuireng, Jombang. Gus Irvan yang juga putra almarhum KH Yusuf Hasyim (pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng 1965-2006) itu sejak awal diskusi sudah menekankan, kalau pesantren semestinya jangan diperlakukan seperti bengkel mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun sejarah awal pendirian memang berhasil mengubah sesuatu wilayah yang dianggap nista jadi mutiara. Gus Irvan yang juga cucu KH Hasyim Asy’ari. itu bereaksi saat saya tanya persepsi sebagian orang tua kini sebelumn mendaftarkan anaknya ke pesantren, yang kira-kira mirip ilustrasi bengkel mobil tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada satu sisi itu bagus, karena menganggap pesantren sebagai lembaga pembina
